PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
104. Cincin


Mobil berhenti di depan sebuah toko emas. Cyra membelalak menatap nama toko di depan matanya.


“Kita ke sini mau ngapain?” Cyra menoleh karena tidak mendapat jawaban. Zaki sudah tidak ada di sisinya.


“Pst, di sini! Ayo, turun!” Zaki membungkukkan tubuh supaya pandangannya setara dengan pandangan Cyra. Pria itu memegangi pintu mobil yang baru saja ia buka.


Cyra menurut. Ia turun dan Zaki menggandengnya memasuki pintu toko.


Zaki mengajak Cyra melihat-lihat cincin. “Ayo, kamu pilih cincin mana yang kamu suka?”


Bukannya menjawab, Cyra malah menoleh, menatap wajah Zaki yang berada sangat dekat di sisinya.


“Disuruh milih cincin kok malah melototin gitu?” Zaki mengangkat alis tak mengeri dengan ekspresi wajah Cyra yang bengong.


“Cincin untuk apa?”


“Mau jadi nyonya Zaki nggak?”


Yah, kata-kata itu terdengar lagi. Cyra tuh meleleh setiap kali mendengar kata-kata itu. Hatinya adeeem sekali. Sekali lagi Zaki mengucapkannya, Cyra akan memeluk pria itu. Oooh… Jangan! Jangan sampai kebablasan. Malu iiih..


Cyra akhirnya membungkukkan badan meneliti cincin di dalam kaca. Memilih-milih cincin yang menurutnya bagus. Zaki benar-benar romantis, mengajaknya ke toko emas yang menjual perhiasan dengan lengkap.


Cyra sebenarnya menginginkan cincin bermata berlian yang sejak tadi menjadi objek pemandangannya. Letaknya paling sudut dan bolak-balik manik matanya tertuju ke sana. Tapi apa itu tidak kemahalan?


Zaki meminta penjual toko untuk mengeluarkan beberapa buah cincin yang menurutnya bagus. Zaki meminta Cyra untuk mencobanya. Tapi Cyra kembali melepas cincin yang sudah dicoba dengan alasan kurang bagus, longgar, kekecilan, modelnya tidak menarik, dan lain sebagainya.


Lima belas menit berlalu, mereka masih berkutat dengan beberapa buah cincin yang bolak-balik dicobain oleh Cyra. Zaki masih tetap sabar menunggu.


“Coba yang itu aja deh, Mbak!” Zaki menunjuk cincin berlian yang terletak di sudut.


Yess! Akhirnya Zaki menunjuk cincin itu juga. Dari tadi kek. Cyra menggumam senang. Cyra takut menunjuk cinicn itu karena takut kemahalan.


“Pas banget! Aku suka!” Cyra tersenyum.


“Ya, bagus di jarimu. Kamu mau yang itu?” Zaki menanggapi.


“Ehm…!”


Zaki dan Cyra menoleh ke suara deheman di sebelah mereka. Muka Zaki memanas melihat Bu Santi yang tengah memilih gelang, dosen itu ditemani suaminya. Zaki ketahuan sedang membelikan cincin untuk mahasiswinya.


Cyra memilih pura-pura sibuk melihat-lihat cincin karena tidak tahu harus bagaimana menanggapi Bu Santi. Duuh… Gawat! Bakalan jadi gossip di kampus nih. Bu Santi kan lambe turah alias tukang ngegosip. Siap-siap aja mendengar kata-kata cie cieee… halah!


“Beli cincin, pak Zaki?” tanya Bu Santi.


Itu pura-pura nanya atau lagi ngegodain, sih? Cyra masih tidak mau menoleh. Menatap para cincin yang berderet di tempatnya lebih aman dari pada harus menatap Bu Santi.


Zaki tersenyum kikuk.


“Buat Cyra, ya?” Lagi-lagi, Bu Santi menanyakan hal yang sudah jelas. Apa lagi namanya kalau bukan sedang menggoda Zaki.


“Ah, saya disuruh mengantar orang tua Cyra saja ke sini. Kami kan bertetangga.” Zaki ngeles.


“Silahkan untuk menyelesaikan pembayarannya, Bang! Ini nominalnya.” Embak-embak penjual emas menyorong kwitansi ke arah Zaki.


Jika sudah begitu, Zaki tidak lagi bisa mengelak dari sorot mata penuh selidik dari mata Bu Santi. Ia sudah kepergok membelikan cincin untuk Cyra. Mau ngeles apa lagi?


Bu Santi tersenyum melihat Zaki yang kikuk mengeluarkan kartu kredit.


Cyra melongokkan kepala saat melihat Zaki menerima kwitansi pembayaran. Angka yang tertera lumayan, membuat Cyra sedikit mangap karena kaget. Mahal banget. Bisa untuk beli beberapa buah motor. Buset!


Zaki menggesek kartu kreditnya.


“Pak Zaki baik sekali mau disuruh orang tua Cyra mengantar Cyra ke toko emas, cincinnya dibayarin lagi. Punya saya sekalian dibayarin nggak, nih?” Bu Santi terlihat semakin meledek. Kelihatannya bangga sekali bisa membuat muka Zaki jadi merah padam.


Zaki mengulas senyum kikuk. Kemudian bergegas ke luar toko diikuti oleh Cyra yang hanya melempar senyum sekilas kepada Bu Santi sebelum akhirnya pergi.


TBC