PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 97


“Soleh, jangan bercanda.” Zalfa berusaha membuat suasana kaku menjadi santai.


“Aku serius. Udah lama aku ingin ngomong ini ke kamu. Dan aku nyari waktu yang tepat. Tapi rasanya aku nggak punya ruang lagi untuk menahan perasaan ini ke kamu. Tepat nggak tepat, aku ngerasa harus bilang ke kamu. Aku nggak mau nyesel nantinya kalo nggak sempet jujur.”


“Kamu nggak mau nanya apa aku udah punya pengganti Faisal atau belum? Apa aku masih sendiri atau udah punya suami? Kita bertetangga, tapi mungkin kita jarang berkomunikasi mengingat kamu selalu sibuk bekerja. Sampai-sampai kamu mungkin nggak tahu statusku sekarang.”


“Masa bodo.” Soleh tersenyum tipis. “Aku nggak mau tau kamu cinta sama siapa. Aku juga nggak mau tau siapa cowok yang sekarang sama kamu. Tapi yang jelas, aku cinta sama kamu. Perkara kamu mau nerima aku atau enggak, itu urusan belakang. Aku yakin, ungkapan ini akan berarti buatmu.”


Zalfa masih diam tergugu.


Soleh menaikan sebelas alis dan memasukkan ujung kedua tangannya ke saku celananya. Tampak sangat santai. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyum manis.


“Aku nggak berharap banyak dari perempuan seindah kamu.” Soleh menatap manja wajah cantik di depannya. “Aku cuma berharap satu aja, bisa jadi pendamping hidupmu.”


“Soleh, aku udah punya suami. Namanya Arkhan. Pernikahanku hanya disaksikan oleh beberapa orang saja. Dan kami nggak sempat memberitahukanmu karena kamu sedang ke luar kota.”


Soleh terpaku seperti orang kesambet. “Nggak seorang pun yang tau kejadian yang akan datang. Kalau Tuhan udah tentukan aku dan kamu berjodoh, maka kamu akan tetap jadi milikku meskipun sekarang yang mendampingimu adalah Arkhan, atau siapa pun itu.”


Segitu besar keyakinan Soleh dengan harapannya.


“Oya, nanti tolong sampaikan ke Mas Ismail suruh ke rumah. Biasalah, nyariin siaran TV,” ujar Soleh.


Zalfa mengangguk. “Hari gini masih pakai parabola.”


Ting tong…


Baru saja kaki Zalfa menginjak di anak tangga, bel pintu kembali berbunyi. Zalfa memutar badan dan berjalan kembali ke arah pintu. Siapa yang datang? Soleh balik lagi kali. Pikir Zalfa bertanya-tanya.


Namun belum sempat meraih handle, langkahnya terhenti saat dari jendela ia menangkap pemandangan di luar sana. Pemandangan yang membuatnya menarik nafas dalam-dalam. Mobil sport berwarna merah yang tidak asing di matanya bertengger di halaman rumah. Tak lain mobil Faisal.


Ya Tuhan, Faisal? Jantung Zalfa berdentuman tak karuan. Perasaannya campur aduk. Dan ia masih bingung mengartikan perasaannya sendiri.


Bel pintu kembali berbunyi. Sementara Zalfa masih terdiam di posisinya berdiri dan tampak berpikir. Temui atau tidak?


Ah, ia tidak boleh menjadi pengecut. Setelah sekian lama Faisal terdampar, rasanya tidak adil jika ia tidak menemui pria itu. Dengan degupan jantung yang tak menentu, Zalfa mendekati pintu, tangannya menjulur meraih hanlde pintu. Menekannya, lalu menariknya hingga pintu terbuka.


Dan… Zalfa terkejut saat melihat tamu yang berdiri di depan pintu bukanlah Faisal. Melainkan gadis cantik berambut pirang dengan celana jeans pendek, baju bertali satu di pundak, tas menyelempang di bahu. Elia. Gadis yang selalu memasang wajah jutek itu menatap Zalfa datar.


“Kak Zalfa!” panggil Elia ragu-ragu. Ia menatap Zalfa sedikit canggung.


“Mm… Ya ya?” Zalfa menjawab bingung, bagaimana bisa si culas itu datang ke rumahnya? Dan yang terparkir di depan rumahnya adalah mobil Faisal, tapi kenapa yang muncul di depan pintu malah Elia?


TBC