PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 37


Arkhan berjalan menuju sebuah pintu dan membukanya, pintu tersebut langsung menghubungkan dengan kamar. Pria itu memasuki kamar itu.


“Arrgkh…” erangan hebat terdengar keras membuat Zalfa spontan menghambur mendekati ke sumber suara, ia mendapati tubuh Arkhan sudah ambruk menelungkup di atas kasur. Pria itu memiringkan wajahnya hingga Zalfa dapat menjangkau wajah Arkhan yang meringis dengan mata terpejam.


Zalfa tanpa sadar panik sendiri melihat kondisi Arkhan yang mengerang kesakitan.


“Apa yang harus kulakukan?” Zalfa kini di posisi berlutut agar pandangan matanya sejajar dengan pandangan mata Arkhan.


Sayangnya pria itu tidak membuka matanya, wajahnya bahkan kian memucat.


“Ambil pisau di laci!” ucap Arkhan sedikit tidak jelas akibat suaranya yang diiringi erangan.


Zalfa menuruti, ia membuka laci pertama, namun tidak menemukan pisau. Lalu membuka laci kedua dan ketiga, pisau dia temukan di laci ke empat.


“Untuk apa pisau ini?” tanya Zalfa.


“Bedahlah punggungku, ambil peluru di dalamnya!” Suara Arkhan semakin terdengar lemah.


Zalfa terkejut sekaligus bingung. Bagaimana mungkin ia bisa melakukan perintah Arkhan? Ia sama sekali tidak memiliki pengalaman di bidang bedah membedah.


“Kita ke rumah sakit saja.” Zalfa putus asa. Ia tidak sanggup melakukan perintah Arkhan. Melihat luka itu saja, tubuhnya sudah terasa lemas. Bagaimana ia akan sanggup membedah punggung Arkhan?


“Jangan! Aku akan tetap di sini. Mereka yang mengejar kita bisa saja muncul sewaktu-waktu.”


“Tapi aku nggak bisa melakukannya, Arkhan.”


“Kau pasti bisa.”


Zalfa masih terpaku menatap luka di punggung Arkhan. Justru perasaan resah dan takut yang mengaduk-aduk hatinya.


Terpaksa, Zalfa akhirnya mengarahkan pisau ke punggung Arkhan. Namun manik matanya liar melihat kesana-kemari, bingung. Langkah apa yang harus ia lakukan sekarang? Baiklah, ia pun merobek kemeja Arkhan dan membuangnya ke sembarang arah, kini punggung pria itu polos tanpa lapisan.


Zalfa gigit bibir menatap luka di punggung Arkhan. Darah di tubuh Zalfa berdesir dan organ tubuhnya lemas melihat luka yang baru kali ini menjadi pemandangannya. Ia pun mulai melakukan aksi pembedahan meski sesungguhnya itu ia lakukan atas dasar rasa tidak tega.


“Arrrgkh….” Arkhan mengerang kesakitan saat pisau mulai masuk ke tubuhnya.


Zalfa pun berhenti. “Enggak, Arkhan. Aku nggak bisa. Kamu kesakitan. Bagaimana kalau kamu malah mati di tanganku?”


Ah, pertanyaan apa yang baru saja Zalfa lontarkan?


“Lanjutkan, Zalfa! Lebih cepat lebih baik.”


“Enggak.”


“Aku bisa mati. La.. Lakukan.” Arkhan memegang tangan Zalfa dan menggenggam tangan mungil itu kuat-kuat sebagai bentuk permohonan. Matanya kini terbuka dan menatap mata Cehsy penuh harap.


Melihat muka Arkhan yang semakin memucat, Zalfa akhirnya melanjutkan pekerjaannya meski dengan gerakan bingung. Sepanjang ia bekerja, Arkhan mengerang menahan sakit. Entahlah apa yang sedang Zalfa lakukan, ia mengobok-obok luka di punggung Arkhan, namun tak juga menemukan peluru. Jangan-janagn peluru itu telah menembus jantung, atau bahkan menabrak tulang punggung dan menempel di sana. Ah, pikiran Zalfa kian aneh dan tak tentu arah.


Zalfa akhirnya melepas nafas lega saat peluru berhasil ia keluarkan. Rasa syukur menghujani hatinya karena usahanya tidak sia-sia.


“Pelurunya sudah keluar.” Zalfa meletakkan pisau ke meja. Kemudian mencari kotak obat yang siapa tahu disimpan oleh Arkhan. Ia menemukan kotak obat di dalam laci, lalu mengeluarkan kain kasa dan menekan luka di punggung Arkhan dengan kain kasa. Tak lupa, ia juga menekan luka tersebut kuat-kuat supaya daah berhenti mengalir. Kemudian ia membalut luka itu dengan perban.


Untung saja Arkhan memiliki persediaan komplit di dalam kotak obatnya.


TBC