PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
223. Extra Part 33


“Aku tadi pulang ke rumah dan kamu udah nggak ada. Rupanya kamu di sini. Aku tadi telpon-telpon kamu tapi nggak diangkat,” ucap Zaki pada Cyra.


“Ooh… Maaf, tasku jauh dan aku nggak denger bunyi hp. Deringnya kecil jadi nggak denger.”


“Kok, kamu nggak bilang kalau udah duluan ke rumah mama?”


“Aku sampe nggak sempet bilang ke kamu gara-gara cemas sama keadaan mama,” jawab Cyra.


Kalimat Cyra membuat Alya semakin baper. Menantunya itu begitu perhatian padanya tapi ia malah menyakitinya.


“Jadi gimana keadaan mama?” Tanya Zaki sembari duduk di sisi ranjang.


“Udah mendingan, kok. Kamu nggak usah cemas. Papamu tadi sebelum berangkat kerja juga bilang kalau ada apa-apa supaya langsung bilang ke dia.” Alya tersenyum. “Zaki, Cyra adalah istri yang baik. Mama menyesal udah pernah memintamu untuk menikahi wanita lain.”


Zaki lega mendengar kalimat yang diucapkan mamanya. Akhirnya mamanya menyadari juga.


“Ma, kalau boleh aku jujur, kita sama-sama wanita. Dan nggak ada seorang pun wanita yang rela suaminya tidur dengan perempuan lain,” ucap Cyra.


“Kamu benar, Cyra.”


“Rumah tangga itu bukan hanya sebatas untuk mendapatkan anak. Tapi juga membangun kehidupan baru antara dua pola pikir yang berbeda, membangun keluarga yang sakinah. Menyatukan tujuan hidup berkeluarga menuju kepada keimanan. Dan aku menikah untuk kebahagiaan, lalu untuk apa ada pernikahan jika hanya untuk menangis? Ma, aku dan Zaki akan bersabar sampai akhirnya Tuhan menitipkan dan mempercayai kami untuk memiliki anak. Aku harap mama juga bisa memahami semua ini.”


“Iya, sayang. Mama mengerti.” Alya mengelus punggung telapak tangan Cyra.


Zaki pindah posisi, ia berdiri di sisi Cyra dan menatap alya. “Mama udah merestui kami sejak awal bukan? Jadi jangan pisahkan kami.”


Alya mengangguk sembari tersenyum haru.


Cyra mengangkat kepala untuk dapat menjangkau wajah Zaki. “Kamu pakai parfum apa sih? Kenapa ganti parfum? Astaga, baunya yieeek… Sana sana, jangan deket-deket aku.”


Cyra bangkit bangun dan menjauhi Zaki sembari menjepit hidungnya dengan jari-jarinya.


“Ganti parfum gimana? Parfumku masih yang lama.” Zaki mengangkat lengannya dan mencium pangkal lengannya sendiri. “Wangi gini, loh.”


“Enggak enggak!” Cyra mengibas-ngibaskan tangannya saat Zaki hendak mendekatinya. “Mendadak aja ruangan ini jadi pengap. Aku keluar aja deh.” Cyra berjalan menuju keluar kamar.


Zaki menoleh ke arah Alya kemudian berkata, “Ma, aku keluar dulu. Mama cepet sehat, ya!”


“Iya.” Alya mengangguk. “Mama nggak apa-apa, kok.”


“Ra!” panggil Zaki sembari menyusuri ruangan mencari istrinya.


“Iya. Aku di sini.” Cyra menyahut sembari mendekati Sifa yang tengah digendong Bik Pay di dapur.


Zaki menyusul ke dapur. Ia tidak berani emndekati Cyra karena takut dikatain bau aneh lagi. Ia hanya berdiri di jarak beberapa meter agak jauh dari Cyra.


“Bik, ya ampun ini bau apa ya?” Cyra menutup hidungnya dnegan telapak tangan.


“Bau? Bau apa ya? Nggak ada bau apa-apa loh, Non.”


“Bau bawang.”


“Oh… Iya itu Bibik tadi ngupas bawang.” Bik Pay menunjuk bawang merah di dalam baskom kecil dekat kompor.


“Iih… Aku ke depan aja, deh. Sini Sifa biar sama aku aja.” Cyra mengambil Sifa dari gendongan Bik pay dan membawanya ke ruangan depan.


Zaki kembali mengikuti Cyra ke depan.


“Mas, kamu ganti baju sana! Parfummu nyengat banget. Nggak enak baunya.” Cyra menoleh ke arah Zaki yang saat itu lalai telah berdiri di dekat Cyra.


“Jangan bercanda, sayang. Ini modus kamu Cuma kepingin ngerjain aku apa gimana?”


“Serius, baumu tuh aneh. Mendingan sekarang kamu keluar beli makanan gih. Beli mpek-mpek tuh tempat Mas Inu. Di sana kuah mpek-mpeknya enak banget.”


“Bik Pay kan udah masak. Kita makan masakan Bik aja.”


“Enggak. Aku meunya mpek-mpek kok disurtuh makan masakan ala Bik pay sih?”


“Astaga. Lama-lama kamu ngeselin. Untung sayang.” Zaki melenggang keluar hendak membelikan makanan yang diminta Cyra meski dengan ngedumel.


TBC


Eh, aku mau nanya, kalian masih pengen lanjut nggak cerita ini?


jawab iah...


🥰🥰