
Cyra sudah duduk di salah satu meja kafe dengan penampilan sangat menarik, gaun indah yang beberapa hari lalu dibelikan oleh Zaki. Dan Zaki yang duduk di hadapan Cyra juga mengenakan pakaian yang dibelikan oleh Cyra. Ah, mereka jadi seperti sepasang remaja romantisan sedang bertukaran selera saja.
Cyra diam saja menatap menu hidangan yang tersaji di depannya. Bukankah seharusnya ia takjub dengan menu Jepang kesukaannya yang dipesankan Zaki untuknya itu? Tapi tidak, Cyra malah menampilkan ekspresi yang sulit ditebak.
“Kamu nggak suka dengan menu pilihanku?” tanya Zaki yang heran menatap ekspresi wajah Cyra.
Cyra mengangkat alis. Sudut bibirnya sedikit tertarik. Mana mungkin ia tidak menyukai menu pilihan Zaki. Zaki jelas-jelas mengetahui bahwa itu adalah menu kesukaan Cyra.
“Kenapa mukamu kaku begitu? Di bawah ada yang bisulan?” tanya Zaki lagi.
“Tenang aja, bentar lagi bisul gede di perut yang bakalan jadi.”
Zaki mengernyit mendengar banyolan Cyra. “Maksudmu bisul gede di perut itu apa? Hamil?”
“Itu kan maumu. Aku mintanya nggak secepat itu. Aku hanya sedang mikir, setelah ini kamu nggak bakalan ngerjain aku lagi kan? Jangan-jangan kamu sengaja pesenin makanan dan kemudian ngerjain aku lagi. Aku kapok, deh. Makanya mukaku tegang.”
“He heee... Enggaklah. Aku serius ajakin kamu sarapan. Senyum, dong.”
“Aku lagi bad nood. Senyumnya nanti aja.”
Zaki mengangguk saja sembari mengulumm senyum. “Jangan nagmbek, dong. Masak makan cabe rawit aja ngambeknya lama banget.”
“Itu pedesnya kerasa sampe sekarang, nggak ilang-ilang, loh. Entar kalo pedesnya ilang baru aku bisa sneyum.” Cyra melipat tangan di dada.
“O ya? kamu yakin nggak mau senyum sama suamimu ini?” Zaki mendekatkan wajahnya dan menatap wajah Cyra dengan seksama.
Ditatap Zaki sedekat itu dan dengan sorot mata menggoda, membuat Cyra tak kuasa menahan senyum. “Iiiih... kamu apaan sih?” Cyra mendorong pipi Zaki dengan telunjuknya, membuat wajah Zaki menoleh ke kanan.
Zaki tersenyum melihat Cyra yang mengulumm senyum malu-malu. Ah yee, ia berhasil membuat istrinya tersenyum meski dalam keadaan malu-malu.
“Nah, gitu dong!” Zaki mengusap pucuk kepala Cyra dengan telapak tangannya. “Ayo, makan!” Zaki memulai.
Cyra mulai menyantap hidangan yang tersaji. Pada beberapa suapan terakhir, Cyra meringis merasakan sesuatu yang keras baru saja tergigit.
Zaki tersenyum melirik Cyra yang meringis-ringis. Misinya berhasil. Zaki pura-pura tidak tahu dengan terus mengunyah tanpa menatap ke arah Cyra.
“Awh!” Cyra memegang pipinya, kemudian mengeluarkan benda keras dari dalam mulutnya ke telapak tangan. Ia terperangah menatap tulang di telapak tangannya itu.
Zaki membelalak kaget.
“Bener dugaanku, kan? Niatmu bawa aku ke sini buat ngerjain aku lagi?” Cyra menatap Zaki kesal sembari melempar sepotong kecil tulang ke piringnya. “Nggak puas-puas sih kamu ngerjain aku? Ini nggak asik tauk. Gigiku sakit banget. Kalau meretelin gimana? Udahan dong ngerjainnya. Nggak lucu!” Cyra manyun, kesal sekali.
“Maaf, sayang. Aku nggak beraksud begitu.” Zaki mengusap wajah kasar. Ia terlihat panik menatap Cyra kesal.
“Liat-liat dong kalo mau ngerjain aku. Nggak harus sampe pake tulang dimasukin ke makananku kayak gini juga. Resikonya bisa bikin gigiku copot.”
“Tapi aku nggak masukin tulang ke makananmu. Serius.”
“Berarti pelayan dong yang masukin tulang ke makananku. Ini artinya mereka kerja nggak bener, masak tulang bisa sampe masuk ke makanan begini.” Cyra menepuk tangannya memanggil pelayan.
“Sayang, nggak usah diperpanjang lagi masalah ini.” Zaki ingin melarang Cyra memanggil pelayan, tapi terlambat. Pelayan yang dipanggil sudah berjalan mendekat.
“Nggak bisa gitu dong. Enak aja mereka kerja nggak beres begini. Mereka harus dikasih tahu biar kerjanya bisa bres.” Pandangan Cyra kini terarah pada pelayan yang sudah berdiri diantara mereka. “Kamu tadi kan yang menyuguhkan makanan buat mejaku?” tanya Cyra pada pelayan.
Pelayan mengangguk.
“Kamu tahu nggak kenapa hari ini gigi gerahamku bisa sakit? Itu karena menggigit benda eras yang ada di dalam makananku.”
Pelayan malah tersenyum.
“Kok kamu malah senyum? Udah tahu nggak apa kesalahanmu? Ini kenapa di dalam makananku bisa ada tulang belulang begini?” lanjut Cyra sembari menunjuk sepotong kecil tulang di piringnya.
“Tulang? Maaf, setahu saya, tadi yang saya masukin ke makanan Mbak itu...” Pelayan itu terlihat mikir. Kemudian ia menoleh ke arah Zaki. “Nah, Mas ini yang menyuruh saya masukin benda ke dalam makanan Mbak. Tapi kan tadi bukan tulang.”
TBC