PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
207. Extra Part 17


Cyra merenungi nasibnya. Ternyata mencari nafkah itu tidak mudah. Mungkin ia terlalu takabur mengatkan kalau mencari nafkah adalah hal mudah. Dan akhirnya Tuhan menunjukkan yang sebenanrnya, bahwa mencari nafkah memang membutuhkan kesabaran, menguras pikiran dan tenaga.


Cyra pulang ke rumah. ia mengeluarkan amplop berisi upahnya. Di perusahaan tempatnya bekerja, karyawan digaji setiap seminggu sekali. Dan ia sudah menerima upah pertamanya. Ia melihat isi amplop. Nominalnya memang lumayan, tapi masih kurang jika dibandingkan dengan uang pemberian Zaki. Cyra merasa minder jika harus menyerahkan uang itu kepada Zaki.


Cyra menatap Zaki yang baru saja muncul dari ruangan lain menggendong Sifa. Pria itu kelihatan kusut, rambut berantakan seperti tidak disisir, serta celana pendek selutut dan kaos oblong. Ia seperti melihat sosok lain, pria yang ada di hadapannya itu seperti bukan Zaki. Biasanya Zaki kerap berenampilan rapi dan wangi, tapi sekarang berbeda.


“Mm... Ini uang untuk belanja.” Cyra menyerahkan amplop di tangannya dengan raut tidak percaya diri.


Zaki hanya menatap amplop itu tanpa menerimanya.


“Ambilah!” ucap Cyra.


“Mau sampai kapan kita begini?”


Pertanyaan Zaki membuat Cyra mengernyit.


“Masa cutiku sebentar lagi habis,” ucap Zaki. “Apakah kamu benar-benar mau bertukar posisi begini untuk selamanya? Kalau memang itu maumu, aku akan resign sebagai dosen di kampus. Aku akan menjadi dosen di rumah aja.”


Cyra diam saja dengan tatapan penuh penyesalan. Wajahnya telah mewakili perasaannya juga lelah di tubuhnya.


“Aku ternyata salah, setelah aku mengerjakan pekerjaaan wanita, aku baru sadar bahwa ternyata wanita itu tangguh,” lanjut Zaki sembari meletakkan tubuh Sifa. Bocah itu pun duduk di lantai dan menggaruk-garuk lantai dengan jemari kecilnya. “Dan laki-laki nggak akan bisa menggantikan wanita. Kamu luar biasa, sayang. Kamu sanggup mencari nafkah, kamu juga sanggup saat posisimu menjadi ibu untuk Sifa. Tapi aku enggak, aku nggak sanggup, sayang. Aku nggak sanggup menjadi seperti dirimu. Aku menyerah, biarkan aku yang mencari nafkah untukmu dan Sifa.”


Ekspresi Cyra berubah cerah dan matanya berbinar. “Maafin aku, sayang. Aku nggak seharusnya meremehkanmu. Aku nggak sekuat yang kamu duga. Aku lelah kalau harus fokus mencari nafkah dan menjadi tulang punggung keluarga. Aku nggak sanggup. Justru kamu yang hebat karena mampu menjadi ibu untuk Sifa.”


Zaki tersenyum. Suasana kaku yang tercipta akhirnya memuai dan berubah menjadi tenang.


“Aku juga minta maaf.”


“Kamu maafin aku?” Cyra terharu.


“Tentu.”


“Aku juga.”


Cyra menghambur dan memeluk Zaki, Zaki membalas pelukan Cyra dengan erat. Bibirnya mendarat di atas kepala Cyra dan menciumi rambut wangi itu.


“Lusa jangan lagi jahatin aku,” ucap Cyra di dalam pelukan Zaki.


“Aku nggak pernah jahat sama kamu. Kamu yang sensitif sama aku.” Zaki mencubit kecil pinggang Cyra.


Yang dicubit tersenyum dan mempererat pelukan.


“Kamu mencium aroma aneh nggak?” tanya Zaki.


“Enggak.”


“Wajahmu berada hampir sejengkal dari ketiakku. Dan aku belum sempet mandi.”


“Nggak apa-apa. Badanmu wangi kok.”


“Serius?”


“He’em.”


Cyra dan Zaki kini menyadari satu hal, bahwa Tuhan telah menciptakan pria dan wanita sesuai dengan kodratnya. Dan Tuhan telah melebihkan laki-laki dari wanita, sudah sepatutnya pria yang mencari nafkah karena dilebihkan tenaga dan lainnya.


Pelukan mesra keduanya terpisah saat jerit tangis Sifa pecah.


***