
Sesuai janjiku mau update banyak, hari ini aku update 6 part sekaligus karena Pacarku Dosen masuk ranking 6. Tapi ingat, klik like di setiap part biar aku makin semangat ngetik.
***
Sepanjang perjalanan, di atas motor yang melaju dengan terpaan angin dan hujan deras, pikiran Cyra berkecamuk tak tentu arah. Ia tidak tahu harus bagaimana membayangkan kondisi Zaki seperti yang diceritakan Faiz. Dadanya sakit, seperti sesak dipenuhi oleh suatu tekanan. Air matanya berbaur dengan siraman hujan yang membasuh wajahnya.
Andai saja Cyra yang memangku tubuh Zaki, entah apa yang ia rasakan saat itu. Mungkin dia akan menangis histeris, atau memeluk erat tubuh Zaki, atau mungkin malah terisak tanpa bisa melakukan apapun.
“Iz, cepetan!” seru Cyra seraya mengusap air hujan di wajahnya supaya pandangan matanya sedikit terang.
“Iya, ini udah cepet!” Faiz menambah kelajuan motornya.
Cyra memegangi ujung baju Faiz, takut kejungkang kalau-kalau situasi tidak terkendali. Seandainya dalam keadaan normal, Cyra pasti sudah jantungan merasakan kelajuan motor yang tak pernah selama ini ia rasakan. Tapi ini situasinya berbeda, bahkan tingkat kelajuan yang di atas normal tak lantas membuatnya merasa deg-degan. Iajustru merasa motor itu bergerak sangat lamban.
“Iz, Pak Zaki masih bernafas, kan?” Cyra tak kuasa menahan pertanyaan itu sejak tadi.
“Gue nggak tahu. Yang jelas mukanya udah pucet banget.”
Jantung Cyra kian tak nyaman. Tangisnya pun menjadi-jadi. Terisak-isak.
“Berdoa aja semoga Pak Zaki matinya nggak sekarang.” Faiz berseru sambil menoleh ke belakang agar suaranya yang terbawa angin, terdengar oleh Cyra.
“Jangan ngomong sembarangan! Bisa nggak lo jaga bicaranya!” Cyra kesal bukan main. Mendengar kata mati, hatinya tak kuasa.
“Apa gue salah ngomong? Kan nggak salah sih. Lo itu mana bisa protes kalo udah menyangkut urusan mati. Takdir kan nggak bisa dielak.”
Cyra malas berdebat. Ia memilih diam. Pikirannya semakin kalut sekarang. Faiz bukannya menenangkannya, tapi malah menakut-nakutinya.
Sesampainya di rumah sakit, Cyra langsung berlari menuju meja resepsionis, menanyakan keberadaan pasien bernama Zaki Salman.
Cyra mengusap air mata yang menganak sungai dengan punggung tangannya.
“Zaki!” Suaranya bergetar saat menyebut nama itu di depan nomer pintu yang disebutkan resepsionis. Cyra meraih handle pintu dan mendorongnya hingga terbuka. Tampak seorang dokter disibukkan dengan kegiatannya yang tengah mengecek kondisi Zaki yang terbaring lemah.
Dua orang perawat terlihat panik melayani perintah dokter.
“Zaki!” seru Cyra melihat wajah Zaki yang pucat dan tak bergerak.
Semua orang di ruangan itu tampak sibuk hingga tak perduli dengan kedatangan Cyra.
“Biar dokter periksa dulu!” Seseorang menahan tubuh Cyra saat gadis itu hendak mendekati bed tempat Zaki berbaring.
“Lepasin gue!” Cyra berseru dengan air mata berlinangan.
Pria itu semakin erat melingkarkan lengannya di tubuh Cyra guna menahan supaya Cyra tidak mengganggu pekerjaan dokter.
“Bawa ke ruang operasi sekarang!” perintah dokter dan segera meninggalkan ruangan dengan terburu-buru.
Dua perawat mendorong bed yang di atasnya terbujur tubuh Zaki yang lemah tak sadarkan diri.
“Zaki!” Cyra melepaskan diri dari pegangan pria asing yang tak dikenalnya itu. Dengan sekali sikut, pria itu terpaksa melepaskan Cyra. Cyra tak perduli siapa pria yang berusaha mencegahnya itu, ia hanya sedang berpikr tentang Zaki.
“Buset, kuat banget tuh cewek. Rontok deh gigi gue. Apes!” lirih pria yang tak lain adalah Arif sambil mengelus-elus dagunya.
TBC