PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
187. Rumah Baru


Zaki tampak tenang, konsentrasi menyetir mobil yang melaju di jalan raya.


Cyra melirik Zaki yang duduk di sisinya. Jantung... kenapa berdebaran begini kalau menatap muka Zaki? Apa efek kejadian tadi malam kali yah? Cyra menggumam dalam hati.


Sepi.


Tak ada yang memulai pembicaraan, membuat Cyra merasa kaku sendiri jadinya. pikiran Cyra kembali melayang-layang, teringat adegan-adegan romantis yang Zaki ciptakan malam tadi. Uuuhh.... Indah dan mengesankan. Tak akan mungkin Cyra bisa melupakannya.


“Sayang, kok senyum-senyum sendiri?” tanya Zaki saat menoleh ke arah Cyra.


“Heh?” Cyra sontak membenarkan posisi mulutnya menjadi mingkem alias menutup. Ia bahkan tidak sadar sejak tadi senyum-senyum sendiri kayak orang stres. “Nggak tau nih mulut bawaannya mau senyum mulu.”


“Kamu mengingat-ingat kejadian kita tadi malem?” tebak Zaki yang membuat wajah Cyra langsung memerah malu-malu.


Tebakan Zaki tepat banget. Tidak meleset.


“Enggak. Aku Cuma lagi mikir kok kita diem-dieman aja.” Cyra ngeles. Berharap jawabannya mampu mengalihkan pemikiran Zaki.


“Masak? Aku yakin kamu sedang mengingat-ingat kejadian tadi malam.”


“Iiiih... sok tahu. Enggak, kok.” Cyra memalingkan wajahnya yang memanas ke arah luar jendela mobil.


“Iya juga nggak pa-pa. Aku juga sedang mengenangnya, kok,” ceplos Zaki santai banget.


Cyra mengernyitkan dahi. Laki-laki nggak ada malu-malunya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi wanita memiliki rasa malu dua kali lipat kali ya.


“Sayang, kita beli makanan dulu apa gimana, nih? Nanti biar nggak keluar-keluar lagi dari rumah kalau laper,” tanya Zaki.


Syukurlah Zaki sudah mengalihkan pembicaraan. Gumam Cyra dalam hati.


“Nggak usah. Kalau laper makan di luar aja ngapa?” ucap Cyra.


“Sepertinya aku bakalan males keluar nanti kalau udah sampai rumah baru kita.”


“Kalau udah berdua denganmu, apa mungkin aku akan bersemangat untuk keluar rumah? Rasanya aku hanya ingin menghabiskan waktu di dalam rumah bersamamu.”


“Ha haaaa... Segitunya.”


“Aku serius.”


“Kalau begitu, biar aku aja nanti yang keluar beli makanan.”


“Kamu akan lelah dan nggak akan mungkin berminat untuk keluar rumah.”


“Iiiiiih.... Jangan sampe bikin aku gempor, ya!”


Zaki tergelak mendengar kata-kata Cyra.


Tak lama kemudian, mobil berbelok memasuki pekarangan rumah setelah sebelumnya Zaki turun dari mobil membuka gerbang. Pekerjaan itu ia lakukan sendiri karena di rumah barunya belum ada asisten rumah tangga. Cyra menatap rumah di hadapannya. Rumah yang ukurannya tidak sebesar rumah miliknya, namun bangunannya kokoh, mewah dan terkesan mewah. Dikelilingi pagar besi berwarna perak yang setiap dua meternya dibatasi tiang besi berukiran indah.


Taman rumah itu juga mewah meski ukurannya tidak luas, dihias dengan bunga bonsai yang dipangkas rapi, juga air pancur yang menambah kesan elit.


“Rumahnya nggak sebesar rumahku atau rumahmu yang dulu, kamu suka?” tanya Zaki menatap Cyra yang masih duduk di sisinya.


“Suka banget. Diliat dari luar aja udah nyaman dan menenangkan hati. Memang rumah ini nggak segede rumah kita dulu, tapi tetap elit. Beneran aku suka.”


“Di belakang ada kolam renangnya juga, kok.”


“Waw... Amazing! Kita turun, yuk!” Cyra bergegas menuruni mobil dan berjalan menuju teras.


Zaki menurunkan koper-koper dari bagasi dan menariknya satu per satu menuju teras. Ia kemudian mengeluarkan kunci rumah dari dalam kantong celananya dan memutar kuncinya di lubang pintu.


**TBC


KLIK LIKE YAAA**