
Cyra menyuapi Sifa makan. Bocah itu tidak sulit makan, dia dengan lahap menyantap makanannya. Pantesan gendut, pipinya gemil. Untung saja yang jadi bapaknya adalah Zaki, orang yang memiliki duit lumayan banyak. Jadi Sifa bener-bener bisa makan banyak. Noh kalau yang jadi bapaknya orang kurang berada, tentu Sifa bakalan rewel karena keinginannya untuk makan banyak tidak terpenuhi.
Zaki meletakkan piring ke hadapan Cyra. Cyra menoleh ke arah piring berisi telur dadar hangat yang baru saja digoreng oleh Zaki.
Aroma khas telur dadar menyelusup ke rongga pernafasan Cyra.
“Kamu masak buat siapa? Bukannya tadi udah makan ya?” Tanya Cyra.
“Ini untuk aku.” Zaki mengambil garpu dan duduk di sisi Cyra. Ia memotong dadar dengan garpunya lalu mengunyah dengan lahap, sama lahapnya dengan Sifa yang mulutnya belepotan mengunyah suapan dari Cyra. Bahkan belum sempat Cyra menyodorkan suapan ke mulut Sifa, bocah itu sudah mangap lebar minta disuapin. Dan kalau Cyra telat menyuapkan makanannya ke mulut Sifa, maka bocah itu akan merengek dan meremas rok Cyra. Posisi Sifa yang berdiri menggelayut di lutut Cyra, membuatnya dengan mudah menggenggam rok mamanya.
“Sejak kapan kamu makan telur dadar doing nggak pake nasi gitu?”
“Sejak hari ini. Ini namanya aku sedang ngerayain hari kemenanganku atas diri Zena.”
Cyra tertegun menatap Zaki. Betapa ia beruntung memiliki suami seperti Zaki, yang sabar menghadapinya, sangat memahami kondisinya, juga mencintainya dengan tulus. Buktinya Zaki menolak untuk dijodohin dengan gadis lain.
“Makasih ya, sayang. Kamu udah ngelakuin ini semua buat aku. Aku sayang sama kamu,” ucap Cyra terharu. “Kamu udah lakukan hal besar untuk pernikahan kita.”
Zaki mengehntikan makannya. “Jangan bilang makasih. Ini udah jadi kewajibanku.” Ia menatap Cyra lekat-lekat. Wajah istrinya semakin lama semakin menggemaskan.
Tiba-tiba terdengar dering ponsel yang sumbernya berasal dari kantong celana Zaki. Pria itu segera merogoh kantongnya dan menatap ID penelepon.
“Mama,” ucapnya sembari menatap Cyra.
“Ya udah angkat aja,” ucap Cyra agak sebel. Jujur saja, ia merasa kurang suka atas sikap Alya yang tega menjodohkan Zaki pada wanita lain. Ia paham, Zaki adalah anak semata wayang dan Alya tentu sangat mengharapkan cucu dari putranya itu. Tapi bukan begitu caranya. Ya sudahlah cyra tidak mau memperdalam rasa kesalnya pada mertuanya, nanti kualat. Kan gawat kalau dia dikutuk jadi jangkrik akibat dinilai sebagai menantu tidak patuh. Mungkin bukan hanya Cyra saja yang akan merasakan hal yang sama saat mendapat perlakuan demikian. Mungkin orang lain bisa bersikap jauh lebih buruk dari Cyra.
“Eh itu tadi yang nelepon nomer mama kok kamu manggilnya papa?” Tanya Cyra bingung.
“Papa nelepon pake hp mama.”
“Ooh.. Trus papa kasih kabar apa? Kamu kok keliatan cemas gitu?” Tanya Cyra.
“Mama sakit. Dan tadi kepeleset jatuh di kamar mandi. Nanti selepas jam kerjaku, kamu siap-siap ya. Aku jemput kamu dan kita jengukin mama. Kamu mau, kan?” ucap Zaki.
Cyra mengangguk.
Zaki menatap ekspresi berbeda di wajah istrinya. “Kamu kesel ya sama mamaku?”
Cyra mengedikkan bahu dan kemudian berusaha mengubah ekspresinya agar terlihat tenang. “Enggak, Cuma rada gemes aja.”
“Kita udah omongin ini, sayang. Kuharap kamu maklumi mama. Apapun yang terjadi, aku akan tetep jadi satu-satunya suami kamu, kok. Biarkan mama berpikiran macem-macem tentang rumah tangga kita, tapi kita tetap satu.”
Cyra tersenyum lebar.
“Jangan lupa nanti bersiap, aku akan cepet pulang.” Zaki mengecup singkat kening Cyra dan Sfa sesaat sebelumnya ia berlalu pergi.
TBC