
Zalfa mengucek mata, menggeliat sebentar melepas penat di tubuhnya. Spring bed yang ia tiduri terasa sangat nyaman dan menenangkan dirinya. Bahkan bantal yang menjadi alas kepalanya terasa empuk dan wangi. Aromanya benar-benar menenangkan hati.
Zalfa berbalik dan memeluk bantal guling yang tadinya berada di belakangnya, dan kini menjadi di hadapannya saat ia berbalik. Ah, tidak. Yang ia peluk sepertinya bukanlah bantal guling, melainkan sesuatu yang keras dan kenyal. Zalfa sontak membuka mata.
“Aaaaaaa….” Jerit Zalfa histeris saat melihat wajah Arkhan yang berada sangat dekat dengan wajahnya. Cepat-cepat Zalfa memundurkan wajahnya, lalu bangkit bangun dan menjauhi Arkhan yang kini terlihat membuka mata dengan alis bertaut.
Zalfa menurunkan kakinya ke lantai. Bulu romanya meremang mengingat sesuatu yang mengganjal di pahanya saat tadi kakinya berada di posisi seperti sedang memeluk bantal guling.
Benda apa itu tadi? Oh… Ya ampun, kenapa ia harus menyenggol itu? Muka Zalfa sontak memerah, entah marah atau menahan malu. Tapi kenapa malah ia yang jadi malu? Bukankah Arkhan yang seharusnya malu?
“Kenapa berteriak?” tanya Arkhan santai. Wajahnya tampak tenang, tak sedikitpun terlihat kegugupan seperti yang Zalfa rasakan.
Bukannya menjawab, pandangan Zalfa malah berkeliling menatap seisi kamar. Ia masih berada di kamar yang sama seperti saat terakhir kali ia tertidur di lantai setelah kelelahan dan mengantuk hingga akhirnya tertidur di lantai.
“Kenapa aku bisa tidur di ranjang?” gertak Zalfa geram, menyesalkan kejadian tadi.
Arkhan tidak menggubris kata-kata Zalfa, ia merogoh ponsel yang berbunyi di saku celananya, ada pesan masuk. Ia mengernyitkan dahi membaca pesan tersebut, mukanya yang putih bersih mendadak memerah. Nafasnya bahkan terdengar keras mengisi kesunyian ruangan.
“Ban*sat!” pekik Arkhan seraya menatap tulisan yang tertera di ponselnya. “Beraninya dia mengancamku. Rupanya dia sudah bosan hidup.”
Zalfa menatap muak pada kemarahan Arkhan. Tidak semua masalah harus dihadapi dnegan kemarahan. Dan Zalfa paling tidak suka dengan umpatan seperti yang Arkhan lakukan.
“Di kamar ini nggak ada orang lain selain kita berdua. Tanpa kamu tanya, pasti kamu tahu jawabannya. Aku yang mengangkat tubuhmu ke kasur.” Arkhan memejamkan mata dan meletakkan lengan kanannya ke atas kening.
“Gila! Kamu benar-benar gila!” Zalfa akhirnya meluapkan amarahnya. “Apa kamu pikir aku wanita rendahan yang sudi tidur seranjang denganmu? Kalau kamu tidak ingin melihat seorang gadis tertidur di lantai, setidaknya kamu mengalah dan tidurlah di tempat lain, jangan seranjang denganku.”
Arkhan kembali membuka mata. “Aku sama sekali nggak menyentuhmu, aku nggak mengganggumu. Lalu kenapa kamu semarah itu?”
“Aku memiliki kehormatan, Arkhan!” geram Zalfa dengan gigi menggemeletuk erat. “Aku punya harga diri. Dan tindakan tadi adalah…”
“Dosa,” potong Arkhan.
Zalfa menelan saliva sembari menatap Arkhan tajam. Nah itu dia tahu, lantas kenapa malah melakukan hal gila itu? Arkhan memang benar-benar sudah gila!
“Jangankan tidur seranjang, bersentuhan yang bukan mahrom juga dosa,” lanjut Arkhan sembari bangun dan duduk. Ia sedikit meringis saat menggerakkan tubuhnya, luka di punggungnya terasa nyeri. Pria itu masih belum mengenakan baju hingga bulu halus di dada bidangnya terekspos. “Lantas kenapa kamu menyatukan bibirmu dengan bibirku? Bukankah itu juga dosa?”
Jantung Zalfa menghentak kuat mendengar pertanyaan konyol itu.
TBC