
“Kamu belum jawab pertanyaanku, tadi malam kamu dari mana aja?” tanya Cyra.
“Aku udah kasih tau kamu sebelum pergi bekerja bukan?” Zaki mengenakan pakaian yang sudah dipilihkan oleh Cyra.
“Nggak mungkin sampai selarut itu,” bantah Cyra.
“Jadi kamu nggak percaya sama aku? Aku hanya ngobrol-ngobrol sama dosen-dosen lainnya setelah selesai rapat.”
“Pasti diajakin ngobrol sama Bu Santi makanya kamu sampai lupa jam.”
“Kamu cemburu?”
“Jadi dugaanku benar?”
“Sama sekali tidak benar.”
“Kamu menyebalkan.”
“Apa salahku?” Zaki berdiri menghadap Cyra.
“Jawabannya ada di ruang tamu, lihatlah ke sana!” Cyra memalingkan wajahnya, memunggungi Zaki.
“Baiklah, aku lihat!” Zaki melenggang keluar kamar dan menuju ke ruang tamu.
Beberapa menit berlalu, Zaki tidak kembali ke kamar. Cyra pun menyusul ke ruang tamu. Ia melihat Zaki sedang berkeliling di ruangan itu melihat-lihat hasil riasan. Kemudian ia berhenti saat tatapannya bertemu dengan mata Cyra. Ia mengangkat alis seakan tidak mengerti dengan maksud dari hiasan di ruangan itu.
“Kamu masih nggak ngerti?” tanya Cyra seraya menghampiri Zaki.
“Kamu menghias ruangan ini. itu saja yang aku tahu. Ya sudah, ayo kita duduk di sini dan menikmati kue-kue yang udah kamu susun ini.” Zaki mencuil kue dengan garpu dan melahapnya.
“Aku menyusunnya sampai capek dan menghabiskan waktu berjam-jam lamanya hanya untuk itu, aku juga sampai manggil Mbak Lili untuk ngebantuin menyusun semua ini. Aku menunggumu tapi kamu nggak dateng-dateng juga. Aku lelah dan akhirnya sampai ketiduran. Akhirnya semua yang kususun dan kuhias di ruangan ini sia-sia.”
“Kan masih ada banyak waktu, kita bisa menikmatinya sekarang. Apa lagi?” Zaki kembali mencuil kue dan melahapnya dengan nimat. “Enak. Ayo, makan!” Zaki menyodorkan sesendok ke yang baru saja ia ambil ke arah mulut Cyra.
“Perayaan apa maksudmu?”
Iiiih... gedeg banget deh sama Zaki. Sampe sekarang masih aja nggak tahu kalau tadi malem adalah hari ulang tahun pernikahan. Dan sekarang udah lewat.
“Kamu tadi malem ketiduran di ruangan depan. Aku bangunin kamu tapi kamu nggak bangun-bangun juga. Kebiasaan, kamu tidurnya ngebo gitu, susah banget dibanguninnya. Ya udah, aku angkat aja kamu ke kamar. udah itu aku ciumin kamu, tetep aja kamu nggak bangun. Apa nggak terasa saat bibirku menyentuh kulitmu?”
“Aku sedang nggak membahas itu.” Cyra menahan kekesalan.
“Aku hanya menjelaskan. Ini kue apa namanya? Yang ini teksturnya lebih lembut.” Zaki kembali mencuil kue lainnya dan melahapnya. Terasa enak di lidah, ia pun mencuilnya berkali-kali. “Kamu beli di mana kuenya? Enak. Lusa pesen lagi, ya!”
“Apa kamu nggak inget semalam tanggal berapa?” tanya Cyra tanpa memperdulikan kata-kata Zaki.
Zaki mengingat-ingat dengan dahi mengernyit kemudian menjawab, “Dua puluh September. Kenapa?”
“Ada perayaan di balik tanggal itu, masih nggak tahu?”
“Jangan main tebak-tebakan, aku lagi males nebak. Perayaan apa memangnya? Semalam bukan tanggal merah, nggak ada hari besar.”
“Hari besar kita berdua. Hari ulang tahun pernikahan kita. Masih belum ngerti juga?”
“Ooh..”
Astaga, hanya ‘oh’? Cyra semakin gedeg dan hampir menangis.
“Ya sudah, kita makan kuenya. Ah, nanti saja. Sekarang kita makan mie goreng saja, yuk!” Zaki melenggang menuju ke dapur.
Zakiiiii.... ngeselin banget sih? Cyra kesal bukan main. Kalau begini caranya, kadonya terpaksa dipending.
***