
Zaki meraih remot Ac dan menyalakannya dengan suhu paling rendah. Pakaian yang ia kenakan benar-benar telah membuatnya kepanasan.
“O ya, Zaki kamu…”
“Kamu udah janji kalau udah halal nggak akan panggil aku dengan nama bukan?” potong Zaki sembari menatap intens Cyra.
“Oh eh iya… Jadi aku panggil apa? Lupa.”
“Sayang.” Zaki memejamkan matanya.
“Kalau nggak salah, kemarin permintaanmu panggilannya bukan sayang.” Cyra terlihat mengingat-ingat. “Mas. Ya, kamu minta dipanggil mas.”
“Sayang lebih ngena.”
“Ya, deh, sa… yang.” Cyra sedikit grogi saat mengucapkannya. Lidahnya terasa berat. Mungkin karena itu adalah kali pertamanya ia menyebut sayang untuk Zaki.
Zaki tersenyum tipis mendengar Cyra menyebut kata sayang. Sejuk sekali hatinya mendengar kata itu meluncur keluar dari mulut Cyra.
“Aku nggak denger, ulangi sekali lagi.” Suara Zaki terdengar lemah, matanya masih terpejam. Ia terlihat sangat mengantuk karena kelelahan.
“Sayang,” lirih Cyra menatap Zaki yang terlihat sangat letih. “Kamu ngantuk?”
“He’em.” Zaki menjawab dengan ringannya.
“Ini hari pernikahan kita, bentar lagi kita disanding, loh. Kok kamu malah tidur?”
Zaki tidak menjawab.
“Aduuuuh… Bangun, dong!” Cyra bergerak mendekati Zaki, tepat pada saat kaki kanan Zaki terayun ke atas hendak melipat kaki tersebut dan menaruhnya di atas kaki yang satunya lagi. Akibat terkena senggolan kaki Zaki, tubuh Cyra yang sudah berdiri di hadapan Zaki pun terhuyung karena kehilangan keseimbangan.
Bruk!
“Jangan buru-buru. Ini belum saatnya,” ucap Zaki membuat muka Cyra terasa seperti terbakar.
Bersamaan dengan itu, pintu terbuka dan si pembuka pintu pun melongo menatap kejadian di depan mata.
Zaki tampak santai saja, membiarkan Cyra yang tengah kelabakan bangkit bangun dari posisinya.
Astaga… Ingin rasanya Cyra membungkus tubuhnya dengan apa saja supaya mukanya yang malu tidak kelihatan. Ketakutan Cyra akhirnya terjadi juga. Beberapa pasang mata yang melihat posisinya pasti menilainya yang tidak-tidak. Oh Tuhan, kenapa serumit ini kejadiannya? Cyra menjauhi Zaki dan berdiri dengan muka merona merah.
“Lantainya licin jadinya jatoh.” Cyra berusaha menerangkan dengan muka cengar-cengir.
Andini dan seorang wanita yang disebut sebagai perias itu saling pandang dan tersenyum. Senyuman itu membuat Cyra kian kikuk, rasanya seperti sedang dihakimi.
“Loh, Zaki kok di sini?” tanya Andini membuat Zaki langsung bangun dan duduk.
Seperti orang baru sadar dari tidur, Zaki bertanya, “Lalu aku harus kemana, Tan?”
“Kok, manggilnya masih Tan? Mamanya Cyra juga udah jadi mamamu sekarang. Panggil mama, dong.”
“Eh, iya, Ma.”
“Tempat dandan untuk pengantin prianya nggak di sini, tapi di rumah kamu sana. Periasnya udah nungguin, tuh. Kamu kan nanti harus digiring menuju ke rumah mempelai wanita sebelum acara pecah telur.”
Zaki menghela nafas. Walah, jadi masih ada lagi ritual yang harus ia jalani? Ia kira, hanya sebatas dirias lalu duduk disandingkan dengan Cyra di pelaminan. Setelah itu mereka akan berfoto dengan gaya yang romantis. Tapi ternyata tidak seperti yang ia bayangkan. Masih ada lagi kegiatan yang harus ia tempuh untuk sampai ke misi selanjutnya.
Zaki tersenyum kikuk. Ia tidak memahami perintah ibu mertuanya tadi, yang meminta supaya pengantin memasuki kamar rias untuk segera dirias. Ternyata yang dimaksud hanyalah Cyra, dan ia malah mengikuti Cyra memasuki kamar tersebut.
Akhirnya, Zaki yang tidak mengerti dengan segala tata acara, hanya bisa mengangguk patuh saat seseorang masuk dan membimbingnya keluar kamar. Ia dibawa menuju ke rumahnya yang sepi. Hanya ada beberapa orang kerabat saja yang tinggal di sana. Zaki langsung di bawa ke kamar lantai bawah. Seorang perias laki-laki sudah menunggunya.
TBC