PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
196. Extra Part 6


Cyra menggeliat, tangannya merentang. Kemudian kelopak matanya terbuka. Beberapa kali ia mengucek mata berusaha untuk membuat pandangannya tidak menjadi kabur. Matahari tampak cerah dan sinarnya masuk melalui kaca jendela yang tirainya sudah dibuka. Telapak tangan Cyra kemudian mengelus alas kasur tempatnya berbaring.


Untuk sesaat Cyra mengingat kejadian terakhir. E eeh... Loh bukannya sebelumnya ia tertidur di sofa, lantas kenapa sekarang ia bisa berada di kamar? Cyra terperanjat dan terbangun mengingat persiapan yang sudah ia susun di ruang tamu dan menguras banyak tenaganya. Dan sekarang hari sudah pagi? Cyra terbangun dan duduk di sisi ranjang dengan kedua kaki menjuntai ke bawah.


“Aaaa.... Tidaaaak!” Cyra menjerit histeris sambil menutup matanya dengan telapak tangan.


“Cyra!”


Cyra membuka matanya saat telapak tangannya dijauhkan dari matanya dan pergelangan tangannya kini dalam genggaman Zaki.


“Apa yang terjadi, sayang?” Zaki menatap Cyra dengan dahi berkerut. Kedua kakinya berlutut untuk menyeimbangkan pandangan pada wajah Cyra. “Kenapa menjerit?”


Bukannya menjawab, Cyra malah mengernyit menatap penampilan Zaki yang hanya membelitkan handuk di pinggang dan bertelanjang dada.


“Kamu nggak mandi tapi pakai handuk?” tanya Cyra.


“Aku baru aja mau mandi tapi mendengar teriakanmu jadi kembali ke sini lagi. Kenapa kamu ngeliatinnya sampai kayak gitu? Apa kamu mau yang di sini?” Zaki menunjuk bagian tengah handuknya.


“Iiih... Apaan sih?” Muka Cyra memerah.


Zaki tersenyum tipis telah berhasil menggoda istrinya itu. “Trus kenapa kamu teriak?”


Zaki kemudian berdiri dan membuka ujung simpul handuknya.


“Heeih... mau ngapain?” tanya Cyra sembari menghentikan gerakan tangan Zaki.


“Olah raga pagi.”


“Cyra manyun. “Mandi sana!”


“Yuk, temenin aku mandi.” Zaki menarik pergelangan tangan Cyra.


“Enggak! Kamu duluan sana!”


Setelah selesai mandi, ia keluar dan masih berpenampilan yang sama, handuk yang memeblit di pinggang. Ia terkejut melihat Cyra sudah berdiri di depan pintu dengan kedua tangan menyilang di dada dan sorot mata tajam.


Zaki mengernyit dan menatap raut wajah Cyra yang kurang bersahabat.


“Ada apa, sayang? Tadi teriak, sekarang merengut?” Zaki melintasi Cyra sembari menyenggol lengan istrinya itu hingga tubuh mungil Cyra sedikit terhuyung mundur.


“Kamu tadi malam dari mana aja? Kenapa pulang sampai larut?” tanya Cyra.


“Aku nggak pulang larut, aku pulang jam setengah sembilan malam.” Zaki membuka lemari. Ia kelihatan bingung menatap isi lemari. Kemudian ia menoleh ke arah Cyra. “Apa kamu nggak mau menyiapkan pakaian untukku?”


Cyra mengangkat bahu kemudian berjalan mendekati ranjang, ia melempar tubuhnya berbaring di ranjang tersebut.


“Sayang, aku minta tolong siapkan baju untukku.”


“Enggak, cari aja sendiri.”


“Kok, ngambek? Salahku apa?”


“Banyak.”


Zaki mengulumm senyum. “Kamu tambah cantik kalau ngambek. Ya udah, ngambek aja terus biar cantiknya bertambah.”


Ya ampun, Zaki ngegombal banget. Bikin ngambeknya jadi rada kurang. Tapi Cyra tidak mau menyerah begitu saja. Ia tetap menampilkan ekspresi kesal.


Zaki mendekati Cyra kemudian menarik lengan gadis itu dan menyeretnya menuju ke lemari. “Buruan, siapkan baju untukku, sayang! Aku mau memakai baju pilihanmu. Dulu aku melakukannya sendiri, sekarang ada kamu, aku mau kamu yang melakukannya.” Zaki mengangkat alis dengan senyum tipis.


Cyra terpaksa memilihkan baju untuk Zaki mengingat lemari sudah ada dua jengkal di depan wajahnya.


TBC