PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 81


Disaat batin Arkhan dibanjiri dengan taburan kata-kata umpatan atas ketidakhadiran Zalfa, sosok gadis muncul dari arah pintu, mengundang perhatian semua orang. Sejurus pandangan tertuju ke arah gadis berkebaya putih, jilbab putih yang ujungnya tergerai sampai ke tumit. Ia trelihat sangat cantik dan menawan, tak lain Zalfa.


Arkhan yang telah menyusun kata-kata umpatan untuk Zalfa, mendadak sederet susunan kata-kata itu lenyap saat pandangan matanya mendapati wajah cantik Zalfa. Pahatan sempurna akan kecantikan wajah itu menunjukkan betapa besar kuasa Allah dalam menciptakan makhluk-Nya.


Zalfa berjalan agak canggung menerima tatapan berpasang-pasang mata ke arahnya. Dia sangat cantik mengenakan kebaya putih panjang yang bisa menyapu lantai bila ia berjalan. Jantung Zalfa sampai kini masih berdetak tidak menentu. Sudah tepatkah pilihan yang ia putuskan? Kenapa sesulit ini? Kenapa sampai sekarang ia masih gundah?


Atifa langsung berdiri menyambut kedatangan Zalfa. Ia menyentuh lengan Zalfa, membimbing adik iparnya itu berjalan menuju ke tengah-tengah ruangan sembari berbisik, “Kamu ini kemana sih, Zalfa? Tiba-tiba ngilang dan sekarang telat dateng. Semuanya udah nungguin dari tadi. Ya udah, sekarang selesaikan tugasmu!”


Zalfa duduk di sisi Arkhan. Sedikit pun ia tidak menoleh ke arah pria itu, ia sadar telah melakukan kesalahan dan ia tidak mau menatap sorot tajam mata Arkhan yang siap menghakiminya.


Penghulu tersenyum lega melihat kedatangan mempelai wanita. Akad nikah pun dimulai dengan membaca basmallah. Arkhan mengerjakan kewajibannya sebagai mempelai laki-laki dengan sempurna. Ia menjawab qobul dengan baik, melafazkan mahar berupa ayat-ayat yang diminta mempelai wanita dengan baik, juga dengan tenang dan penuh percaya diri.


Acara selesai dan ditutup dengan hamdallah. Disaat hadirin bangkiit berdiri bersiap hendak meninggalkan lantai masjid, Zalfa dan Arkhan saling pandang, masih duduk di tempat yang sama saat mereka melangsungkan ijab qobul.


“Apa yang membuatmu telat datang?” tanya Arkhan dengan geram.


Zalfa mengedarkan pandangan ke sekeliling, takut suara Althf terdengar orang lain.


“Kita pulang saja. Kita bicarakan ini nanti.” Zalfa bangkit berdiri dan berjalan menuju ke luar masjid.


Kesal akan sikap Zalfa, Arkhan mengikuti gadis itu.


Arkhan meraih lengan Zalfa saat mereka sudah sampai di parkiran masjid.


Zalfa menatap lengannya yang berada di genggaman Arkhan. “Bisakah kamu mengajakku bicara tanpa harus main tarik tanganku?”


Arkhan melepas pegangan tangannya di lengan Zalfa. “Jawab pertanyaanku, kamu kemana sampai harus telat datang? Bahkan Ismail dan kakak iparmu tidak tahu dimana keberadaanmu. Ini lucu. Kamu hampir mempermalukanku, sepuluh menit saja kamu belum juga muncul, aku sudah berniat akan membatalkan pernikahan ini. Andai saja itu benar terjadi, kamu akan tahu sndiri akibatnya.”


“Kamu mengancamku?” Zalfa menatap kekesalan di wajah Arkhan.


“Ya. aku sama sekali tidak diuntungkan dari pernikahan ini. kamulah yang mendapat keuntungan dari pernikahan ini, tapi justru kamu yang seperti melecehkannya. Sekarang jawab aku, kemana kamu tadi pergi sampai harus telat datang?”


Zalfa tercekat dan tidak bisa menjawab. Apakah mungin ia harus berbohong?


“Jawab!” gertak Arkhan membuat pandangan orang-rang yang melintas keluar dari masjid tertuju ke arah Arkhan dan Zalfa.


Zalfa tersenyum seperti sedang berakting untuk membuat pandangan orang-orang yang melihat menjadi berpikiran positif. Ia menyentuh lengan Arkhan penuh kemesraan dan berkata, “Sepertinya kamu haus dan butuh air minum. Bagaimana kalau kamu minum dulu?”


Arkhan memahami sikap Zalfa yang berpura-pura mesra untuk menutupi keadaan di mata banayk orang, tapi ia tidak perduli hal itu.


TBC