
Cyra menyedot jus. Menunggu kelas mulai, ia memilih santai sebentar di kantin. Sesekali tatapannya menuju ke arloji yang melingkar manis di tangan. Tadi ia pergi ke kampus membonceng motor bebek milik Rere, jadinya sampai di kampus pun kepagian. Gara-gara mobil sedang diservis, akibatnya mesti numpang si Rere.
Tiba-tiba gelasnya bergeser. Cyra mengangkat wajah, menatap si pelaku. Dengan ringannya menggeser gelas miliknya disaat ia sedang menyedot jus. Sekarang ujung sedotan yang menempel di mulutnya mengenai udara, sedangkan cairan yang disedot malah kabur.
“Zaki? Eh, Pak Zaki?” Cyra menelan saliva. Sedotan di mulutnya terjatuh ke meja.
“Aku mau bicara!”
“Sama saya?”
“Bukan sama mamamu. Ya sama kamu,” sewot Zaki sangat khas.
“Tapi….”
Zaki menarik pergelangan tangan Cyra sebelum Cyra menyelesaikan kalimatnya. Pagi itu kantin sepi. Sehingga tidak ada yang melihat Zaki menggeret Cyra.
“Eh, lha kok main tarik-tarik begini?” Cyra kebingungan. “Bapak bisa telepon saya kalau ada perlu.” Cyra kemudian menyebutkan nomer ponselnya, sebelas digit dan mudah dihafal. “ Nggak perlu tarik-tarik gini kalau lewat telepon.”
Zaki melepas pergelangan tangan Cyra saat melintasi koridor, takut ada yang melihat. Kan aneh kalau seorang dosen menarik-narik tangan mahasiswinya. Cyra pun menghentikan langkahnya.
“Ikut aku!” gertak Zaki membuat Cyra spontan kembali melangkahkan kaki mengikuti Zaki menuju ruangan pria itu.
Cyra memasuki ruangan dan menatap Zaki yang memunggunginya.
Setelah cukup lama Zaki menarik nafas, mengusap wajah kasar, akhirnya Zaki menoleh, menatap Cyra dengan sorot membunuh.
“Mau?” Cyra menawarkan permen yang baru saja ia rogoh dari saku celana. Entah pertanyaan konyol apa yang baru saja ia lontarkan. Setelah ini Zaki mungkin akan naik pitam dan marah-marah padanya. Atau bahkan menjitak kepalanya. Huh, jangan sampai itu terjadi.
Zaki menampik tangan Cyra yang menjulur ke arahnya. Permen jatuh ke lantai. Kalau tahu Cuma dijatuhin, mendingan tidak ditawarkan.
“Iya, aku marah.” Zaki tampak semakin geram.
“Ya, marah kenapa?”
“Karena aku nggak suka sama kamu. Aku nggak suka manusia ceroboh sepertimu. Aku nggak suka mahasiswi nggak tau diri sepertimu. Aku nggak suka semua yang ada pada dirimu.”
Cyra tertegun. Nggak tau diri? Iya, dia memang nggak tau diri. Tanpa Zaki mengatakannya, Cyra juga sudah tahu. Sudah berapa kali ia mencium dosennya itu?
“Seenggaknya kamu itu dosen, jaga emosi. Nanti bisa digebukin mahasiswa rame-rame kalau marah-marah mulu.” Cyra tidak tahu kalimat itu justru akan membawa keadaan menjadi lebih baik atau malah sebaliknya. Nggak nyangka, Zaki kalau lagi emosi bikin lawannya mati kutu. Kalau saja status Zaki bukan dosen, Cyra pasti sudah membalas kemarahan Zaki dengan serentetan koleksi kata-kata yang membuat lawannya gedeg abis.
“Hanya kamu yang tahu kalau aku marah sama kamu.” Zaki mengucapkan setiap kata-katanya dengan penuh penekanan.
“Aku bisa ngadu ke temen-temen.”
“Aku nggak perduli. Kamu punya salah makanya kena marah.”
“Iya, tapi kamu kasih tahu aku dulu kenapa mendadak kamu jadi marah-marah nggak jelas gini? Kalau hanya sekedar alasan nggak suka, kamu bisa katakan itu sejak awal. Bukan baru sekarang kamu bilang ke aku, kan?” Cyra nyengir berharap kemarahan Zaki menipis.
** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** ** **
T o b e c o n t i n u e d
L o v e ,
E m m a S h u