
Pagi itu Zalfa sedang sibuk mengurus kafe. Ia ingin melupakan kejadian semalam dengan menyibukkan diri di kafe. Ada banyak rasa yang membuat batinnya berkecamuk, setelah Arkhan bersikap cuek dan tidak memperdulikannya, ditambah lagi harus mengatakan berpisah pada Faisal. Lengkap sudah kegalauannya.
Zalfa sedang menghitung uang kembalian ketika ponselnya di dalam tas berdering dan ia tidak menyadarinya. Tiga kali benda itu berdering, Zalfa masih sibuk dengan pekerjaannya melayani pengunjung bersama beberapa pegawainya.
Bahkan saat pesan masuk ke ponselnya, ia tidak membacanya.
Di sisi lain, Arkhan sedang duduk di depan laptop, tangannya sibuk menggeser-geser mouse, mengarahkan kursor pada angka yang berderet panjang. Nada pesan masuk tidak membuat pandangannya beralih dari layar laptop. Namun tangan kirinya menyambar ponsel dan memeganginya.
“Ada pesan masuk, bang!” ucap Reza sembari meletakkan segelas kopi yang baru saja dia aduk ke meja kerja Arkhan.
Zalfa di sana sedang sibuk bekerja dan tidak membaca pesan masuk di ponselnya, justru Arkhan yang membaca pesan dari Faisal yang masuk ke ponsel Zalfa. Pria itu menatap layar ponsel yang ia genggam dan mengernyit membaca pesan itu. Zalfa tidak tahu jika yang menikahinya adalah mafia, bahkan Zalfa tidak tahu jika ponselnya telah disadap. Semua pesan masuk ke ponsel Zalfa juga akan masuk ke ponsel Arkhan.
Faisal
Zalfa, pembicaraan semalam masih belum tuntas
Aku akan menemuimu di kafe.
Aku mencintaimu, Zalfa
“Bre*gsek!” Arkhan mengumpat sembari memasukkan ponsel ke kantong kemeja. Ia yang saat itu sedang mengerjakan sesuatu di laptop bersama Reza, langsung menghentikan kegiatannya.
Glontang... piring melamin berisi pasta yang menemani pekerjaan Arkhan tersenggol saat ia menggerakkan lengannya. Arkhan cepat-cepat menyelamatkan piring namun terlambat, sekarang piring beserta isinya sudah jatuh ke lantai.
“Siapa yang bre*gsek, Bang?” tanya Reza kaget. Mukanya menunjukkan ekspresi bingung. Ia menatap wajah Arkhan yang merah padam.
Arkhan tidak menjawab, ia melangkah keluar kamar sembari menyambar kunci di meja.
“Eh Bang, itu kunci motorku!” seru Reza namun Arkhan tidak mendengarnya.
Kepala Arkhan sudah terlanjur panas dan ia tidak ingin menanggapi perkataan Reza. Sesampainya di luar rumah, berkali-kali ia memencet remot kunci di tangannya namun mobilnya tidak menyala, justru motor milik Reza yang berbunyi.
“Ah, sial!” pekiknya saat menatap kunci di tangannya, ia salah ambil kunci. Dan sebenarnya ia mendengar teriakan Reza yang mengingatkannya bahwa kunci yang dia ambil adalah kunci motor, namun ia tidak menggubrisnya.
Dengan gerakan gesit, Arkhan menaiki motor milik Reza dan meninggalkan rumah minimalis tempat tinggal Reza. Kendaraan melaju sangat kencang hingga gedung-gedung dan kendaraan lain yang dilintasi seakan bergerak menjauh.
Tidak butuh waktu lama, Arkhan sudah sampai di kafe milik Zalfa. Pria itu menyerbu masuk ke kafe dan tanpa ia sadari, mukanya memerah menatap Zalfa dan Faisal duduk berhadapan di salah satu meja.
Pandangan Zalfa yang tertuju ke arah Arkhan, membuat tatapan mata Faisal mengikuti arah pandang wanita itu.
“Shit! Aku sudah memberimu waktu untuk bicara dengan istriku dan kau masih mencuri waktu lagi di belakangku,” ucap Arkhan datar, sorot matanya yang horror tertuju ke arah Faisal.
Faisal yang menyadari telah melakukan kesalahan pun hanya terdiam. Ia tahu, langkah yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan. Ia tahu, ia telah melanggar ketentuan Islam dengan mendekati istri orang lain. Ia hanya berharap dapat kembali memenangkan hati Zalfa karena cintanya terhadap Zalfa masih utuh. Itu saja.
TBC