
Cyra meletakkan piring berisi mie kuah yang asapnya masih ngepul di meja depan Zaki. Ia baru saja memasak mie rebus dengan hiasan udang goreng, potongan tomat, dan paha ayam goreng.
Sejak saat Cyra memasak dan proses memasak selesai hanya dengan hitungan menit, Zaki mengajak Sifa main dan menimang-nimang Sifa. Kemudian Zaki meletakkan tubuh Sifa ke lantai. Ia mengernyit menatap mangkuk berisi penuh ragam lauk di atasnya. Bahkan paha ayam goreng yang ukurannya jumbo itu tulangnya sampai menonjol keluar akibat tidak muat di dalam mangkuk.
“Cyra, ini aku disuruh makan mie rebus apa?” Zaki menatap Cyra heran.
Cyra duduk di sisi Zaki. “Ya mie rebuslah. Trus apa menurutmu?”
“Ini kamu kebanyakan narok lauk di mangkuk, udangnya aja udah banyak banget, ditambah paha ayam, trus tomat bundar-bundar lagi.”
“Maksudnya tuh biar kamu kenyang, Yang.” Cyra ngeles.
“Bisa aja ya kamu. Kalau kamu kasih udang di atasnya, ya udah jangan lagi dikasih ayam goreng. Dan kalau kamu kasih ayam goreng, ya udah jangan dikasih udang lagi. Kamu kan udah campurin mie sama telur, jadi nggak sampe kebanyakan begini, sampe-sampe mie-nya aja nggak keliatan. Mana paha ayamnya gede banget lagi.”
“He heee…Jadi kamu maunya paha ayam atau pahaku?”
Sudut bibir Zaki tertarik sedikit, pertanyaan konyol. “Ya udah ke kamar, yuk.” Zaki bangkit berdiri dan menarik pergelangan tangan Cyra dengan gesit sekali.
“E eeh… mie nya belum dimakan tuh, main pergi aja.” Cyra menahan tubuhnya supaya tetap berada di posisinya duduk di kursi.
“Tapi tadi kamu yang nawarin pahamu.”
Astaga, Zaki cepet banget nyambernya kalau ditawarin begituan. Tuh pala isinya paha doing kali ya.
“Ngurusin pahaku nanti aja dulu. Sayang kan mie-nya kalau nggak dihabisin. Memangnya siapa yang bakalan makan kalau udah dingin?” ucap Cyra.
Plak!
“Aw!” Cyra memegang pipinya yang baru saja terkena hantaman paha ayam.
Entah bagaimana caranya paha yang tak bernyawa itu bisa melarikan diri dari tempatnya dan menampar wajah Cyra.
“Ya ampun, sayang. Sorry! Aku nggak sengaja.” Zaki sangat merasa bersalah. Ia menjulurkan kedua tagannya untuk membari bantuan membersihkan pipi mulus Cyra dari minyak dan kuah mie dengan menggunakan tisu.
“Sayang, ini nih pipi, loh. Bukan kuali. Kamu mau ngegoreng ayam itu lagi apa gimana?” Tanya Cyra.
Zaki terkekeh. “Kan aku udah minta maaf. Aku nggak sengaja. Kamu sih kasih ayam goreng segede itu, sedangkan wadah pahanya kecil.” Zaki membuang tisu ke tong sampah setelah selesai membersihkan pipi Cyra.
Pandangan Zaki kembali ke mangkuk berisi mie. Ia mengernyit mencari-cari paha ayam yang sempat membangkang dari tuannya itu, tapi tidak dia temukan. Baik di mangkuk ataupun di meja, paha itu tidak ada.
“Paha ayamnya tadi mana?” Tanya Zaki sambil mencari-cari. Aneh, benda segede itu kok bisa hilang.
“Heh? Kok, ilang ya? Kemana dia? Bener-bener deh ya, dikerjain banget sama tuh paha. Kayak diisi jin aja bisa lari kemana-mana.” Cyra ikutan mencari.
“Ya ampuuuuun…” Cyra dan Zaki serentak saat melihat ke bawah dan mereka menemukan benda yang dicari.
Sifa menggigit-gigit paha ayam dengan kesulitan. Kemudian bocah itu mendongak dan tersenyum memperlihatkan giginya yang baru tumbuh dua dan ditengah-tengahnya terselip sehelai daging ayam. Pipinya belepotan minyak, dan kedua tangan mungilnya menggenggam paha ayam tersebut.
TBC