
Zaki menghentikan mobil di tepi jalan. Kemudian ia mengeluarkan kotak cincin berwarna merah yang tadi ia terima dari penjual toko emas.
“Lepas dulu cincinmu!” titah Zaki.
Cyra melipat dahi hingga alisnya yang seperti bulan sabit hampir menyatu. “Kok, cincinnya diminta balik? Ini sebenernya cincinnya buat aku atau aku Cuma sekedar disuruh nyobain doang?”
Zaki menyodorkan kotak cincin ke depan wajah Cyra. Tubuhnya sedikit berputar hingga menghadap Cyra. Telunjuk tangan kirinya menjulur dan menoyong kening gadis di hadapannya itu.
“Kamu tuh ya, aku beli cincin itu ya buat kamu. Untuk ngelamar kamu. Atau untuk tunangan sama kamu. Atau untuk cincin kawin. Terserah kamu maunya stempel yang mana. Tapi kalau sekarang cincinnya udah kamu pakai, entar pas acara tiba dan cincinnya nggak ada sama aku, trus aku mau ngasih kamu apa? Karet, hm?” Zaki menaikkan alis.
“E he heee… Sorry, kirain cincinnya mau diminta kagi.” Cyra cengengesan sambil melepas cincin. “Eh, aduh ini cincinnya kok kesat banget, susah dilepasin.” Cyra tampak kesulitan melepas cincin.
Zaki mengamati Cyra yang terlihat kesulitan melepas cincin, seperti sedang mengeluarkan tenaga ekstra. Dalam hati Zaki bertanya-tanya, bukankah cincin itu tadi begitu mudah saat masuk ke jari manis Cyra? Tapi kenapa sekarang jadi sulit dilepas?
Zaki meletakkan kotak cincin ke atas dashboard. “Sini biar aku bantu melepasnya.” Pria itu menjulurkan tangannya. Satu tangan memegangi pergelangan tangan Cyra, tangan satunya lagi menarik cincin dari jari manis gadis itu. Sekali tarik, dengan mudahnya cincin langsung terlepas.
Zaki menatap Cyra heran. “Ini bisa langsung terlepas,” protesnya.
“Ha ha haaa… Sengaja, biar kamu pegang tanganku.”
“Hmm… Jadi mincing-mancing, nih?” Zaki memasukkan cincin ke tempatnya. “Jangankan tanganmu, yang lain pun akan kupegang kalau aku mau.” Zaki memajukan tubuhnya.
“E ee eeh… mau ngapain hayo!” Cyra menahan dada Zaki dengan kedua tangannya.
Zaki tersenyum. “Boleh cium?”
Cyra menggeleng seraya menatap wajah tampan Zaki. Deuuh… Muka Zaki ganteng banget. Hidungnya mancung, bibirnya merah, pokoknya bikin Cyra gemeees. Meski kepalanya menggeleng, hatinya terasa deg-degan dan berharap bisa memeluk pria itu. Ah, cepetan halalin aja deh dari pada kayak gini. Cyra nyengir.
Dengan gesit, Zaki menyingkirkan kedua tangan Cyra dari dadanya sebelum sempat Cyra menyadari gerakannya.
Cup! Bibir basah Zaki mendarat tepat di pipi Cyra. Pria itu kemudian tersenyum.
Cyra hanya bisa melongo merasakan pencurian kecupan itu sambil menatap wajah Zaki yang masih berada sangat dekat dengan wajahnya. Nafas Zaki menyapu lembut pipi Cyra. Setiap kali wajah mereka berada di posisi sedekat itu, Cyra selalu saja teringat kejadian saat ia mencuri ciuman Zaki, juga sebaliknya.
“Pak dosen kok ngajarin yang enggak-enggak sama mahasiswinya?”
“Maaf.” Zaki menjepit ujung hidung mungil Cyra dengan apitan jempol dan jarinya. Kemudian ia menjauhkan badannya dari Cyra. “Jadi kamu maunya aku ngelamar kamu, atau kita tunangan dulu, atau langsung nikah, nih?”
Cyra tersenyum. “Nikah?”
“Hm…” Zaki menyalakan mesin mobil dan menjalankannya. “Ngapain nunggu lama-lama?”
“Nikahnya entaran dulu, tunggu aku lulus kuliah.”
“Jadi, aku ngelamar kamu aja dulu?”
“He’em.”
“Okey.”
TBC
KLIK LIKE YAAA