
Setelah melakukan beberapa adegan di kursi, Zaki menggendong tubuh Cyra dan meletakkannya ke atas kasur. Zaki menyusul naik ke ranjang, ia membaringkan tubuhnya di sisi Cyra dengan posisi menelentang.
Sepi.
Tak ada pergerakan apapun dari Zaki. Cyra jadi penasaran, Zaki kok diam saja? Apakah pria itu juga merasa grogi seperti yang Cyra rasakan hingga sampai kini tidak melakukan apapun setelah tadi melakukan adegan wah di kursi?
Cyra menoleh untuk melihat reaksi Zaki saat ini, tepat pada saat itu Zaki juga tengah menoleh ke arahnya. Keduanya saling pandang. Zaki kemudian mengangkat kepalanya dan mendekatkannya ke wajah Cyra.
Dag dig dug… Bunyi jantung Cyra begitu ramai. Hanya dengan ditatap saja, Cyra sudah kelabakan. Bagaimana jika diperlakukan lebih dari itu?
“Aw!” Zaki sontak memegang satu matanya saat jari telunjuk Cyra tanpa sengaja mencolok mata tersebut.
“Eh lha kok…” Cyra nyengir. “Aku nggak sengaja.” Cyra mengigit bibir bawah menatap Zaki yang mengucek-ucek matanya. Ia tadi baru saja menjulurkan tangan hendak menyentuh pipi Zaki, namun gerakan tangannya salah arah hingga akhirnya ujung telunjuk jarinya malah menculek kornea mata Zaki.
Ya ampun, ini mau malam pertama saja mesti sial duluan. Zaki membatin gemas. Punya istri ceroboh memang benar-benar menggemaskan. Ini baru hari pertama Cyra menjadi istrinya, bagaimana jika seminggu, sebulan, setahun atau bahkan bertahun-tahun lamanya? Bisa copot salah satu mata atau organ tubuh lain miliknya.
Zaki kembali merebahkan tubuh dan meletakkan kepala ke bantal miliknya.
“Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Cyra sembari menatap Zaki yang merem melek.
“Nggak pa-pa. Cuma mataku pedih dikit.”
“Perlu kutiup?”
“Nggak usah, nanti juga baikan.” Zaki mengerjap-ngerjapkan matanya. Tak lama kondisi matanya sudah pulih dan rasa pedih perlahan menghilang.
Urusan mata keculek sudah kelar, Lalu sekarang ngapain lagi? Pikir Cyra cengar-cengir. Apa tidur aja kali ya? Cyra mulai memejamkan mata. Ia menggeliat sebentar untuk meregangkan ototnya yang kaku.
Blugh!
“Eh?” Cyra membuka mata saat merasakan kakinya yang terangkat kemudian mendarat itu mengenai sesuatu, ternyata menimpa pangkal paha Zaki.
“Apaan, sih? Lepasin kakiku!” rengek Cyra sembari menarik-narik kakinya supaya terlepas dari kedua paha Zaki yang menguncinya.
“Kamu yang mulai.”
“Aku kan nggak sengaja.”
“Kamu tahu dimana sekarang posisi letak kakimu, bukan? Kamu menjepitnya, Cyra.”
Cyra membelalak. Gara-gara Zaki bicara begitu, Cyra jadi merasakan sesuatu yang mengganjal di pahanya. Sejak tadi ia tidak menghiraukannya, bahkan tidak menyadarinya. Tapi mulut Zaki nyablak banget.
“Makanya lepasin kakiku, biar nggak kejepit lagi.”
“Oke. Mungkin ini saatnya dia benar-benar harus dijepit.” Zaki bangkit bangun dan melangkahkan kakinya di antara tubuh Cyra dengan posisi berlutut supaya tidak menimpa Cyra di bawahnya. Satu lututnya berada di sebelah kanan tubuh Cyra, dan lutut lainnya berada di sebelah kiri tubuh Cyra. Mata Zaki nanar menatap wajah Cyra di bawahnya.
Kemudian tanpa aba-aba, Zaki membuka kancing piyama Cyra.
“Kamu mau ngapain?” tanya Cyra begitu polos.
“Minta jepit.”
Jawaban apa itu? Ah, Cyra semakin gugup tak menentu mendengar kata jepit.
Zaki mulai melakukan aktifitasnya, mengulang kejadian di kursi tadi. Setelah merasa cukup, Zaki melepas kemejanya dengan gerakan terburu-buru.
TBC
Jangan lupa klik like di setiap part 😘😘