PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
125. Seringaian


Zaki membuka matanya saat wajahnya diguyur air. Sesaat ia gelagapan merasakan cairan yang menyelusup masuk ke lubang hidung, terasa sakit seperti menyumbat rongga pernafasan.


Zaki menggelengkan kepalanya berusaha menatap pemandangan di depan. Jarak pandang terbatas karena ruangan tempatnay berpijak itu remang-remang, pengap, bau, dan berdebu. Ia terbatuk merasakan debu yang menyeruak memasuki rongga pernafasannya. Ditatapnya dinidng yang catnya sudah mengelupas, plafon yang tripleknya sudah terlepas hingga salah satu sudut triplek menggantung menyisakan lubang separuh, lantai kotor oleh debu.


Zaki menggerakkan kedua tangannya yang terasa sakit, dan tersadar kedua tangannya kini sedang diikat kuat, disatukan ke belakang kursi yang ia duduki. Caruk lehernya terasa pegel, entah sudah berapa jam ia terpejam dengan posisi duduk dan kepala menggantung.


Kepala bagian belakangnya terasa sangat sakit sekali, nyeri dan ngilu. Kepalanya menggeleng mengingat-ingat kejadian sebelumnya.


Ia tengah mencari Cyra, dan bukan Cyra yang ia temukan di sana. Ia mengernyit menatap sosok pria yang berdiri di belakang gedung. Gedung sunyi yang sudah lama tidak dipakai dan hanya terdengar suara burung berkicau di sekitaran sana.


“Alfa?” Zaki menatap heran pada pria yang juga menatapnya itu. Sesaat kemudian Zaki merasakan matanya pedih setelah Alfa melempar serbuk ke matanya dengan gerakan sangat cepat hingga Zaki tak sempat berkelit. Detik berikutnya tubuh Zaki tumbang sesaat setelah merasakan kepala belakangnya dihantam oleh benda keras dan kemudian pandangannya gelap gulita.


Zaki mendengar langkah kaki yang bersumber dari arah belakang tempatnya duduk. Sosok itu kemudian memutari kursi yang diduduki Zaki dan kini berdiri tepat di hadapan Zaki.


Pertama Zaki menatap sepasang sepatu sport, celana jeans hitam, kaos biru yang diluarnya dilapisi kemeja kotak-kotak dengan kancing seluruhnya terbuka, dan terakhir wajah Alfa yang menatap Zaki dengan sorot dingin. Wajah di hadapan Zaki kini seperti bukan wajah Alfa yang Zaki kenal. Tatapan matanya berbeda, ekspresinya juga berbeda dari Alfa yang sering Zaki temui di kampus. Seperti ada makhluk dari dimensi lain yang merasuki tubuh pria itu.


“Bapak Zaki yang terhormat, Anda sudah bangun?” Alfa melempar ember kecil yang ia pegangi ke sembarang arah. Ia menarik kursi lain yang sudah reot ke hadapan Zaki dan duduk di sana.


Zaki sungguh tidak menyangka, mahasiswa pendiam dan patuh seperti Alfa, sanggup bertingkah seperti sekarang. Sorot mata Alfa jelas menampilkan dendam dan kebencian yang tak bisa dipendam lagi. Seringaian di sudut bibir Alfa juga lebih buas dari preman jalanan. Bagaimana bisa Alfa memperlakukan dosennya dengan perbuatan tak pantas seperti yang dia lakukan sekarang?


“Apa sebenarnya yang kau mau?” Zaki menatap seringaian di sudut bibir Alfa yang kian terlihat buas. Alfa di hadapannya kini benar-benar jauh berbeda, bahkan Zaki seperti tidak mengenal Alfa. Dia seperti memiliki kepribadian ganda.


“Anda mau tahu apa yang saya mau?” Alfa mengangkat alis. “Kematian Bapak.”


Zaki terkejut mendengar jawaban itu. Senekat itukah Alfa sampai berani mengucapkan kata kematian?


“Apa karena Cyra?” tanya Zaki.


“Jika memang Cyra tidak mencintaimu, kau tidak bisa memaksakannya.”


“Saya nggak perlu memiliki Cyra jika memang saya nggak bisa memilikinya. Saya hanya ingin melenyapkan orang yang sudah membuat saya merasakan sakit hati, malu, juga tersingkir. Saya sudah jauh lebih lama mengenal Cyra, saya yang sudah jauh lebih dekat dengannya, dan saya yang sudah lebih dulu memiliki rasa bertahun-tahun lamanya, tapi justru Anda yang memilikinya dengan mudahnya.”


Zaki melepas nafas panjang. Hanya karena sakit hati, Alfa sampai harus bersikap seganas ini. Benar apa kata orang, manusia yang diam-diam ternyata bisa menghanyutkan. Bahkan bisa lebih kejam dari orang-orang yang sering melakukan tindak kejahatan.


“Kau pikir kau adalah malaikat pencabut nyawa?”


“Ya, malaikat pencabut nyawa Anda.”


“Hanya Tuhan yang memiliki Kuasa melepaskan nyawa seseorang.”


“Sekarang Tuhan akan menghendakinya.” Alfa bangkit berdiri dengan muka memerah dan mendaratkan hantaman ke wajah Zaki bertubi-tubi. Kepalan tangan Alfa mengenai pipi Zaki kiri dan kanan. Tak puas sampai di situ, Alfa juga meninju perut Zaki berkali-kali.


Bruk!


Kursi yang diduduki Zaki tumbang bersama dengan tubuh di atasnya. Lengan kanan Zaki menghantam lantai menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa.


Alfa menendang dagu Zaki hingga wajah pria itu mendongak dan muncrat darah segar dari mulutnya.


TBC


😭😭😭