
“Masih banyak orang-orang yang nggak mampu, untuk makan aja mereka susah, mereka membutuhkan uang untuk bisa bertahan hidup. Dan kamu memiliki kemewahan yang hanya sekedar untuk koleksi.” Zalfa berbicara dengan nada lembut, mengharap perkataannya tidak menyinggung suaminya. Entah kenapa ia mulai ingin mengajak Arkhan kepada kebaikan, ingin berbagi ilmu, juga ingin menunjukkan ilmu Islam yang begitu indah dan penuh dengan kebaikan.
“Aku nggak pernah menyensus data orang-orang miskin. Itu tugas pemerintah, apa kamu maunya aku jadi presiden yang bertugas mengurusi rakyat miskin?”
“Aku nggak membahas tugas pemerintah, tapi tugas seorang muslim. Kamu udah mengucap syahadat, kamu muslim, Arkhan. Saling berbagi dengan bersedekah, berinfaq, berwakaf, berzakat adalah tugas seorang muslim.”
Arkhan mengulas sneyum tipis. “Ya, kamu atur aja. Kalau kamu maunya begitu, setiap hari kamu boleh ambil barang apapun atau uangku untuk bersedekah pada orang miskin. Hutangmu padaku udah kuanggap lunas. Aku nggak akan merasa kehilangan harta meskipun kamu ambil seluruh jam tangan ini untuk bersedekah.”
Ugh… Bukan itu maksud Zalfa.
“Bukan nuraniku yang harus berbagi, tapi kamu karena kamu yang diberi harta berlimpah,” sambung Zalfa dengan senyum tipis.
“Ya ya, nanti aku akan bersedekah,” ujar Arkhan ringan. Ia kemudian mendekati Zalfa. Tatapannya terlihat meneliti ke tubuh wanita itu.
Zalfa yang merasa aneh dengan tatapan itu pun menunduk dan mengamati pakaiannya sendiri.
“Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?” Zalfa kembali mengangkat wajah dan menatap Arkhan gugup. “Apa ada yang salah dengan penampilanku?”
Langkah kaki Arkhan semakin maju, membuat Zalfa tanpa sadar mundur sedikit. Arkhan berhenti saat jarak antara dia dan Zalfa hanya tinggal beberapa centi saja. Hembusan nafas Arkhan menyapu pipi Zalfa. Zalfa melirik ke tangan Arkhan yang terangkat dan diletakkan di dinding.
“Apakah kamu akan memberikan apapun yang kumau?” tanya Arkhan masih dengan sorot mata dalam.
“Kenapa mendadak kamu menanyakan itu padaku?”
“Karena aku ingin meminta sesuatu padamu.”
Zalfa menelan saliva keulitan. Ia berpikir, apa yang sebenarnya ingin diminta oleh pria di hadapannya itu? kenapa tatapan Arkhan terlihat serius sekali?
“Jawab dulu, apa kamu akan memberikan padaku kalau aku meminta sesuatu padamu?”
“Bagaimana aku mau jawab, aku nggak tahu apa yang kamu minta. Elagi aku bisa memberikannya, aku pasti akn berikan padamu. Lalu bagaimana kalau kamu meminta nyawaku? Tentu aku nggak akan memberikannya.”
Senyum tipis Arkhan terulas. “Kamu pasti bisa memberikannya.”
“Apa itu?”
“Tubuhmu.”
Glek. Zalfa kembali menelan saliva, tapi kali ini rasanya seperti sebongkah batu. “Bukankah kamu udah mendapatkannya?”
“Itu tadi. Dan itu mungkin bisa terjadi karena kamu merasa bersalah telah mendekati pria lain selain suamimu ini.”
“Enggak, Arkhan. Aku membiarkan hal itu terjadi bukan karena aku mendekati pria lain, dan memang aku sama sekali nggak mendekati Faisal. Kamu salah paham. Faisal datang ke kafeku karena dia ingin membujukku agar kembali padanya, tapi aku menolaknya. Hubungan kami udah berakhir. Semuanya udah selesai. Nggak ada lagi kisah Zalfa dan Faisal.”
“O ya?” Arkhan melepas nafas ringan. “Baiklah. Aku percaya padamu. Hanya saja, aku nggak yakin pria itu udah pergi dri sini.” Arkhan menggerakkan telunjuk jarinya di kening Zalfa. “Dia masih ada di pikiranmu, kan?”
“Sudahlah, jangan membahas Faisal.”
“Aku bertanya, kamu cukup menjawabnya.”
“Kalau kamu terus membahas dia, kemungkinan isi kepalaku justru hanya Faisal. Berhentilah membahas dia.”
TBC