
Teman-teman Cyra saling peluk menatap kepergian Cyra yang berjalan bersisian dengan Zaki.
“Uugh... so sweet banget,” komentar Rere.
“Sumpah, gue ngiri, ya ampun.”
“Kapan gue punya pacar kayak Pak Zaki.”
“Kalau ngeliat Cyra sama Pak Zaki, rasanya adem banget.”
“Mereka itu sos weet banget. Serasi. Kemana-mana selalu berdua.”
“Serius nih mereka mau nikah?”
“Denger-denger sih begitu.”
“Jangan-jangan rumor doang.”
“Nggak liat apa mereka udah kayak perangko gitu?”
“Kita liat aja entar. Pantengin tuh sosial medianya Pak Zaki. Kali aja Pak Zaki mau mengupload pas dia ijab qobul.”
“He heee....”
Obrolan mereka terhenti saat orang tua mereka mengajak pulang.
***
Zaki sudah mengenakan kemeja rapi dengan aroma khas yang menyengat hidung. Ia tengah duduk di ruang tamu dengan kaki menyilang. Pandangannya fokus ke layar ponsel. Ia tidak sedang berada di rumahnya sendiri, melainkan rumah Cyra. Sudah sejak satu jam yang lalu Cyra meneleponnya, memberitahukan kalau gadis itu akan fitting baju dan meminta ditemani ke butik untuk fitting baju.
Zaki sesekali menatap arloji di tangannya. Ia mulai jengah. Awas saja, kalau Cyra muncul nanti, hukuman sudah menanti.
“Tunggu sebentar ya, Nak Zaki. Cyra sedang bersiap.” Andini yang baru saja turun dari lantai dua, menghampiri Zaki dengan seulas senyum ramah. “Anak gadis tante memang begitu, kalau mandi lama, dandan juga lama. Padahal kan Cyra sudah cantik, nggak perlu dandan lama-lama juga sudah cantik, ya kan?”
Zaki menjawab dengan senyuman meski sesungguhnya hatinya gondok. Cyra kelewatan, masak sih menyuruhnya menunggu sampai selama ini?
Bik Mey muncul dari arah dapur dan meletakkan segelas kopi ginseng ke meja. “Silahkan diminum kopinya, Mas Zaki!”
“Makasih, Bik.” Zaki mengangguk.
Andini berdiri di dekat Zaki. “O ya, acara pernikahan kalian kan nggak lama lagi berlangsung. Waktu kalian nggak banyak, loh. Kalau bisa semua persiapan kalian secepatnya untuk disegerakan, fitting baju, desain undangan, cincin kawin, dan semua yang bersangkutan dengan kalian.”
“Iya, Tan. Ini aku mau ajak Cyra fitting baju.”
“Oh baguslah. Lebih cepat lebih bagus. Jangan sampai keteteran. Persiapan harus mateng. Untuk persiapan selain itu, udah menjadi tanggung jawab kami sebagai orang tua Cyra.”
Pandangan Andini dan Zaki tertuju ke anak tangga saat mendengar langkah kaki menuruni anak tangga tersebut. Cyra berlari kecil dan melempar senyum saat mendapati Andini dan Zaki yang terlihat sedang mengobrol.
Zaki mengangkat alis menatap Cyra. Diperhatikannya penampilan gadisnya itu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Gadis itu mengenakan gaun selutut, sendal dengan heel yang tidak begitu tinggi, rambut diurai. Penampilan yang biasa saja. Lantas apa yang membuat Cyra begitu lama saat berdandan? Tidak ada yang istimewa dari penampilan gadis itu. Polesan di wajahnya juga sederhana. Huuh… Cyra, untung Zaki sabar.
“Ma, aku pergi dulu sama Zaki, mau fitting baju.” Cyra berpamitan.
Andini tersenyum menatap putri semata wayangnya. Kedua tangannya menyentuh lengan Cyra. “Nggak terasa kamu sudah besar, Cyra. Dan sebentar lagi Mama akan melepasmu. Kamu akan menjadi istri orang. Waktu berjaln begitu cepat dan Mama nggak nyangka bisa melihatmu menjadi seperti sekarang.” Andini kemudian mengusap pucuk kepala Cyra, membuat Cyra merasa terharu.
TBC
KLIK LIKE DI SETIAP PART YAH