PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 58


“Pst... Dia itu siapa, Zalfa?” Salah seorang teman Zalfa menanyakan Arkhan sembari menunjuk pria itu dengan alis yang terangkat.


“Keren,” bisik yang lainnya sembari menyenggol kaki Zalfa dari bawah meja.


Zalfa tidak memungkiri kesempurnaan yang Arkhan miliki secara fisik. Semua wanita pasti akan terkesima dengan kesempurnaan yang dimiliki Arkhan.


“Zalfa, siapa dia?” Teman Zalfa kembali melontarkan pertanyaan yang sama karena tidak mendapat jawaban.


“Aku calon suami Zalfa,” jawab Arkhan sebelum sempat Zalfa menjawab.


Zalfa terperanjat mendengar pengakuan Arkhan. Setahu teman-temannya, calon suami Zalfa adalah Faisal. Dan sekarang tiba-tiba Arkhan mengaku demikian beberapa saat setelah Faisal dikabarkan tenggelam di kapal yang dia tumpangi. Ah, Zalfa malas mendebat.


Zalfa akhirnya mengalah, ia bangkit berdiri dengan perasaan berkecamuk. Benarkah Arkhan akan menjadi suaminya? Kenapa perasaan Zalfa kini semakin ragu dan takut? Jika Arkhan telah mengucap syahadat, maka tidak ada alasan lagi untuk Zalfa menunda pernikahan.


“Aku tinggal dulu.” Zalfa berpamitan pada teman-temannya kemudian balik badan dan melangkah keluar diikuti oleh Arkhan.


Nada dering masuk membuat langkah Zalfa terhenti. Segera ia menjawab telepon, pangilan dari ustad Dahlan.


“Wa‘alaikumussalam, Ustad. Ooh... Baiklah. Saya mengerti. Tidak masalah. Assalamu’alaikum...” Zalfa memutus sambungan telepon. Pandangan matanya tertuju ke arah Arkhan. “Arkhan!”


Yang dipanggil menghentikan langkah saat melintasi Zalfa. “Ada apa?”


“Ada sedikit halangan hingga Ustad Dahlan nggak bisa kita temui hari ini.”


“Oke. Jadi kapan?”


“Besok. Bertepatan di acara tausiah yang Ustad Dahlan isi di masjid besar.”


“Whatever.” Arkhan melenggang pergi.


***


 


 


Arkhan memasuki kamar, menunggu Elia keluar dari kamar mandi.


Tak lama kemudian yang ditunggu keluar juga. Sekilas Elia menatap kakaknya kemudian melengos menuju ke ranjangnya.


Begitu saja? Biasanya Elia selalu histeris setiap kali melihat Arkhan pulang ke rumah. Dan sekarang ia dicuekin. Mungkin Elia masih kesal karena tadi tidak diperbolehkan ikut.


“Apa kamu nggak suka aku datang?” tanya Arkhan dengan nada menggoda.


Elia melirik saja, masih manyun. Kemudian berpaling.


Oooh… Jadi begini yang namanya Elia jika sedang ngambek? Arkhan mendekati Elia dan berdiri tepat di hadapan adiknya itu. “Ini buatmu,” serunya seraya memperlihatkan sebuah benda ke depan muka Elia.


Elia terbelalak dan menjerit girang menatap lukisan yang diberikan.


“Ini buatku?” tanyanya dengan mata membulat dan pipi terbagi dua akibat senyumnya yang lebar.


“Hm..” Arkhan mengangguk.


Elia merampas lukisan itu dan memeluknya erat di dada. Kemudian melompat-lompat sembari terus mendekap lukisan itu.


“Bagus banget. Lukisannya bagus banget. Aku sukaaaaa… Aku suka banget, serius.”


Arkhan duduk di sisi spring bed seraya mengamati kegirangan adiknya. Tak pernah ia melihat Elia segirang itu sebelumnya, meski dikasih uang, boneka, makanan enak, dan diajak main game, ekspresi yang tersalur tidak seheboh itu. Sebesar inikah pengaruh lukisan Zalfa untuknya?


Pandangan Arkhan mengedar ke satu sisi dinding, tepatnya dinding yang berhadapan langsung dengan Elia jika Elia terbaring tidur di ranjang. Di sana tertempel berbagai macam lukisan dan gambar. Disusun berjejer, dilengketkan antara satu lukisan dan lukisan yang lainnya hingga terbentuk lingkaran unik. Kreatif.


TBC