PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 86


Zalfa tidak beranjak dari posisinya. Ia menarik nafas, sedikit canggung. Entah kenapa situasi di kamar itu mendadak aneh dan hawanya bikin deg-degan. Apa karena ia sudah menjadi istri orang? Atau karena saat itu ia berada dalam satu kamar bersama pria asing yang kini menjadi suaminya?


“Aku berada di sini hanya sebatas untuk memperkenalkan diri pada ibu dan adikmu,” celetuk Zalfa agak gugup. Batinnya meronta merasa berdosa atas ucapannya. Tapi itulah yang dia ucapkan.


Arkhan menaikkan alis cuek, kemudian kembali meletakkan kepala ke bantal. “Jangan takut, aku tidak akan menyentuhmu jika kamu tidak menginginkannya.”


Zalfa mengesah, menatap tubuh Arkhan yang sudah terbaring di atas kasur.


Arkhan kembali menoleh ke arah Zalfa. “Baiklah, guling ini menjadi batas. Kamu boleh tidur di sebelah sana!” Arkhan meletakkan bantal guling di tengah-tengah kasur. Kemudian ia tidur miring dengan posisi membelakangi bantal guling. “Kamu akan aman,” ujar Arkhan dengan mata terpejam.


Zalfa melangkah pelan mendekati ranjang. Kemudian membaringkan tubuh di kasur yang menjadi bagiannya. Matanya terpejam dengan batin yang berkecamuk, rasa bersalah atas sikapnya terhadap Arkhan meneror hati kecilnya.


Tuhan, ampuni aku!


Tapi, apakah Tuhan akan mengampuninya yang sudah mengfetahui hokum namun melanggarnya? Ya Tuhan, kenapa semenakutkan ini?


“Kamu ingat kejadian di hotel waktu itu?” Tanya Arkhan masih di posisi yang tidak berubah, memunggungi Zalfa.


Mendengar ucapan Arkhan, tiba-tiba kejadian di hotel waktu itu kembali terkilas balik di ingatan Zalfa. Ia ingat saat pertama kali merasakan sensasi yang diberikan oleh Arkhan. Ia ingat bagaimana pria itu mencumbunya, ia ingat bagaimana pria itu membuatnya menjerit kecil, juga saat Arkhan melepas benih di rahimnya. Meski semua itu terjadi saat ia merasa sangat mengantuk dan hampir tak sadarkan diri, namun ia masih bisa merasakannya. Zalfa langsung menggelengkan kepala sembari memukul ringan kepalanya. Hanya disinggung sedikit saja soal itu, ingatannya bekerja sangat cepat dan membayang kemana-mana. Ya ampun.


“Jangan bahas itu lagi,” balas Zalfa kesal. Ia berada di posisi yang juga membelakangi Arkhan. “Apa yang membuatmu merasa suka terus-terusan membahas itu?”


Arkhan tersenyum tipis. Ia tidak menyangka jika ternyata Zalfa merasa terganggu dengan pertanyaannya tadi. “Bukan maksudku mengungkit hal itu, aku hanya ingin bertanya, apa kau mencurigai seseorang dalam kasus itu?”


“Maksudmu?”


Zalfa berpikir. Namun kemudian menggeleng. “Nggak ada yang menjebakku.”


“Lalu kenapa kau bisa masuk kamarku?”


“Aku salah masuk kamar.”


“Dan akhirnya salah nikah. Seharusnya bukan aku yang menjadi suamimu bukan, seharusnya mantanmu itu.”


“Sudahlah, lupakan!”


“Aku nggak bisa melupakan, aku yakin ini terjadi bukan karena kebetulan, tapi sudah direncanakan.”


“Nggak ada orang jahat di sekelilingku,” balas Zalfa dengan nada agak meninggi. “Jadi jangan menduga-duga yang enggak-enggak. Apa lagi mencurigai keluargaku yang telah menjebakku. Nggak ada penjebakan, justru kamulah yang salah dalam hal ini. Saat aku salah masuk kamar, hubungan ranjang antara kita nggak akan pernah terjadi jika kamu nggak memanfaatkan situasi itu. Seharusnya kamu nggak menyentuhku, seharusnya kamu usir aja aku. Kenapa kamu malah meniduriku?”


“Itulah yang membuatku merasa ada skandal dibalik kasus kita. Aku menyentuhmu bukan hanya sebatas nafsu normal kelelakianku aja yang bangun, tapi seseorang telah memberikan sesuatu ke dalam minumanku hingga aku nggak bisa menahan nafsuku. Saat aku berada dalam kondisi menginginkan, kamu hadir di hadapanku. Bagaimnaa bisa aku menahnnya? Ini skandal. Ini direncanakan,” ujar Arkhan datar.


Zalfa mengesah. “Jangan mencoba mencari alasan supaya kamu nggak dipersalahkan.”


Malas berdebat, Arkhan tidak lagi menjawab. Keningnya terlipat berpikir.


***


TBC