PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 36


Sedetik sebelumnya, Arkhan menyelipkan tubuhnya ke sebuah celah sempit antara dua dinding dan langsung menarik tubuh Zalfa, membawa gadis itu turut serta bersembunyi di celah yang tak lebih dari setengah meter. Sangat sempit. Nafas Zalfa terasa pengap. Dagunya sempat tergores akibat terjadi gesekan dengan dinding saat masuk ke celah sempit itu. Tubuhnya benar-benar berhimpitan dengan tubuh Arkhan di belakangnya. Zalfa menatap dinding yang hanya berjarak dua centi dari wajahnya.


Zalfa memberontak saat sadar tubuhnya sedang berada dalam dekapan lingkaran tangan kokoh pria itu. Namun sia-sia karena Arkhan tak mau melepaskan dekapannya. Pria itu menahan tubuh Zalfa kuat-kuat.


Sampai akhirnya dua pria bersenjata api itu pergi, Zalfa akhirnya melepaskan diri dari dekapan lengan Arkhan dan bergegas keluar dari persembunyian. Sorot matanya tajam menatap Arkhan yang kini sudah berdiri di hadapannya.


“Beraninya kau!” Zalfa menampar pipi Arkhan. Ia ingat bagaimana lengan kekar Arkhan mengenai dadanya. Namun akibat ruang persembunyian yang begitu sempit, Zalfa tak bisa berbuat apa-apa.


Arkhan tak bergeming atas penamparan yang Zalfa hadiahkan untuknya.


“Jangan kira aku wanita rendahan yang bisa kamu pogang sesukamu,” gertak Zalfa.


“Aku nggak sengaja.” Arkhan kemudian melangkah menuju pintu dan mengintip keluar, memastikan keadaan apakah sudah aman atau belum. Ia tidak tahu dimana keberadaan dua pria tadi. Tapi yang pasti, sepertinya mereka masih berada di sekitar sana karena ia mendengar suara perbincangan yang kurang bergitu jelas di kejauhan sana, entah di ruangan mana. Bangunan tinggi itu membuat suara menggema.


Zalfa juga mendapati siku baju Arkhan yang koyak akibat tergores saat bergesekan dengan dinding. Tapi Arkhan terlihat biasa saja, pria itu tidak merintih, mengaduh, atau setidaknya terlihat lemas akibat luka yang ia derita. Lihatlah, Arkhan tampak kuat meski wajahnya dibanjiri peluh.


“Ayo, ikut aku!” Arkhan menggandeng Zalfa menyusuri lorong.


Yang digandeng hanya menurut saja, pikirannya sedang kalut. Disaat begini, Zalfa hanya berharap keadaan akan aman.


Dengan langkah berjingkat namun setengah berlari, Arkhan terus menggandeng Zalfa. Mereka keluar gedung itu. Di tempat terang benderang oleh terpaan cahaya matahari, Zalfa kini bisa melihat dengan jelas luka di punggung Arkhan. Posisinya yang berjalan di belakang Arkhan, membuat matanya terus mengamati luka itu sementara langkahnya mengikuti kemana Arkhan melangkah. Tak salah, luka di punggung Arkhan adalah luka tembakan. Bahkan darahnya masih segar mengalir. Mereka melintasi jalan sepi, hingga akhirnya sampai di sebuah rumah sederhana.


Arkhan mengeluarkan kunci dari saku kantong celananya. Tangannya sedikit gemetar saat memasukkan ujung kunci ke lubang pintu. Zalfa menatap wajah Arkhan yang mulai memucat. Pria itu pasti sedang merasakan sakit yang entah seperti apa rasanya, namun ia berusaha menahan semampunya. Zalfa bisa melihat dengan jelas kalau Arkhan sudah tidak kuat dengan rasa sakit di tubuhnya saat Arkhan memejamkan matanya sejenak, lalu mendorong pintu dan masuk ke rumah. Segera pria itu menendang pintu dengan satu kaki saat Zalfa sudah masuk.


TBC