
Usai mandi, Cyra mengenakan pakaian santai. Hari ini ia tidak ada kegiatan. Ia memilih pakaian itu untuk bersantai ria di rumah. Zaki tidak ada di kamar, entah kemana pria itu.
Cyra keluar kamar dan menuruni anak tangga. Perutnya terasa lapar. Ia pun menuju dapur hendak memasak. Kepalanya berpikir, enaknya masak apa untuk sarapan pagi ini? Mungkin mie rebus, ikan sarden, mie goreng, sandwich, roti bakar, atau pasta goreng? Cyra harus memilih menu instan paling simpel supaya tidak ribet. Cyra kan tidak bisa memasak. Dia hanya bisa memasak yang instan-intsan saja.
Eh tunggu dulu, sebelum kakinya menginjak dapur, hidungnya sudah mencium aroma sedap. Apa ini? Cyra terkejut saat sudah menginjak lantai dapur dan melihat Zaki sedang membuat kue dadar. Pria itu mengangkat beberapa gulung kue dadar dari open dan meletakkannya ke dua piring, lalu membawa piring tersebut ke meja.
Cyra tersenyum menatap Zaki yang begitu cekatan memasak. Pria itu masih mengenakan celana pendek, tapi tidak lagi bertelanjang dada, dia sudah mengenakan kaos putih.
“Ayo, amkan!” Zaki duduk di kursi lalu menyorong satu piring ke arah Cyra.
“Thank’s, sayang! Kamu baik banget.” Cyra mendekati Zaki, merangkul pria itu dari arah belakang. Lalu mengalungkan lengannya ke leher Zaki. Bibirnya mendarat singkat ke pipi Zaki. “Seharusnya aku yang masakin kamu.”
“Siapa bilang mesti perempuan yang masak? Kewajiban suami itu memberi makan istri, bukan memberi bahan mentah pada istri dan menyuruhnya masak.”
“Yee... jadi tambah sayang.” Lagi-lagi Cyra mengecup singkat pipi Zaki.
Zaki tampak cuek. Ia menyantap kue dadar miliknya dengan menggunakan garpu.
Cyra menarik kursi di sisi Zaki, lalu duduk dan mendekatkan hidungnya ke kue dadar berwarna hijau di hadapannya. “Dari aromanya, aku jamin ini pasti enak.”
“Aku udah sering masak, jangan ragukan hasil masakanku. Aku tahu kamu nggak bisa masak makanya aku cepet-cepet masak.”
Cyra nyengir. “Jadi kamu masak karena kamu nggak mau ngerasain masakanku yang nantinya bakalan nggak enak? Aku kan bisa masak mie instan.”
“Itu nggak sehat. Lagian kita nggak punya stok mi einstan. Ya sudah, ayo makanlah! Biar kamu sehat dan cepet punya anak.”
“Apa? Punya anak?” Cyra mengerjap.
“Iya. Memangnya kamu nggak mau?”
“Tapi aku masih terllau muda untuk punya anak.”
“Jadi kamu mau menundanya?” Sorot mata Zaki terlihat tajam.
“Nggak gitu juga. Minimal dua tahun lagi.” Cyra tersenyum lebar berusaha mencuri perhatian Zaki supaya tidak menampilkan ekspresi sadis.
“Ooh... aku tahu, kamu hanya sedang ingin menghabiskan waktu bersamaku bukan?”
“Makan aja, entar kamu juga tahu rasanya.” Zaki mengunyah tanpa menoleh ke arah Cyra.
Cyra pun memasukkan kue dadar dan menggigitnya dengan ukuran besar. Ia yakin masakan Zaki pasti lezat.
Tiba-tiba lidah sampai tenggorokan Cyra terasa seperti terbakar saat mengunyah dan isi dari dadar tersebut mengolesi seluruh permukaan mulutnya, bahkan sudah ada yang tertelan. Pedas gilaaaa! Pedasnya terasa seerti sampai ke telinga.
“Aaaakh...” Cyra mengibas-ngibaskan tangan ke depan mulutnya. Akibat bingung, ia malah menepuk-nepukkan telapak tangan ke permukaan meja tanpa melakukan apapun.
Tidak ada yang dilakukan Zaki kecuali tertawa terbahak-bahak, meledek Cyra. Seakan ia puas melihat istrinya itu kepedasan.
Cyra sempat mencubit perut Zaki kuat-kuat sesaat sebelum ia menghambur mencari air minum di meja lainnya.
Cegluk cegluk... Cyra meneguk air minum dengan degupan kuat. Sial! Ia dikerjain. Baru saja ia merasa bangga karena sudah dimanjakan oleh masakan suami, eh ternyata semua itu hanyalah keisengan Zaki. Niat banget tuh orang ngerjain Cyra.
“Maaf!” Zaki sudah berdiri di hadapan Cyra dengan senyum lebar. “Lain kali hati-hati kalau makan.”
Cyra manyun menatap wajah Zaki yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya. Siaaal!
Zaki mendekatkan wajahnya dan mencium bibir istrinya. “Ya sudah, cepat tukar pakaianmu! kita sarapan di luar. Aku mandi dulu!” Zaki melenggang meninggalkan Cyra sambil tertawa tergelak.
“Zaki nyebelin!” Cyra menghela nafas panjang.
***
Halo, gimana sama extra partnya? Masih mau nambah lagi?
O ya, aku ada update cerita baru loh, judulnya DEAR BOSS.
Silahkan serbu ke sana ya, monggo dinikmati. Kisah tentang Jill yang jadi pusing tujuh keliling menghadapi bos garang yang sifatnya kayak bunglon, alias berubah-ubah. Mau nggak mau, Jill mesti menuruti semua perintah bos demi pekerjaan, termasuk perintah untuk mencium bosnya itu.
Cap cuss... baca rame-rame ke sana!
Klik aja judul DEAR BOSS di kolom pencarian, atau klik profilku EMMA SHU dan klik karya, temukan novelku yang berjudul DEAR BOSS.
Happy reading!