
Jantung Zalfa kembali menghentak kuat menerima tatapan mata Arkhan yang seperti sedang mengamati tubuhnya. Tapi ia merasa aman karena pakaiannya tidak akan mungkin memperlihatkan lekuk tubuhnya.
“Arkhan, jawab aku! Keluarkan aku dari sini. Seenggaknya kamu bisa ngerusak pintu ini dengan caramu.” Zalfa meminta penuh permohonan.
Namun tidak seperti yang Zalfa harapkan, Arkhan malah memalingkan muka. Ia menarik handuk dari gantungan di dalam lemari lalu berjalan menuju kamar mandi.
“Arkhan! Apa kamu nggak dengar aku?” gertak Zalfa geram.
“Duduklah dulu di mana pun kamu mau. Aku mau mandi dulu, setelah itu baru kuurus pintunya.”
“Apa kamu lupa, luka di punggungmu belum mengering. Akan butruh waktu lama untuk sembuh kalau kamu membuatnya basah.”
Arkhan menoleh saat berdiri di pintu kamar mandi, sudut bibirnya tertarik menyeringai. “Terimakasih perhatiannya. Aku nggak akan membasahi lukaku.”
Dih! Bukan maksud Zalfa perhatian, ia hanya ingin membuat Arkhan membatalkan kegiatan mandinya sehingga bisa segera membukakan pintu untuknya. Itu saja. Kenapa Arkhan malah jadi Ge Er?
“Atau… kalau kamu mencemaskan lukaku, apa kamu mau membantu menyiram tubuhku? Supaya air nggak mengenai lukaku? Kamu bisa memilih kulit mana yang bisa disiram air dan mana yang enggak.”
Zalfa memalingkan wajahnya dengan sengit. Selalu saja bahasa mesum yang digunakan Arkhan untuk mengajaknya bicara. Ya Tuhan, bisakah ia segera keluar dari ruangan menyebalkan itu? Agar secepatnya ia tak lagi menatap wajah Arkhan, yang rasanya semakin lama semakin gila.
Zalfa duduk di lantai, dekat pintu. Ia tidak sudi duduk di ranjang. Ranjang itu mengingatkannya akan perlakuan Arkhan yang gila.
Tak lama kemudian, ia menoleh saat mendengar suara pintu di sebelah kanannya dibuka, dan wajahnya langsung berpaling melihat Arkhan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang.
Arkhan melirik Zalfa dan geleng-geleng kepala. “Nggak perlu kaku, Zalfa. Kamu sudah pernah melihatku seluruhnya, kenapa harus berpaling saat begini?” Arkhan membuka lemari dan memilih pakaiannya. Ia melempar handuk ke lantai saat sudah mengenakan pakaian dalamnya. Lalu mengenakan selutuh pakaiannya tanpa sedikitpun merasa canggung.
Zalfa memunggungi Arkhan sambil terus berzikir, kedua tangannya meremas-reman ujung jilbab, jantungnya berdegup kencang. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengannya hari ini? Kenapa begitu banyak kejadian aneh dan mengerikan? Baginya, melihat orang berkelahi, tertembak, atau kecelakaan adalah sangat mengerikan. Tapi jauh lebih mengerikan saat harus berada di dekat pria yang bukan mahrom tidak mengenakan pakaian. Hidupnya yang selama ini sangat taat pada agama, tentu tidak pernah dekat dengan hal-hal negatif.
“Ini adalah rumahku, dan Reza yang menempatinya. Dia yang membawa semua kunci-kunci rumah ini. Kecuali kunci pintu depan, aku juga punya.” Arkhan berbicara panjang lebar dan Zalfa tidak menoleh ke arah Arkhan.
Kulit Zalfa merinding mendengar suara Arkhan, teringat saat bibir pria itu bergerak-gerak di pipinya dan bicara banyak hal. Menyebalkan!
Zalfa menoleh saat mendengar suara knop pintu diputar, Arkhan sudah selesai mengenakan pakaian dan kini berdiri di depan pintu, terlihat sedang berpikir cara membuka pintu. Tangannya memegangi knop.
TBC