
Empat remaja nakal, tak lain keponakan Cyra, yang datang dari luar kota bersama orang tua mereka tengah menempelkan telinga ke pintu kamar Cyra. Dasar anak-anak nakal. Mereka snegaja ingin menguping, apa yang terdengar saat dua orang dewasa dikatakan sedang malam pertama. Anak jaman sekarang memang sudah semakin aneh akibat keseringan bermain dengan dunia hp, akibatnya ya begitu jadinya.
Mereka tertawa cekikikan saat mendengar suara saling sahut dari dalam kamar.
“Sayang, pelan-pelan nanti sobek gimana?” Suara perempuan, yang pastinya adalah suara Cyra.
“Nggak pa-pa. Aku lebih suka cepet-cepet,” jawab Zaki.
“Aduuuh”
“Ya udah, buka aja.”
“Enggak, ah. Malu.”
“Aku suamimu.”
Tak lagi terdengar percakapan. Para remaja berebut menempelkan telinga ke pintu, bahkan saling sikut untuk mendapatkan tempat ternyaman. Tak lama, kembali terdengar suara saling sahut dari dalam kamar.
“Kenapa diem aja?” terdengar suara Cyra.
“Jadi?”
“Cepet masukin.”
“Kamu aja yang masukin, tanganmu yang tuntun. Diemut aja dulu biar tegang.” Suara Zaki mendominasi.
“Astaga, itu gede banget, sayang. Mana bisa masuk.”
“Udah, cepetan emut biar cepet kelar. Ya udah, sekarang masukin!”
“Aaaakh… Sakit. Ini berdarah.”
“Tenang, aku bisa atasi. Biar kuemut. Gimana, enak?”
“He’emh.”
Keempat pemuda konyol itu masih menguping. Saling sikut, saling injak hingga akhirnya tanpa sadar knop pun terputar saat salah satu tangan memeganginya. Akhirnya… Kreeek… Blam.
Pintu terbuka. Keempat remaja tersebut tertungging jatuh di lantai saat daun pintu menghentak dinding belakang. Keempatnya cengar-cengir merasa bersalah, mereka kembali saling sikut dan saling menyalahkan.
“Apa yang kalian lakukan?” Zaki menatap tajam keempat pemuda yang masing-masing masih SMA itu. Ia tahu mereka adalah keponakan Cyra setelah tadi diperkenalkan saat di lantai bawah.
“Maaf.” Keempat pemuda celingukan dan salah tingkah.
Dengan sorot mata horor, Zaki bangkit berdiri dan mendekati keempat remaja tersebut.
Belum sempat Zaki mengucapkan kata-kata, keempat remaja tersebut lari ngibrit menuju ke lantai bawah. Ekspresi Zaki yang galak dan sangar membuat keempat remaja itu lari tunggang-langgang. Zaki kalau sudah kesal, mukanya benar-benar bisa membuat lawannya lumpuh.
Zaki menoleh ke arah Cyra, gadis itu tersenyum lalu tergelak.
“Itulah kelakuan anak-anak edan jaman sekarang. Apa mereka nggak ada kerjaan lain selain menguping kita?” Zaki berucap dengan ekspresi kesal.
“Mereka keponakana-keponakanku, jangan terlalu keras sama mereka.”
“Aku tahu. Siapapun itu, kalau salah, maka aku akan berikan hukuman yang sesuai. Nggak perduli mereka itu keponakanmu atau siapapun,” sewot Zaki merasa tidak nyaman atas kelakuan bocah-bocah itu. Ia kemudian menutup pintu dan memutar-mutar knopnya. “Seingatku, tadi aku udah menekan tombol tengahnya supaya terkunci, lalu kenapa bisa terbuka?”
“Kamu kurang tekan kali.” Cyra masih tertawa geli mengingat kejadian tadi.
“Berikan kuncinya padaku!” titah Zaki.
“Maksudnya, kunci kamar?”
“Ya.”
Cira menuruti. Ia membuka laci meja dan mengambil kunci.
“Lempar!” perintah Zaki sembari menatap kunci di tangan Cyra.
Cyra mengangguk dan melemparkan kunci sesuai arahan Zaki. Zaki langsung mengunci pintu dengan gerakan penuh penekanan, menandakan kekesalannya belum sempurna hilang.
Zaki kemudian mendekati Cyra dan kembali duduk di hadapan wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.
TBC
KLIK LIKE YAP