PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
136. Dibangunin


Pagi ini Cyra masih berada di rumah sakit, setia menunggu Zaki. Semalaman ia tertidur di rumah sakit dan sekarang duduk di kursi luar kamar mengunyah roti kemasan yang kemarin dibawakan oleh Rere. Sahabatnya itu pulang setelah Cyra memaksanya supaya pulang saja.


Cyra kemudian menghambur memeluk Alya yang datang dengan langkah terburu-buru. Surya langsung melangkah masuk ke kamar Zaki.


“Zaki, Tan.” Cyra kembali terisak merasa sedang mengadu.


Alya tidak bisa menjawab. Ia juga menangis.


Hanya elusan lembut di punggung yang Cyra rasakan. Alya kemudian menarik tubuhnya untuk bisa menatap wajah Cyra. Mereka saling tatap, saling menguatkan. Kemudian Alya mengelus lengan Cyra sembari mengusap air matanya. Ia berjalan masuk ke kamar Zaki sesaat setelah Surya keluar.


Surya menatap Cyra dan menghampiri gadis itu. Ia menyentuh lengan Cyra dan membawa gadis itu duduk di kursi. Mereka bersitatap duduk bersampingan.


“Apa yang terjadi dengan Zaki?” tanya Surya dengan mata memerah. Pria paruh baya itu pasti baru saja menangis.


Cyra kemudian menceritakan semua kejadian yang telah menimpa Zaki sesuai dengan yang ia dengar dari Faiz.


Surya menunduk, mengusap wajah. Ia seperti terpukul mendengar kisah yang diceritakan Cyra. Bagaimana tidak? Zaki adalah anak semata wayangnya, yang sangat dia sayangi. Dan tiba-tiba kini tersandung masalah segetir itu.


“Kamu pulanglah, Cyra. Lihatlah kantung matamu sudah menghitam, kamu pasti kurang istirahat. Biar Om dan tante yang menjaga Zaki,” ucap Surya dengan bibir tertarik berusaha menampilkan senyum.


“Tapi, Om. Cyra nggak pa-pa kok nungguin Zaki di sini.” Cyra sebenarnya segan untuk mengucapkan kata-kata itu, takut kelihatan antusias dan terobsesi.


“Nggak pa-pa, Cyra. Biar kami saja yang menunggu. Kamu sudah menunggui Zaki semalaman. Kamu pasti lelah, bukan? Jaga kondisi tubuhmu. Jangan sampai kamu juga sakit karena hal ini. Om dan tante akan menjaga Zaki, dia putra kami. Om tidak mau kamu kelelahan dan kondisimu malah jadi drop. Ayo, pulanglah! Kamu juga perlu istirahat!” Surya begitu bijak mengucapkan kata-kata itu hingga akhirnya kepala Cyra mengangguk.


Cyra bangkit berdiri. “Cyra pulang dulu, Om.”


“Kamu hati-hati. Makasih ya sudah menunggu Zaki.”


Cyra mengangguk lagi dan melangkah meninggalkan lorong rumah sakit dengan langkah berat.


***


“Ra, bangun!” Andini mengelus rambut Cyra yang sedang tertidur di sofa memeluk bantal sofa.


“Ra, mama masakin enak buatmu, nih. Ayo, bangun!” Kembali Andini mengelus rambut Cyra.


“Hmmmph…” Cyra hanya menggumam tak jelas dengan mata yang masih terpejam erat.


“Cyra, ayo dong. Mama baru aja pulang kok dicuekin?”


Cyra mencium aroma mie kuah kesukaannya, namun ia tidak berminat bangun.


“Mama tahu kamu kelelahan karena menunggui Zaki di rumah sakit. Tapi jangan sampe lupa makan, nanti kamu sakit. Sebelum pulang ke rumah, mama sama papa tadi mampir ke rumah sakit dan udah ngeliat kondisi Zaki.”


Kata-kata Andini sama sekali tidak membuat Cyra tergerak untuk membuka mata.


“Cyra, ayo bangun!” Andini mendekatkan mulutnya ke telinga Cyra. “Kamu nggak mau jenguk Zaki? Zaki udah siuman.”


Sontak Cyra langsung melek, tubuhnya bangkit bangun. Seiring dengan gerakan tubuhnya yang mendadak bangun, kepalanya terantuk dagu Andini.


“Aduh, Cyra hati-hati!” Andini menyentuh dagunya.


“Mama serius?” Cyra tidak menggubris kata-kata Andini yang kelihatan kesakitan menahan nyeri di dagu. “Ya udah Cyra ke rumah sakit sekarang.” Cyra berlari menaiki anak tangga menuju kamar.


Andini terbengong melihat Cyra yang langsung nagcir. Ia hanya bisa mengangkat alis melihat Cyra kembali menuruni anak tangga dengan tas menyelempang sambil mengenakan switer.


“Cyra, ini mama udah masakin enak buat kamu. Makan dulu!” Andini mengangkat mangkuk berisi mie kuah.


“Entar aja, Ma.” Cyra berseru sambil berlari keluar.


“Nah, ini nih malesnya kalau ngasih tau Zaki udah siuman. Cyra langsung kabur nggak mau makan. Entar kelaperan lagi.” Andini geleng-geleng kepala menatap mie dalam mangkuk.


***


TBC