
Senyum Zaki sontak menghilang saat menatap mamanya yang entah sudah sejak kapan berdiri di sisinya.
“Jangan dipelototin terus foto anak gadis orang. Jadi zina mata, loh!” celetuk Alya yang suka asal nyeplos setiap kali mengeluarkan kalimat.
Zaki mengembalikan posisi layar ponsel ke wallpaper.
“Kalau kamu memang ingin masalahmu segera clear, ya udah kamu maju sekarang dan temui Tante Andini. Jadilah lelaki gantleman yang berani menunjukkan sikap dengan gagah. Apapun jawaban Tante Andini dan Om Farhan, itu adalah resiko yang harus bisa kamu hadapi. Kamu harus bisa menyikapinya.”
“Makasih ya, Ma. Udah ngedukung aku. Niatku juga begitu. Ini aku mau ke sana untuk ngelurusin masalah.”
“Nah, ya udah, apa lagi? Nggak perlu kamu tunggu Cyra yang bicara tentang perasaannya ke mamanya.”
“Aku yang akan menunjukkan ketegasan itu ke Tante Andini, Ma.”
“Good!”
“Sebenarnya aku lagi ragu.” Pandangan Zaki jatuh ke lantai.
“Ragu kenapa lagi?” Alya mengernyitkan dahi, menatap wajah puteranya yang terlihat gundah.
“Ragu soal tawaran pekerjaan di Malaysia yang pernah kubilang ke Mama. Di Negara tetangga, gajinya bagus banget. Dan aku berpikir, mungkin ini adalah awal karierku.”
“Bukannya kamu udah balik lagi ke kampus lama? Kok, masih kepikiran sama penawaran baru itu?”
“Lalu bagaimana dengan Cyra kalau kamu berniat pindah ke kampus baru? Negara tetangga itu jauh, loh. Mesti ditempuh dengan pesawat.”
“Sebenernya aku sempat bilang ke Cyra soal penawaran kampus baru. Dan kampus yang dimaksud adalah Negara tetangga, tapi aku berbohong ke Cyra dengan bilang kalau kampus itu ada di Bogor. Baru kusebut Bogor aja, Cyra udah sedih, apalagi aku bilang ke Negara tetangga?” Zaki meneguk air mineral di meja. “Jujur Ma, aku sebenernya ingin menerima tawaran itu, tapi aku masih mau bertahan di sini karena Cyra. Kalau saja hubunganku dan Cyra nggak bisa dipertahankan, mungkin aku lebih memilih terbang ke Negara tetangga.”
“Kamu kan belum tahu apa jawaban Tante Andini sama Om Farhan, kok udah nyerah?”
“Aku sama sekali nggak nyerah, tapi Cyra itu perempuan, Ma. Dia nggak akan pernah bisa bersamaku selama tidak mendapat restu orang tuanya. Walinya Cyra adalah ayahnya, dan itu nggak bisa dielak lagi. Setidaknya aku tahu diri, dan mengerti bahwa hubungan kami nggak akan berkah tanpa restu orang tua.”
Alya tersenyum. “Semua keputusan ada di tanganmu, Zaki.” Pandangan Alya kini tertuju ke secarik kertas di atas meja. “Loh, itu tiket pesawat. Kamu udah boking, ya?”
“Justru itu, aku harus mengambil keputusan secepatnya. Karena waktuku nggak banyak. Mereka yang ada di Negara tetangga, sedang menungguku. Dan aku harus memberi jawaban yang pasti. Ya atau tidak.” Zaki bangkit berdiri meninggalkan mamanya yang sedang manggut-manggut.
Zaki melenggang menuju ke rumah Cyra. Mungkin saja Cyra sudah mengatakan perasaannya kepada kedua oarng tuanya, bahwa Cyra tidak menyukai Alfa. Dan ini adalah saatnya Zaki bertindak.
Zaki berpapasan dengan Andini dan Farhan di pintu depan saat kakinya sudah menginjak teras. Sepasang suami istri itu sedang mengantar ayahnya Alfa keluar. Mereka terlihat sangat akrab dengan perbincangan hangat saat akan berpisah.
Ayahnya Alfa menuruni teras, masuk ke mobilnya dan membunyikan klakson mobil saat hendak meninggalkan halaman rumah. Andini dan FArhan melambaikan tangan sambil tersenyum ramah.
TBC