
Tiba-tiba Cyra mendengar suara langkah kaki yang sumbernya dari arah sudut taman, dan ia melihat sosok pria melangkah meninggalkan taman. Di bawah sinar lampu benderang, wajah Zaki tampak jelas tidak enak dipandang mata. Ia mengenakan celana selutut dan kaos hitam.
Zaki melangkah menuju gerbang dan Cyra langsung mengejar pria itu.
“Zaki, tunggu!”
Zaki menoleh ke arah Cyra, ekspresinya masih tetap sama. Tidak bersahabat. Meski begitu, gantengnya tidak berkurang. Apa lagi wajah itu sudah tidak lebam lagi. Cakep dah ah.
“Kok, pergi?” Cyra mengangkat alis.
Zaki menghadap Cyra. “Terus?”
“Katanya mau ketemuan.”
“Lain kali aja.”
“Kamu marah?”
“Udah malem, Ra. Nggak enak sama orang tuamu.”
“Ya tapi kan mukanya jangan ditekuk gitu, dong. Masak Cuma gara-gara aku nggak angkat telepon dan nggak bales pesan, kamu trus ngambek gitu. Aku tadi makan bersama mama papa dan hp tinggal di kamar. jadi aku nggak ngeliat pesanmu.”
“Aku nggak ngambek. Liat deh ini kulitku bentol semua digigitin nyamuk. Setengah jam lebih aku nungguin kamu di sana, jadi makanan nyamuk.” Zaki menggaruk tangannya.
Cyra meraba kulit tangan pria itu. dan benar saja, kulit pria itu bentol-bentol. Hampir saja Cyra menertawakan Zaki. Tapi ditahan, takut muka Zaki jadi tambah horor. Zaki kan sewotan, galak lagi.
“Apa salahnya kamu panggil aku ke dalem?” tanya Cyra.
“Aku nggak nyangk aja kalau bakalan kelamaan nunggu. Kirain kamu bisa cepet keluar. ya udah aku pulang.”
“Eh, tunggu!” Cyra meraih pergelangan tangan Zaki.
Zaki menoleh dan mengangkat alis. “Kenapa?”
“Kamu jadi bantuin aku susun skripsi, kan?”
“Udah telat, Ra. Tawaran nggak bisa dua kali.”
Cyra mendengus sebal. Zaki udah kayak tukang jual alat-alat masak yang lagi promo aja, romo nggak bisa diulang dua kali. Buset.
“Kok, gitu, sih? Bantuin, ya!” Cyra memohon sambil mengguncang lengan Zaki.
“Pikir-pikir dulu deh, Ra. Tunggu mood baik baru kujawab.”
“Astaga, jangan jual mahal ngapa. Kalau aku cepet selesai susun skripsi dan cepet diwisuda, kamu juga yang untung, kan?”
“Untung? Dimana letak untung buatku?” Zaki mengernyit tak mengerti.
Nah, seneng banget deh kalau melihat dahi Zaki mengernyit, tambah ganteng. “Kalau aku cepet wisuda kan aku bisa langsung cepet kamu halalin.”
“Ya udah, cium aku dulu, baru kujawab.” Zaki menyeletuk dengan entengnya.
Cyra membelalak. “Syaratnya gitu amat?”
“Mau nggak?”
“Malu, ih.”
“Dulunya juga nggak tau malu, kenapa sekarang mendadak jadi tau malu begini?”
Cup! Cepat-cepat Cyra memajukan wajahnya, sedikit berjinjit saat mengecup pipi Zaki.
“Ciumanmu nggak berlaku. Aku belum bilang mananya yang harus dicium,” protes Zaki.
“Astaga, Zaki. Jangan macem-macem, deh. Jadi cium apanya? Kening?”
“Ini.” Zaki menunjuk bibirnya dengan telunjuk.
“Kamu dosen tapi mesum amat. Masak dikit-dikit mau cium bibir mulu?” Muka Cyra merah merona.
“Mau nggak?”
Cyra menatap wajah Zaki yang berhadapan dengannya. Entah kenapa ia mendadak deg-egan. Kalau aktifitas itu dilakukan atas dasar perintah, rasanya kok jadi malu banget. Coba main sosor aja, nggak ada istilah malu.
“Ogah, ah,” ucap Cyra akhirnya.
“Ya udah, aku pulang.” Zaki mengusap pucuk kepala Cyra dan balik badan.
“Tapi tetep mau bantuin aku, kan?” seru Cyra.
Zaki melenggang meninggalkan Cyra sambil melambaikan tangan, tanpa menoleh ke arah Cyra.
***
TBC
**Ayo guys, dukung cerita ini dengan klik detil cerita PACARKU DOSEN. Lalu klik aja gambar bertuliskan happy new years seperti yang kukasih tanda panah pada gambar di bawah, kemudian ucapkan selamat tahun baru di sana.
Yang baca PACARKU DOSEN tuh ratusan ribu tapi yang ngasih ucapan Cuma dua ratusan doang, sedih aku tuh. 😭😭😭**
Liat aja contoh gambar di bawah ini, klik aja gambar yang kuksaih panah dan ucapin selamat tahun baru di sana :
Ingat, ngucapin selamat tahun barunya bukan di kolom komentar cerita ini, yah. Tapi di gambar yang kutunjuk pake panah itu. Makasih yang udah pada ngucapin.