PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 51


“Apa kau akan menemui seorang gadis?” Elia curiga menatap wajah Arkhan.


“Ya,” tegas Arkhan tanpa perduli penilaian adiknya. Peduli amat dengan isi kepala si tukang rebut itu, yang jelas Arkhan akan pergi.


“Apakah gadis yang kemarin itu? Zalfa-kah?” selidik Elia. “Apa kau menyukainya?”


“Dia akan menjadi kakak iparmu.” Arkhan menyahut dengan sangat ringannya.


Elia mengernyit. “Aku menyukai gadis sopan itu, tapi bukan berarti kau menikahinya. Dia seorang muslim. Kau dan dia berbeda keyakinan.”


“Tidak masalah bagiku.” Arkhan tampak rileks.


Bu Maria yang berdiri di antara ruangan, terlihat menyimak perbincangan kedua anaknya.


Arkhan menoleh kepada Mamanya kemudian bertanya, “Menurut Mama, Zalfa itu gimana? Apakah dia bisa menjadi istriku? Dia seorang muslim.”


“Kelihatannya dia muslim yang baik. Dia juga sopan,” jawab Bu Maria subyektif. Sesuai dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak membenci Zalfa dan juga tidak memujinya.


Elia kalah telak. Kalimat Arkhan sontak membuatnya membeku di tempat. Tidak ada lagi alasan baginya untuk menolak. Apa lagi Mamanya terlihat cuek. Sama sekali tidak mempermasalahkan jika puteranya menikahi Zalfa. Pelan hatinya juga mengakui bahwa Zalfa memang perempuan yang baik.


“Jika Mama nggak keberatan, aku akan menikahinya secepatnya,” lanjut Arkhan sembari menatap wajah Mamanya yang tenang.


Bu Maria diam saja. Tidak menolak, juga tidak mengiyakan.


“Mama setuju dengan keputusanku?” tanya Arkhan berusaha mendapatkan jawaban.


“Mana yang menurutmu baik saja.”


Jawaban cuek namun melegakan. Arkhan mengangguk.


Arkhan tidak menyahut. Manik mata hitamnya melirik Elia dan tak perduli. Namun detik berikutnya ia mendekati Elia.


“Ini uang untukmu. Ambilah! Dan jangan ikuti aku.” Arkhan meletakkan uang ke tangan Elia dan membalikkan badan meninggalkan adiknya itu.


“Jadi kau benar-benar nggak ingin aku ikut denganmu?”


“Tidak,” jawab Arkhan tegas.


“Kau jahat. Kakak macam apa kau ini? Aku ingin kau mengajariku melukis. Aku mau ikut lomba melukis. Apa kau nggak mau ngajarin aku?”


Arkhan berhenti melangkah namun tanpa menoleh. “Aku nggak punya kemampuan di bidang itu. Akan kucarikan guru melukis untukmu.”


“Aku nggak butuh guru melukis. Aku hanya butuh waktu bersamamu. Apa itu salah?” jerit Elia dongkol. Suaranya melengking, bahkan speaker pun kalah.


“Aku akan cepat kembali untukmu.”


“Apa setelah kau kehilangan Papa, kau juga mau kehilangan adik? Kau mau keluargamu bercerai-berai?”


“Elia…” Arkhan membalikkan badan dan menatap adiknya dengan sorot tajam. “Jangan bicara ngawur. Dan jangan berpikir berlebihan. Buang sedikit keegoisanmu itu. Aku janji akan kembali untukmu setelah urusanku selesai.” Arkhan melirik arloji branded di pergelangan tangannya. Ia tidak mau telat menemui Zalfa. Jika Elia terus merengek begini, ia bisa terlambat. Bukankah dirinya yang membuat janji? Setidaknya ia harus sudah berada di kafe lebih dulu. Ia tidak menyalahkan Elia atas sikapnya yang temperamental itu, sebab sikap itu menunjukkan rasa cinta Elia terhadap dirinya, meski cara yang dilakukannya salah.


Arkhan berbalik cepat meninggalkan Elia.


Elia meremas uang di tangannya dan berbalik memasuki kamar. Dengan kesal, ia membanting pintu kamar sekuat tenaga.


***


TBC