PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
199. Extra Part 9


“Halo, sayang! Apa kabar?” sambut Alya, saat Cyra datang memasuki rumah bersama dengan Zaki. Alya menyentuh lengan Cyra dan membimbingnya duduk ke sofa.


“Baik, Ma,” jawab Cyra.


“Mama kangen banget sama kalian. Baru aja mama sama papa ngobrolin tentang kalian dan berniat mau jengukin kalian ke sana, eh malah udah duluan kalian ke sini.”


“Mama nggak usah sering-sering ke rumah kami, biar kami yang ke rumah mama.”


“Ooh… Iya ya, kalian takut keganggu kalau mama sering-sering ke sana? Mama paham.”


Weeeh… Kok aku malah kena skak? Kan bukan itu maksudku.


“Mama udah pingin banget punya cucu. Kalian kan udah menikah setahun lamanya, apa belum ada tanda-tanda kalau Cyra hamil?”


Cyra jadi kikuk. Ia menatap Zaki emmohon bantuan untuk menjawab.


“Sabar, Ma. Ini juga lagi usaha,” jawab Zaki asal ceplos.


“Maklumlah, ini kan cucu pertama mama, jadi sangat dinantikan.”


“Aku dan Cyra udah ke dokter dan tes, kami sama-sama sehat. Mungkin memang belum dikasih aja,” sahut Zaki.


“Zaki, Cyra, kalian harus mengerti satu hal, kenapa kami sangat mengharapkan cucu dari kalian. Mungkin ini bukan hanya diharapkan dari pihak kami saja, tapi pasti juga dari pihak kedua orang tua Cyra. Itu karena kalian sama-sama anak semata wayang, dan keturunan dari keluarga kita hanya bergantung pada kalian.”


“Kami baru menikah satu tahun, Ma. Belum sepuluh tahun. Mama kayak kebakaran jenggot gitu. Malahan ada yang nikah sampai sepuluh tahun baru dikaruniai anak, kan?” celetuk Zaki sembari menuangkan air mineral ke gelas dan meneguknya.


“Setidaknya kalian berikhtiar, pikirkan kami yang sangat mengharapkan cucu dan belum tentu kami bertemu cucu jika harus menunggu sampai puluhan tahun lamanya.”


Cyra mulai risih dengan bahan pembicaraan. Ia tidak tahu kemana arah pembicaraan akan dibawa. Yang jelas batinnya mulai tidak nyaman.


“Bukan hanya mama yang menanti kehadiran bayi dan mendengar tangisnya, tapi kami juga sangat menantinya, Ma,” sahut Cyra. “Doain ya Ma, mudah-mudahan kami secepatnya punya anak.”


Satu jam saja Cyra dan Zaki berkunjung ke rumah Alya, kemudian mereka berpamitan dan pindah ke rumah depan, tak lain rumah orang tuanya Zaki.


Andini langsung memeluk Cyra saat ia membuka pintu dan menemukan putrinya di sana. Kecupan bertubi-tubi mendarat di kening gadisnya itu. Mamam Andini memang suka lebay, kayak nggak ketemu setahun aja. Padahal mereka selalu bertemu setiap seminggu sekali.


“Ayo, masuk!” Andini menggandeng lengan putrinya. Zaki mengikuti.


Farhan tersenyum lebar melihat kedatangan anak dan menantunya. Mereka semua duduk di sofa ruang tamu. Kemudian Zaki dan Farhan terlibat pembicaraan santai, mengobrol sambil tertawa hangat. Sementara Cyra dan Andini saling curhat. Cyra menyandarkan pkepalanya di lengan mamanya, semasa ia belum menjadi ibu, rasa manja tetap menjadi ciri khasnya terhadap Andini. Meskipun dulu Andini suka marah-marah terhadapnya, namun kini Andini terkesan lebih bersahabat.


“Jadi kapan kalian punya momongan?” tanya Andini seraya mengedarkan pandangan ke wajah Zaki dan Cyra silih berganti.


Nah, ini lagi. Kenapa pokok pembahasannya tidak pernah luput dari persoalan anak?


“Secepatnya. Kami nggak menunda momongan kok, Ma,” jawab Cyra.


“Kamu jangan malu-malu, Zaki. Setiap hari lakukanlah tugasmu sebagai suami biar bisa cepet dapet anak. Jangan pakai jeda, lama-lama pasti jadi.”


Hadeeeh… Mama kenapa ngomongnya ngelantur banget ya? Setiap hari? Yang ada gempor.


“Kami sangat mengharapakan cucu. Kalian sama-sama anak semata wayang, tentunya kami hanya berharap dari kalian. Benar, kan?” sahut Farhan dengan seulas senyum.


Kalimat itu kembali terdengar di telinga Cyra setelah tadi diucapkan oleh Alya.


“Cyra, untuk mengetes kemampuanmu sebagai ibu, menunjukkan bagaimana caramu mencurahkan kasih sayang ke anak, alangkah baiknya kamu mengambil anak yatim. Kalian asuh dan santuni anak itu. Mengasuh anak yatim itu baik, apa lagi untuk pasangan yang sedang mengharapkan anak seperti kalian,” ujar Andini yang terlihat begitu berharap bisa menimang cucu.


Cyra hanya tersenyum.


TBC