
Di sisi lain, Zaki yang belum sempat mandi, sedang sibuk mengurus Sifa yang sejak tadi menangis. Zaki menimang Sifa yang entah kenapa merengek terus.
“Cup cup... Sayng, kenapa nangis terus? Apanya yang sakit? Belum bisa ngomong lagi, gimana caranya ngejawab coba.” Zaki ngomong sendiri sembari menggendong Sifa kesana kemari. Sesekali ia menggoyang-goyangkan mainan bayi ke depan wajah bocah itu, tapi tetap saja tangis Sifa tidak berhenti. Zaki mengambil dot dan menyumbatkan ujung dot ke mulut Sifa, bocah itu menjauhkan kepalanya dari botol dot dan terus menangis.
“Ya Tuhan, ini bayi kenapa ya? nangis mulu?” Zaki kebingungan. Ia bahkan sampai mati-matian memperlihatkan muka terjeleknya untuk dapat membuat Sifa tertawa, memonyongkan bibir, memeletkan lidah, dan beraneka ragam ekspresi lainnya namun Sifa tetap saja tidak mau tertawa. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Zaki membawa Sifa keluar, ke belakang rumah untuk mencari angin segar, rengekan Sifa tidak juga mereda.
“Mas, itu kenapa bayinya nagis mulu?” tanya Mbak Lulu, tetangga sebelah yang kebetulan sedang menjemur pakaian di belakang rumahnya.
“Nggak tahu nih, Mbak. Dari tadi nangis terus. Cup cup cup.”
“Lah, Cyranya kemana? Kasian banget kamu Mas ngurusin bayi begitu?”
“Mmm... Cyra lagi...” Zaki bingung mau jawab apa. Tidak mungkin ia bilang kalau dia dan Cyra sedang bertukar posisi, bisa tersebar masalah rumah tangga. Dan mereka bisa jadi selebrtis dadakan akibat di gosipin di setiap sudut komplek perumahan.
“Lagi masak?” tanya Mbak Lili.
“Eh, enggak. Lagi keluar, belanja keperluan rumah.”
“Lah kok nggak sama-sama aja pergi belanjanya?”
“Enggak, repot kalau bawa Sifa.”
“Mas Zaki nggak kerja? Tumben di rumah.”
“Enggak. Lagi cuti. Ya udah aku bawa Sifa masuk dulu.”
“Ya ya.”
Zaki masuk ke rumah dengan senyum tipis melihat Sifa yang sudah mulai diam. Bukan hanya kuwalahan mengurus Sifa, Zaki juga kerepotan saat memasak. Ditengah kegiatannya yang sedang mengiris cabe, Sifa menangis dan minta digendong. Pekerjaan dapur pun terbengkalai karena ia harus mengurus Sifa.
Setelah menimang-nimang Sifa yang lamanya bisa sampai satu jam, Zaki akhirnya bisa melanjutkan masak meski dnegan terburu-buru karena takut Sifa akan bangun sebelum ia selesai memasak. Dan benar saja, baru saja ia mematikan kompor gas dan sayur masih berada di atas kuali, terdengar suara tangisan Sifa yang terbangun akibat terkejut mendengar suara keras sutil beradu dengan kuali saat Zaki tak sengaja menaruh benda itu dengan sekali lempar akibat terburu-buru.
Tangisan Sifa semakin kuat karenaia tidak juga diambil dari ayunan.
“Ya ya, sebentar. jangan nagis dulu!” seru Zaki sambil buru-buru menuangkan sayur ke mangkuk. Sayur akan layu jika dibiarkan terlalu lama di atas kuali yang masih panas. Akibat gerakannya yang tergesa-gesa, lengannya pun meleph tersenggol kuali yang masih sangat panas. Zaki menaruh semua peralatan kotor ke wastafel dan membiarkan semua barang-barang kotor itu menumpuk di sana. Lalu ia mencuci tangan dengan sabun supaya tidak membuat kulit Sifa kepedasan jika terkena telapak tangannya bekas memegang cabe.
Sembari menyambar mangkuk sayur dan lauk yang baru saja ia masak dan meletakkannya ke meja makan, Zaki pun berlari meninggalkan dapur dan menuju kamar untuk mengambil Sifa.
TBC