
“Faisal,” panggil Bu Fatima membuat langkah kaki Faisal terhenti dan menoleh.
Bu Fatima memperhatikan penampilan Faisal yang rapi, aromanya yang wangi dan wajah cerah berbinar.
“Kenapa, Bu? Bicaralah, aku ingin segera pergi menemui Zalfa, aku yakin dia pasti sedang menungguku sekarang.” Faisal tampak tak sabar ingin segera melangkah keluar kamar.
Melihat Faisal bersemangat, Bu Fatima malah terdiam.
“Tadi kamu sudah menceritakan tentang apa yang terjadi padamu selama kamu menghilang, maka inilah saatnya Ibu yang bercerita tentang apa yang terjadi di sini selama kamu pergi.” Bu Fatima mendekati Faisal.
Faisal mengernyitkan dahi. Bertanya-tanya melihat muka Ibunya yang kian menegang.
“Bicaralah!” ucap Faisal menunggu dengan sabar. Kedua ujung tangannya masuk ke kantong celana.
“Lupakan Zalfa. Zalfa sudah akan menikah.”
Suara itu tidak keluar dari mulut Bu Fatima, melainkan dari Pak Ibrahim yang kini tengah berdiri di ambang pintu.
Faisal tidak menunjukkan ekspresi terkejut, tidak bertanya banyak, juga tidak terlihat shock. Pak Ibrahim terpukul melihat sikap Faisal yang tenang setelah tadi tampak bersemangat ingin menemui Zalfa. Justru sikap Faisal yang diam dan menunduk membuat Pak Ibrahim mengerti bahwa Faisal sedang menahan berbagai macam rasa yang berkecamuk di dalam hatinya.
Faisal tidak sanggup bicara lagi. Sudahkah hati Zalfa terisi dengan lelaki lain? Apakah nama Faisal sudah terhapus dan tergantikan? Tidak. Faisal ingin Zalfa mempertahankan hubungan mereka. Sampai detik ini, Faisal masih mengharapkan cinta mereka bersatu. Jika memang Zalfa sudah menemukan pengganti dirinya, kenapa ia melihat tatapan penuh cinta dari mata Zalfa saat di bandara?
Pak Ibrahim berjalan mendekati Faisal. “Bukan salah Zalfa jika dia mencari pendamping hidup. Sebab selama kepergianmu, semua orang pasti beranggapan bahwa kamu sudah tiada, meski harapan mereka berkata lain. Dan selama kepergianmu, Zalfa adalah orang yang paling menderita karena harus berperang dengan perasaannya sendiri demi merelakan kenyataan itu. Banyak hal yang sulit dijelaskan hingga Zalfa mengambil jalan untuk menikah dengan pria lain di waktu yang belum lama sejak kamu dinyatakan menghilang.”
Penjelasan Pak Ibrahim sempurna membuat Faisal membeku di tempat. Benarkah? Benarkah Zalfa telah menemukan lelaki lain untuk menggeser posisinya? Ya Tuhan, sakit sekali mendengar kenyataan itu. Faisal ingin bertatap muka dan bicara empat mata dengan Zalfa. Faisal ingin mendengar langsung penjelasan dari Zalfa.
“Faisal,” panggil Bu Fatima dengan sorot mata tajam. “Kamu mau kemana?”
“Menemui Zalfa.”
“Meski setelah penjelasan yang kamu dengar?”
“Ya.”
“Hari ini Zalfa akan menikah, tidak perlu lagi kamu temui dia.”
“Jika akad nikah belum terucap, aku masih memiliki waktu untuk memperistri dirinya.”
“Jangan langkahkan kakimu menemui wanita itu. asal kamu tahu, baru beberapa minggu kamu pergi ke luar kota meninggalkan Zalfa, wanita itu sudah tidur dengan pria lain. Wanita macam apa dia?”
“Bu, jangan teruskan!” larang Pak Ibrahim.
“Biar Faisal tahu yang sesungguhnya, biar dia tahu wanita seperti apa yang dia anggap bidadari itu.”
Pak Ibrahim tidak menanggapi ucapan istrinya, ia menatap Faisal dan berkata, “Memang benar Zalfa sudah berada di ambang pernikahan dengan lelaki lain. Tapi kita tidak tahu alasan dibalik pernikahannya, Bapak yakin ada hal yang tidak kita ketahui kenapa Zalfa bisa melakukan hal ini. dia wanita baik. Dalam hal ini, Bpak setuju dengan ibumu agar kamu tidak lagi mengganggu Zalfa. Tapi maksud Bapak bukan berarti alasan Bapak melarangmu ini sama dengan pemikiran ibumu. Bapak berkata begini karena menurut Bapak tidak benar jika kamu datang kepada Zalfa untuk mengacaukan rencana indah pernikahan mereka.”
Faisal diam. Hanya menatap Ibu dan ayahnya silih berganti.
TBC