
Mobil yang dinaiki Zaki putar haluan menuju ke tempat penjualan sosis seperti yang Cyra minta. Perjalanannya memakan waktu yang cukup lama sebab tempat yang dituju tidak dekat.
“Astaga, Cyra. Kadang-kadang kamu jadi manja dan nyusahin gini. nggak kasian apa suamimu jadi capek bolak-balik Cuma demi makanan,” gerutu Zaki di dalam mobil sendirian sambil membayangkan wajah Cyra yang menggemaskan. Detik berikutnya ia tersenyum. Meskipun Cyra kadang-kadang nyebelin, tapi tetap saja, Zaki tidak bisa mengurangi rasa syaangnya pada gadisnya itu. sudah begitu banyak sejarah yang meraka ciptakan bersama-sama, baik dalam suka maupun duka, bagaimana mungkin Zaki bisa mengubah perasaannya. Cyra yang nyebelin, nyusahin dan ceroboh tetaplah Cyra pilihannya.
Usai membeli sosis pesanan Cyra, Zaki menyetir mobil untuk menuju pulang. dering ponselnya di dashboard sengaja tidak dia angkat melihat ID penelepon adalah Cyra. Ia tidak mau dibebani titipan lagi oleh Cyra, baik itu disuruhbeliin makanan atau apa pun itu. lebih baik ia menghindari rengekan Cyra dengan cara tidak menjawab telepon.
Tak lama terdengar pesan masuk. Zaki membaca pesan yang dikirim oleh Cyra.
Cyra
Sekalian beliin lilin dan bunga
Mau kupakai untuk menghias meja nanti
Oke, sayang
Nah, kalimat terakhir mungkin sengaja Cyra bubuhkan untuk melelehkan hati Zaki. Tentu saja Zaki meleleh beneran dan ia tidak tega jika menolak perintaan istrinya. Meskipun dengan perasaan menggerutu, ia tetap memenuhi permintaan Cyra membeli barang-barang pesanan.
Sesampainya di rumah Alya, Zaki menenteng barang-barang belanjaan sembari memasuki rumah.
“Ra! Cyra!” panggilnya saat sudah sampai di ruang tamu. “Ini nih, makanan titipanmu udah kubeliin semua.”
“Maaf, Mas Zaki. Mbak Cyra-nya udah pergi,” sahut Bik Pay yang baru sjaa muncul dari arah dapur.
“Pergi? Pergi kemana, Bik?”
“Katanya sih pulang gitu, Mas.”
“Pulang ke rumah kami?”
“Iya. Mbak Cya bawa Sifa juga.”
“Pulang naik taksi ya, Bik?”
“Ya ampun Cyra, kok nggak bilang-bilang sih kalau pulang. tingkah Cyra makin lama makin ngegemesin banget. Ya udah aku pulang Bik.” Zaki balik badan keluar ruangan.
“Iya, Mas. Hati-hati.”
Zaki kembali masuk ke mobil. Tak lama kemudian ia sampai ke rumah barunya. Dengan langkah lebar ia memasuki rumah. didapatinya Cyratengah duduk di ruang keluarga sendirian.
Cyra mengangkat alis menatap Zaki menenteng barang-barang belanjaan.
“Ini makanan psenanmu.” Zaki meletakkan sosis dan mpek-mpek ke meja. Sementara barang lainnya dia letakkan di lantai.
“Tankh you, sayang.” Cyra langsung menyerbu mpek-mpek dan melahapnya dengan sendok yang sudah dia sediakan.
“Sifa mana?” tanya Zaki sembari menoleh ke kiri kanan tidak mendapati bocah itu.
“Tidur di kamar,” jawab Cyra kemudian menoleh ke arah Zaki dengan hidung mengerut. “Mas, kamu mandi sana. Baumu aneh.”
Zaki lupa, ia duduk di sisi Cyra hingga menimbulkan protes yang sama seperti saat di rumah Alya tadi.
“Bau? Kamu yang aneh, selama ini aku pakai parfum ini kok kamu nggak protes, kenapa baru sekarang protesnya?” Zaki bersungut dan bangkit berdiri.
Cyra tergelak. “Sori, kamu kesel ya sama Aku?”
Zaki menoleh ke arah Cyra yang tertawa. “Iya, aku kesel. Syukurlah kalau kamu sadar kamu itu ngeselin. Liat deh, kamu protes mulu, banyak permintaan, dan nggak mau kasian sama aku.”
“Maaf deh. Tapi serius aku pusing dan mual bau parfummu. Nanti kamu kembali lagi ke aku dan peluk aku kalau udah mandi dan ingat... nggak usah pakai parfum.”
Zaki mengangkat alis heran. Namun kemudian ia mengangguk, malas berdebat. Ia melenggang pergi ke kamar untuk segera menunaikan tugasnya, mandi sampai bersih.
***