PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 54


“Arkhan, sebenarnya apa niatmu menikahiku? Bukankah awalnya kamu menolak keras saat Mas Ismail memintamu menikahiku? Dan sekarang mendadak kamu mendesakku untuk menerimamu sebagai suamiku. Artinya bukan karena kamu ingin menyelamatkan hidupku bukan? Ada alasan lain yang aku nggak mengerti.”


“Apa itu perlu?”


“Ya. Kita akan menikah bukan didasarkan atas kata cinta. Kita menikah karena memiliki alasan yang berbeda.”


“Cukup aku yang tahu alasan apa sehingga aku ingin menikahimu.”


“Baiklah. Aku nggak memaksamu. Dasar alasan pernikahan yang tanpa cinta, tentu nggak akan membuatmu ingin sepenuhnya memilikiku bukan?”


“Maksudmu?” Arkhan menatap Zalfa intens. Pertanyaan Zalfa cukup membuatnya penasaran.


“Fokus saja untuk memenuhi misimu menikahiku, nggak perlu kita berinteraksi selayaknya suami istri. Yang penting status kita sudah menikah, itu cukup bagimu, bukan?”


“Kau ingin bilang supaya aku nggak menyentuhmu?”


“Kurasa itu bukan bagian dari misimu, bukan?”


Arkhan menegakkan punggung semari menatap wajah Zalfa dengan fokus. “Memang bukan.”


“Kamu nggak keberatan bukan?”


“Akan kupikirkan nanti.”


Jawaban macam apa itu? Sesungguhnya Zalfa merasa berdosa saat melontarkan kalimat tadi, tapi ia tidak ingin mengulang pengalaman pahit yang membuatnya kini merasa menjadi wanita


“Dalam waktu empat puluh hari, jika aku nggak mengandung anakmu, maka kita bisa berpisah,” ucap Zalfa.


“Dan jika kau hamil?”


“Sembilan bulan waktumu menjadi suamiku. Dan soal uang ganti rugi yang pernah kamu berikan waktu itu, aku akan menggantinya secara mencicil.”


“Kamu nggak perlu lagi mengganti uang itu,” tegas Arkhan. “Jika aku menjadi suamimu, tentu saja itu akan lunas. Bahkan kehidupanmu juga aku yang tanggung.”


Ah ya ampun, Zalfa lagi-lagi merasa berdosa atas kalimat itu. Allah, maafkan Zalfa. Tujuannya menikah tidak seperti yang Engkau harapkan. Bagaimana Zalfa akan bisa menerima Arkhan sebagai suaminya, laki-laki itu telah merenggut masa depannya sebelum waktunya. Ia belum bisa menerima kenyataan itu. ditambah lagi hatinya masih terpaut pada cinta lama.


“Kamu nggak perlu menghidupiku. Kamu nggak perlu cemas, aku memiliki kafe yang bisa menjadi ladang pencaharianku. Hubungan kita hanyalah sebatas status suami istri, nggak lebih. Aku juga akan mencicil hutangku padamu, ini konsekuensiku sebagai wanita yang berstatus istri namun tidak sepenuhnya menjadi istrimu.”


Arkhan semakin tajam menatap Zalfa. Ternyata wanita di hadapannya itu begitu keras kepala, berpendirian teguh dan berkeinginan kuat.


“Whatever.” Arkhan terlihat malas berdebat. Intinya sekarang, ia harus menikah dengan Zalfa secepatnya, masalah persyaratan yang Zalfa ajukan adalah urusan belakang.


Pandangan Arkhan kini tertuju pada gantungan kunci di tas Zalfa. Ia melihat lukisan indah di gantungan kunci berukuran tiga kali lima centi meter yang luanya dilapisi kaca itu. sebuah pohon yang terlihat seperti hidup.


“Itu lukisan bukan?” Arkhan menunjuk gantungan kunci itu dengan dagunya.


“Ya.” Zalfa mengikuti arah pandang Arkhan.


“Siapa yang membuatnya?”


“Aku pelukisnya.”


Arkhan tertegun mendengar jawaban Zalfa. Dibalik kepolosan seorang Zalfa, ternyata gadis itu memiliki bakat yang luar biasa.


“Oh... Aku ingin kamu mengajari Elia melukis, dia sangat membutuhkan guru melukis.”


“Nggak masalah. Aku akan membantu Elia semampuku.”


“Hm. Akan kusampaikan padanya soal kesediaanmu membantunya belajar.”


“Ini berikan saja padanya.” Zalfa melepas gantungan kunci dari tasnya dan memberikannya pada Arkhan.


“Dia pasti akan sangat senang.” Arkhan menerimanya.


TBC