PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
43. Siapa Pelakunya


“Aduh!” Zaki mengelak, menjauhkan wajahnya dari tangan Cyra yang mengolesi luka di wajahnya dengan obat.


“Sorry, sakit, ya?”


“Enggak, enak banget malah,” sindir Zaki menatap tangan mungil Cyra yang memegangi kapas diolesi obat. “Ra, kamu tuh ngolesinnya kuat banget. Kebiasaan ninju apa gimana? Cewek tuh kaleman dikit ngapa?”


“Maaf.” Cyra prihatin menatap wajah Zaki yang lebam-lebam. Pipinya kini terlihat semakin membiru. Sudut bibirnya pecah dan masih terus mengeluarkan darah segar. Di dekat sudut mata juga bengkak.


Cyra kembali mengaplikasikan obat ke wajah Zaki, kali ini gerakannya lebih lembut.


“Aw.. Aaakh…” Zaki merintih, sangat pedih dan nyeri sekali saat tersentuh obat.


“Zak, jangan teriak-teriak kayak gitu, dong. Entar kalau orang denger dari luar, dikira kita lagi nganu-nganu lagi, ah ih uh mulu dari tadi.” Cyra berhenti memoles obat.


Zaki mengulas senyum. Cyra bisa aja. “Sakit, Ra. Rasanya badan gue remuk. Ini muka juga kebas banget. Belur gini gimana nggak aduh aduh.”


“Ya kamu kan cowok, harus kuat.”


Lagi, Zaki tersenyum. “Ini gara-gara kamu yang ngobatin makanya aku sok kesakitan, kalau orang lain yang ngobatin, aku juga nggak bakalan lebay gini,” celetuk Zaki membuat Cyra tergelak.


Mereka kini sedang berada di rumah Zaki. Cyra duduk di lantai, sedangkan Zaki berbaring di sofa.


“Ngomong-ngomong, orang-orang yang pada ngeroyok kamu itu siapa, ya?” Cyra mengernyit penasaran. Mengingat-ingat wajah pria bergigi maju yang sempat ia lihat. “Aku sempet buka helm salah satu orang itu, tapi aku nggak kenal siapa dia.”


“Siapa pun mereka, aku yakin mereka adalah orang-orang yang nggak suka sama aku.”


“Tapi kan kamu nggak punya musuh.”


“Apa mungkin itu ulahnya si Faiz?” tebak Cyra.


Zaki bangkit bangun, lalu menuang air mineral dari teko kaca ke gelas dan meneguknya.


“Aku yakin pasti Faiz, siapa lagi kalau bukan dia. Nggak mungkin nyokap gue kan?” imbuh Cyra berapi-api.


“Kamu yakin? Kalau ternyata bukan dia gimana? Berarti kamu nuduh, dong.”


“Sejak awal dia dendam banget sama kamu setelah masalah di kampus waktu itu. Kamu kan pernah mukul dia. Mungkin dia pengen ngebales pukulanmu itu.”


“Itu kan tuduhanmu aja.” Zaki mengacak rambut Cyra sekali usap. Meski sesunguhnya Zaki juga mencurigai Faiz, namun ia tidak mau mengutarakan apa yang ada dalam benaknya. Semua belum terbukti. Tak pantas ia menuduh Faiz.


Cyra menggenggam erat ujung bajunya mengingat aksi kekerasan yang dilakukan di depan matanya, membuatnya ingin mencekik pelakunya. Ya ampun, Cyra benar-benar geram. Tak tega saat melihat Zaki tersungkur dan erutnya ditendang, punggungnya dipukul, lenganya juga ditendang, Zaki dihajar habis-habisan oleh orang-orang tak dikenalnya itu. Orang-orang yang beraninya hanya bersembunyi di balik helm.


Cyra pindah posisi duduk, ia menghempaskan tubuh di sofa sisi Zaki. “Badanmu sakit-sakit ys? Perlu dibawa ke dokter nggak?”


“Nggak usah. aku masih bisa atasi,” ucap Zaki meski sesungguhnya seluruh tubuhnya terasa ngilu, nyeri, remuk, dan sakit. Terutama di bagian perut dan punggung. Sebenarnya Zaki ingin segera merebahkan tubuh dan tidur di ranjang, tapi setidaknya ia menghargai keberadaan Cyra yang menemaninya.


Cyra menjatuhkan kepalanya di pundak Zaki. Zaki menoleh menatap kepala yang ada di pundaknya. Pria itu menyatukan jari-jarinya disela jari-jari Cyra.


“Aku sayang sama kamu, Zaki.”


Zaki mengulas senyum mendengar suara lirih Cyra yang lebih terdengar seperti bisikan. Kemudian pria itu mengecup puncak kepala Cyra.


TBC