
Sementara Rere dan yang lainnya tertawa-tawa menonton video yang diputar. Mereka menertawakan Kiwol yang selalu lucu, tampil di panggung menunjukkan aksi komedinya, dan hal itu sempurna membuat anak-anak tertawa lepas.
“Eh, Cyra mana? Dari tadi nggak balik-balik?” Rere menoleh ke belakang tempat tadi Cyra duduk.
“Palingan lagi kangen-kangenan sama pak Zaki. Udah tengah male mini.” Bianca menatap arloji di tangannya.
“Gue pipis dulu ah. Tapi Wc-nya dimana?” Rere bangkit berdiri dan menoleh ke kiri kanan kebingungan.
“Ke belakang aja sono! Cariin aja pintu yang kira-kira isinya tuh WC.”
Rere berlari menuju kamar kecil. Ia sempat bingung harus berbelok ke arah mana saat menemukan ruangan yang memiliki banyak pintu. Namun akhirnya ia menemukan pintu yang menurutnya adalah pintu kamar kecil. Benar dugaannya, ia memasuki kamar kecil.
Baru saja ia menekan handle pintu untuk membuka, ia terkejut melihat sesosok tergeletak di lantai toilet.
“Cyraaaa!”
***
Cyra membuka matanya. Yang pertama menjadi objek pemandangannya adalah wajah Zaki. Ia melihat tangannya berada dalam genggaman suaminya itu.
“Sayang, kamu udah siuman! Syukurlah. Aku cemas banget dengan kondisimu.” Zaki bersyukur melihat Cyra membuka mata. Wajahnya yang dipenuhi kecemasan pelan terlihat lega.
“Aku dimana?” Tanya Cyra seraya menatap ruangan sekitar.
“Di rumah sakit.”
“Loh? Kenapa?” Cyra yang tidak menyadari kejadian yang menimpanya pun bingung.
“Kamu ditemukan nggak sadarkan diri di kamar kecil. Aku langsug membawamu ke sini.”
Cyra terdiam mengingat-ingat kejadian terakhir yang menimpanya. Dan sekarang dia ingat semuanya. “Kepalaku pusing banget. Aku kenapa ya? Apa aku gagar otak? Kanker? Atau ada penyakit parah lainnya?”
“Ssst… Jangan menduga yang enggak-enggak. Kita tunggu penjelasan dokter.” Zaki mengelus rambut Cyra.
“Trus Sifa dimana?”
“Sifa ada di kursi tunggu.”
“Ditungguin sama temen-temenmu. Temen-temenmu ikut ke rumah sakit juga. Mereka juga menunggumu.”
“Oh.”
Tak lama kemudian Surya dan Alya, orang tua Zaki datang, mereka langsung masuk ke kamar Cyra. Dengan raut cemas, Surya mendekati bed tempat Cyra berbaring. Mereka langsung ke rumah sakit seletah Zaki mengabari kondisi Cyra. Sedangkan Andini dan belum diberi kabar.
“Cyra, apa yang terjadi?” Surya menatap wajah Cyra yang masih memucat.
“Kenapa bisa sampai begini? Kamu kenapa, Cyra?” Alya menunjukkan raut cemas yang sama seperti Surya.
“Tunggu penjelasan dokter, Ma,” jawab Zaki.
“Kenapa tengah malem bisa sampai pingsan di kamar mandi? Apa Cyra kecapean? Apa yang dia kerjakan kok bisa sampai begitu kejadiannya, Zaki?” berondong Alya mencemaskan menantu yang selama ini sudah sangat baik terhadapnya. “Kamu kurang perhatian sama Cyra pastinya tuh.”
“Ini bukan kesalahan Zaki, Ma. Zaki udah sangat sempurna menjadi suami. Aku sama sekali nggak kelelahan. Aku nggak tau akhir-akhir ini suka pusing,” sahut Cyra sebelum Zaki menjawab.
“Ya ampun, mudah-,mudahan nggak ada hal buruk, mudah-mudahan hanya sebatas pusing biasa aja.” Alya tampak khawatir.
Sejurus pandangan tertuju ke arah pintu yang terbuka dan melihat dokter yang masuk ke ruangan.
“Dok, apa yang terjadi dengan istri saya?” Tanya Zaki.
Dokter mendekati bed tempat Cyra terbaring kemudian berkata, “Nyonya Cyra Nadira hanya butuh istirahat yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang memiliki nilai asupan tinggi gizi. Nyonya Cyra kondisi tubuhnya sedang mengalami perubahan hormon akibat permulaan masa kehamilan.”
Semuanya terbelalak kaget.
“Dok, istri saya hamil?” Zaki ingin meyakinkan.
“Ya, benar. Kehamilannya memasuki enam minggu,” jawab dokter.
“Alhamdulillah…” Zaki sontak membungkukkan tubuh dan meletakkan kening ke lantai rumah sakit, lutut dan telapak tangan turut serta menempel di lantai. Ia tak perduli seberapa kotor lantai yang menempel di hidungnya. Tak perduli pula hidung mancungnya itu sempat kejeduk lantai dan rasanya ya ampun, nyeri bukan main.
TBC
TBC