
“Pak Ibrahim, Faisal terbang dari sana sendirian? Kenapa nggak dijemput aja?” usul Zalfa meski telat.
Pertanyaan Zalfa spontan membuat Pak Ibrahim terdiam. Seperti baru tersadar akan satu hal. Kenapa ia mengiyakan saja permintaan Faisal yang mengatakan akan kembali dengan meminta kiriman uang terlebih dahulu? Kenapa bukan mereka yang menjemput Faisal di Tapanuli Selatan? Rasa ingin bertemu yang begitu besar membuat mereka seperti kehilangan akal hingga tak mampu berpikir jernih. Semuanya dilakukan dengan gegabah dan tanpa dipikir matang terlebih dahulu. Kacau jadinya.
Sebenarnya pak Ibrahim sudah lebih dulu memikirkan hal itu, bahwa akan lebih baik jika mereka yang menjemput Faisal. Tapi ia sudah kadung takut menjadi korban penipuan. Jadi lebih baik diam dan mengikuti kehendak istrinya yang lebih memilih untuk mengirimkan uang saja. Ia takut jauh-jauh pergi ke Tapanuli Selatan tapi tidak bertemu siapa-siapa disana. dan sekarang ia berada di Bandara menanti kepulangan putranya.
“Kamu benar, kenapa bukan kami saja yang menjemput kesana. Bapak tidak bisa berpikir apa-apa lagi.” Pak Ibrahim terlihat lemas menyesali perbuatannya. “Tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada nomor yang bisa dihubungi. Separuh hati Bapak waspada jika ini hanyalah modus penipuan. Faisal menggunakan telepon umum dan dua kali meminjam ponsel orang lain saat menelepon kami. Sekarang nomer itu sudah tidak aktif lagi. Awalnya orang itu juga mengaku tidak menerima uang kiriman dari kami saat kami sudah mengirimkan uang tersebut, saldo juga sudah dipotong tapi dia mengaku tidak menerima uang transferan, jadi terpaksa kami mengirimkan uang dua kali. Entahlah, semoga ini bukan hanya sekedar penipuan.”
Pak Ibrahim menatap jam di tangan, sudah lama ia menunggu di sana namun ia belum melihat kedatangan Faisal. Ia menggeleng-gelengkan kepala mulai resah, takut menjadi korban penipuan. Nomer orang itu tidak aktif lagi setelah menerima uang kiriman dari istrinya. Apakah mungkin ia benar-benar sudah ditipu?
“Ya sudahlah, Pak. Semoga Faisal akan cepat datang. Semoga penerbangannya lancar.” Zalfa menenangkan.
Mereka menunggu penuh dengan kecemasan. Semuanya berdoa untuk Faisal. Memohon kebaikan untuknya.
Waktu terus berlalu, matahari mulai naik. Mereka masih setia menunggu, berkumpul di kursi tunggu, di loby meski sampai detik ini tidak ada informasi apapun mengenai kedatangan Faisal.
“Masih mau menunggu?” tanya pak Ibrahim yang mulai putus asa. Bola matanya melirik jam di tangan, pukul sembilan. Kemudian pandangannya menyapu wajah-wajah resah di hadapannya. Pak Ibrahim semakin yakin kalau dirinya telah ditipu.
Bu Fatima tidak bergerak dari posisinya duduk di bangku tunggu. Tidak ada niat sedikitpun untuk meninggalkan bandara.
“Faisal pasti tau alamat rumah kita. Bagaimana kalau kita tunggu di rumah saja?” ucap Pak Ibrahim dengan wajah lelah.
“Pulanglah. Aku tau kamu lelah, tapi aku masih mau di sini menunggu putraku,” jawab Bu Fatima dengan pandangan sendu.
Pak Ibrahim bangkit berdiri. “Bu, sudahlah. Kita pulang dulu. Nanti kalau ada kabar lagi, kita akan jemput Faisal bersama-sama di sini,” bujuk pak Ibrahim meski ia tidak percaya bahwa Faisal akan datang. Ia kini yakin bahwa dia dan keluarganya telah menjadi korban penipuan.
TBC