PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
168. Luar Biasa


“Mama… Kok, jadi serius gitu?” Cyra tidak mau kelihatan cengeng di hadapan Zaki. Seumur hidupnya, mamanya tidak pernah berbicara seserius itu. Dan itu adalah kali pertamanya ia mendengar mamanya mengungkapkan kata-kata penuh makna.


“Ya sudah, kamu pergi sana sama Zaki. Kasian Zaki udah lama nunggu.”


Cyra mengangguk. Pandangannya beralih menatap Zaki sebagai bentuk ajakan.


Zaki bangkit berdiri dan berpamitan pada Andini yang langsung diiyakan oleh calon mertuanya itu. Cyra mengikuti Zaki menuju ke luar dan memasuki mobil.


Sesampainya di butik, Zaki dan Cyra langsung menemui pemilik butik. Pemilik butik pun segera memanggil pegawainya untuk meneyrahkan pakaian yang sudah dipesan.


Cyra menyambut pakaian tersebut. Ia menyerahkan pakaian milik Zaki dengan seulas senyum.


“Cobain, gih!” ucap Cyra.


“Kamu aja dulu yang cobain punyamu. Setelah itu baru aku.”


“Ya udah, aku cobain dulu.” Cyra membawa pakaiannya ke ruang ganti.


Zaki menunggu di dekat pintu. Ia tersenyum membayangkan Cyra mengenakan kebaya yang kelak akan digunakan tepat pada saat ijab qobul. Gadisnya itu pasti lucu menganakan kebaya. Cyra kan tidak pernah mengenakan kebaya, lalu apa jadinya jika tubuh gadis itu dibalut pakaian seperti itu?


Zaki menoleh saat pintu di dekatnya terbuka. Cyra keluar. Zaki tertegun menatap Cyra yang berdiri di hadapannya mengenakan kebaya. Dugaan Zaki salah, ternyata Cyra tidak selucu yang ia bayangkan. Bahkan yang Zaki lihat sekarang seperti bukan Cyra. Gadis itu terlihat elegan dan lebih dewasa mengenakan kebaya. Cantik. Sangat cantik.


“Heloow! Kok, malah bengong?” Cyra membuyarkan lamunan Zaki. “Gimana?”


“Cantik.” Zaki tergagap.


“Maksudku, ini loh resleting di belakang, bisa naikin nggak? Dari tadi ditanyain, bukannya ngejawab malah bengong.” Sebenarnya sudah sejak tadi Cyra meminta Zaki menaikkan resleting di punggungnya, tapi akibat terbengong, Zaki sampai tidak mendengar suara Cyra.


“Ooh...” Zaki memutari tubuh Cyra dan tangannya menjulur untuk menaikkan resleting di punggung gadisnya itu. ia bahkan sampai tidak menyadari kalau Cyra sejak tadi menanyainya saking asiknya terbengong.


“Lama banget, sih? Bisa nggak?” protes Cyra yang mulai risih karena merasakan resleting di punggungnya tak kunjung beregrak naik.


“Kamu pun aneh-aneh aja, kenapa mesti pakai resleting di punggung sih, Ra? Repot pakainya, kan? Pakai kancing di depan aja ngapa?”


“Belum.”


“Lama banget? Kamu ngeliatin punggungku, ya?”


“Ini nyangkut, Ra.”


“Kok, bisa nyangkut?”


“Tau ggak nyangkut di mana?”


“Dimana emangnya?”


“Di bra-mu.”


“Heh?” Cyra membelalak dan sontak membalikkan tubuhnya, kini menghadap Zaki. “Jangan biin aku malu. Jadi bra-ku keliatan, dong.”


“Warna merah,” sahut Zaki enteng, tanpa beban.


Astaga, Zaki malah ngejeplak. Muka Cyra sontak memerah. “Ya udahlah nggak usah dinaikin resletingnya. Yang penting udah pas di badanku. Pas, kok.” Cyra lari ngibrit kembali memasuki ruang ganti.


Zaki tersenyum sembari geleng-geleng kepala. Cewek memang ribet, dari segi busana saja ribetnya minta ampun.


Tak lama kemudian Cyra keluar, kali ini ia mengenakan gaun pengantin warna putih, lengan panjang namun berlubang-lubang, bawahannya sedikit mengembang dengan ujung terpilin indah dan terseret di lantai.


Luar biasa, Cyra terlihat semakin cantik mengenakan gaun tersebut. Ah, tidak perlu lagi Cyra mencoba satu per satu, dia pantas mengenakan pakaian jenis apa saja. Postur tuubuh Cyra yang ideal membuatnya tidak kesulitan menentukan jenis pakaian.


TBC


KLIK LIKE