
“Kamu menangis?” lirih Arkhan dengan suara lemah.
Zalfa malah tersentak mendengar pertanyaan itu. Kenapa Arkhan bisa bertanya begitu? Siapa juga yang menangis? Namun detik berikutnya Zalfa terbelalak melihat beberapa tetes bulir air yang membasahi pipi Arkhan. Jelas saja itu bukan air mata Arkhan. Zalfa baru sadar kalau itu adalah air matanya yang menetes tanpa ia sadari ketika ia berada di posisi memberikan nafas buatan.
Cepat-cepat Zalfa mengusap pipinya. Ya ampun, benar apa kata Arkhan, dia menangis. Kenapa Zalfa sampai tidak sadar kalau dia sudah menangis sejak tadi? Apa sebenarnya yang sedang ia tangisi? Yang jelas, Zalfa sangat takut melihat kematian. Itu saja.
“Istirahatlah! Kamu pasti lelah,” ucap Arkhan kemudian memejamkan mata.
Zalfa terpaku. Ia harus istirahat dimana? Pintu kamar tidak bisa dibuka. Sesungguhnya Zalfa sangat ingin meninggalkan tempat itu, masih ada banyak sederet rutinitas harian yang harus ia kerjakan, tapi ia malah terjebak di sana. Zalfa ingin pulang.
“Arkhan, aku harus pulang!”
Tidak ada jawaban dari Arkhan. Pria itu terpejam. Nafasnya teratur dan terdengar sangat keras.
Ya ampun, begitu cepat Arkhan tertidur.
Zalfa ingin membangunkan Arkhan, tapi setidaknya Zalfa masih memiliki perikemanusiaan yang membuatnya merasa tidak tega membangunkan Arkhan di saat kondisinya begini. Memangnya apa yang bisa Arkhan lakukan dalam kondisi seperti sekarang? Pria itu sedang dalam keadaan tidak berdaya, mana mungkin Zalfa akan tega meminta bantuan Arkhan untuk mendobrak pintu.
Zalfa mengesah. Ia ingin menelepon Ismail dan meminta bantuan, tapi tas yang berisi ponselnya tertinggal di mobil Arkhan. Sekarang ia benar-benar telah terjebak di kamar itu. Kamar yang tidak seberapa luas, namun desainnya sangat menawan. Seisi kamar terkesan elegan. Meski rumah itu minimalis, namun mewah dan nyaman.
Setelah manik mata Zalfa berkeliling mengamati seisi ruangan, pandangannya kini terpaku pada salib yang menggantung di dinding. Ia tertegun sejenak menatap benda itu. Jadi benar Arkhan adalah seorang non muslim?
Zalfa tidak mau memikirkan hal itu. Sudahlah, apa perlunya ia bertanya-tanya tentang kepercayaan yang diyakini oleh Arkhan?
Setelah itu, Zalfa duduk di lantai dekat pintu sambil melantunkan ayat-ayat suci yang ia hafal. Tangannya mengelus permukaan perut saat merasakan lilitan yang dahsyat dari dalam perutnya. Sangat lapar. Entah sudah berapa lama ia terkurung di sana. Matanya melirik Arkhan yang tertidur pulas.
***
TBC
Hai gengs
Gimana poinnya?
Nggak bosen aku ngingetin hal ini ke kalian. He he he he he…
Masih bersedia berlomba untuk menjadi yang teratas nggak?
Yuuk… dukung cerita ini dengan memberikan vote atau poin ya gaes.
Sekali lagi, tengkyuh buat yang udah sumbangin poin. Kalian luar biasa.
Makasih juga untuk yang rajin komen, aku baca kok komenan kalian meski nggak bisa bales satu satu. Pokoknya kalian the best deh.