
“Aku ada sedikit masalah dengan Arkhan,” ucap Zalfa lesu. Ia terlihat murung. Dia sendiri kurang memahami perasaannya itu. Kenapa mendadak tidak nyaman saat itu.
“Arkhan? Jadi kau bersamanya?” Tanya Ismail dengan dahi mengernyit.
Zalfa mengangguk. “Tasku tertinggal sehingga aku nggak tahu kalau mas meneleponku. O ya, aku ingin bicara sesuatu tentang Arkhan.”
Ismail menatap Zalfa serius. “Katakan!”
“Aku akan menikah dengannya.”
“Meski dia bukanlah muslim? Apa dia mau masuk Islam? Mustahil kamu pertaruhkan agamamu. Apa dia bersedia menikahimu?” Entah kenapa sekarang malah ismail yang berbalik meragukan.
Baru saja Zalfa hendak membuka mulut untuk menjawab, Atifa sudah menyanggah.
“Aku setuju pria yang telah merusak kesucianmu itu menikahimu, tapi bagaimana bisa kamu menikah dengan laki-laki yang nggak seiman?” sahut Atifa. “Meski aku mendukung kamu menikah dengan Arkhan, tapi inget Zalfa, carilah imam yang bisa jadi tauladan bagi anak-anakmu kelak. Jangan cari yang nggak seiman. Bisa hancur rumah tanggamu. Emangnya kamu mau nikah sama cowok yang bukan kaum Rosul? Terus keturunanmu nanti bingung mau ngikutin bapaknya apa ibunya. Pokoknya kacau. Makanya dilarang punya suami non muslim, sebab dia yang akan menjadi imam dan pemimpin di rumah tanggamu.”
“Apapun itu, Arkhan tetap harus menikahi Zalfa.”
“Kamu ini gimana sih, Mas?” Sontak Atifa langsung protes keras. “Kok malah menjerumuskan adikmu ke jalan yang nggak bener? Mana mungkin Zalfa menikah sama laki-laki non muslim. Gimana rumah tangga bisa berjalan di atas keluarga yang nggak seiman? Aduuuhh… Jangan bikin masalah Zalfa tambah rumit, deh.”
“Zalfa harus bisa membawa Arkhan menjadi mualaf. Itu akan jadi amal Zalfa yang luar biasa karena berhasil menambah daftar umat muslim.”
Atifa diam menerima pendapat suaminya. Zalfa hanya bisa menatap Ismail tanpa bicara. Sampai detik ini cinta Zalfa masih sangat subur terhadap Faisal. Ia hanya sedang berusaha move on dan mengikuti arah hatinya.
Pandangannya kini tertuju pada sosok pria yang berdiri di seberang kamarnya. Tetangga yang kamarnya berada tepat berhadapan dengan kamarnya itu ternyata juga sedang berdiri di jendela menikmati angin malam. Lelaki itu membawa segelas susu hangat dan sesekali menyesapnya. Rumah Soleh sangat besar dan mewah, entah kenapa pria itu lebih memilih tidur di kamar lantai bawah ketimbang kamar besar lainnya di lantai atas.
“Malem, Zalfa. Belum tidur?” tanya Soleh.
Zalfa tersenyum dan menjawab, “Baru pulang dari kafe.”
“Ooh... Gimana kafemu? Makin sukses?”
“Alhamdulillah.”
“Mau minum?” Soleh menunjukkan gelas yang dipegang.
“Gelasmu bisa pecah kalo aku mengiyakan. Gimana caramu ngelemparin gelasmu ke sini?” gurau Zalfa melihat jarak jendela mereka yang tidak bisa ditempuh dengan melompat.
“Kita bisa minum kopi hangat di teras.”
Lagi-lagi Zalfa tersenyum, kemudian menggeleng. “Aku capek banget. Mau tidur.”
TBC