PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
144. Keselek


Cyra meraba kasur atas kepalanya dengan mata terpejam saat ponselnya berdering. Tubuhnya masih berguling nyaman. Matahari sudah menyingsing ke atas, namun gadis cantik itu masih bergumul dengan selimut.


Benar apa kata Andini, bagaimana Cyra akan menjadi seorang istri Zaki jika bangun pagi saja tidak bisa.


Keseringan yang bangunin mamanya, atau alarm jam wekker, minimal Bik Mey. Cyra masih meraba kasur atas kepala sambil menguap, mencari-cari sumber suara. Saat sudah menemukan benda tersebut, ia langsung menempelkan ke pipi meski mata masih asik terpejam. Entah siapa yang meneleponnya.


“Hmm... Halo...” Suara Cyra tidak begitu jelas akibat kantuk yang terasa berat.


“Buset, gimana kamu mau cepet kawin sama aku kalo jam segini aja masih ngebo! Cepat bangun atau kuseret turun ke bawah!”


Cyra tergagap dan matanya langsung terbelalak lebar. Suara si ganteng. Zakiiii... Cyra tidak perlu melihat nama penelepon, ia sangat mengenal suara bariton yang judes itu. sudah jadi kekasih pun masih aja galak.


“Siapa bilang aku masih tidur? Aku udah bangun, kok.” Cyra ngeles. “Kalo belum bangun mana mungkin bisa jawab telepon.”


“Kalo kamu udah bangun, mana mungkin suaramu kayak rempeyek digiles truk gitu,” ketus Zaki.


“Memangnya ada apa pagi-pagi gini nelepon? Kangen?”


“Ra, mendingan buruan turun! Sarapan sini!” Itu bukan suara Zaki, melainkan suara Andini.


Lhooo... Kok, mama bisa ada di samping Zaki? Cyra mengernyit heran.


“Hape-nya aku loudspeaker-in,” ucap Zaki.


Cyra menggigit bibir bawah, berarti mamanya mendengar kata-katanya yang bilang kangen sama Zaki. Waduuuh... malu oei. Eit tunggu, kok Zaki bisa berdekatan dengan mama? Apa Zaki sekarang ada di rumah?


Cyra ingin menanyakan banyak hal, tapi ingat Zaki menekan loudspeaker, ia menahan semua pertanyaannya itu. Ia kemudian memutus sambungan telepon dan bergegas ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya alias mandi.


Tepat dugaannya, saat Cyra memasuki ruang makan, ia langsung mendapati Zaki yang tengah duduk manis di salah satu kursi meja makan. Di depannya ada Andini yang tampak sibuk meletakkan sandwich ke piring.


“Sini, Cyra! Kita sarapan bareng. Mumpung ada Zaki juga di sini,” ajak Andini menatap Cyra yang malah terbengong di ambang pintu.


Cyra menatap Zaki yang dengan santainya mengambil garpu dan memotong sandwich dengan pisau. Cyar mendekati meja menatap tiga piring yang masing-masing berisi sepootong sandwich. Satu piring adalah milik Zaki, satunya lagi milik mamanya, dan yang satu lagi ganggur.


Cyra duduk di depan piring yang nganggur, tepat di sisi Zaki. Manik matanya berkeliling mencari sesuatu, seperti ada yang kurang di meja makan itu. “Papa mana, Ma?”


“Udah berangkat kerja. Ayo, dimakan tuh entar keburu dingin.”


“He’em.” Cyra mengangguk dan mulai menggigit sandwich.”


“Zaki dateng ke sini mau bantuin kamu susun skripsi katanya,” ujar Andini membuat senyum Cyra mengembang lebar. “Kalau kuliahmu cepet kelar kan bisa secepatnya dihalalin sama Zaki. Nggak perlu nunggu lama, ya kan? Itu makanya Zaki juga pengennya kamu cepet wisuda. Udah itu mama dapet cucu, deh.”


“Uhuk uhuk...” Cyra tersedak. Kata-kata mamanya ngena banget. Ia tertegun menatap segelas air mineral yang disodorkan ke arahnya. Zaki menjulurkan gelas tersebut sambil menaikkan satu alisnya.


Cyra menerima gelas itu dan segera meneguknya. Duuuh... Kok, rasanya seneng banget ya dikasih minum sama Zaki?


“Hati-hati kalau makan, jangan sampe keselek, entar makanannya masuk ke hidung.” Zaki mengatakannya tanpa menatap Cyra, pandangannya tertuju ke sandwich yang ia otong menggunakan pisau.


Yaelah... Ini keselek juga gara-gara kamu, Zaki. Coba aja mama nggak ngebahas kamu, pasti juga nggak bakalan keselek. Cyra menggumam.


TBC