
Cyra menatap kue ulang tahun yang sedang diberi lilin oleh mamanya. Cyra tidak heran dengan sikap mamanya yang suka tidak puas dengan segala sesuatu. Lihatlah, Andini masih sibuk menyusun lilin di atas kue dan mengubah-ubah posisi lilin tersebut meski sudah berkali-kali mengubahnya.
“Ma, kuenya mau diapain, sih? Dari tadi lilinnya diubah-ubah mulu?” Cyra heran melihat tingkah mamanya.
“Halah, diem kamu! Mama lagi sibuk gini, ganggu aja.” Andini melambaikan tangan ke udara, seperti orang sibuk sedunia, seakan-akan kegiatannya itu tidak bisa dingganggu. “Penampilanmu kenapa masih kayak pemulung gitu? Pake kaos oblong dan celana butut begitu? Ini bentar lagi tamu kita mau dateng. Ganti baju sana!”
“Masih jam setengah tujuh kok, Ma.”
“Bantuin Bik Mey nyusun minuman sana! Jangan malah ngerecokin mama. Nah tuh kan lilinnya malah jadi jatuh.”
“Idih Mama, yang ngejatohin juga mama, kok yang disalahin Cyra?”
“Kamu berisik terus, dih. Bikin mama bingung jadinya, kan?”
“Ini lilin yang warna biru jangan ditarok di samping, Ma. Lucu jadinya. Yang lain merah semua, jadi yang biru tarok di paling atas.” Cyra menyentuh lilin.
“E e eeeh… Jangan!” teriakan Andini membuat Cyra terkejut hingga tangannya yang sedang memegang lilin pun sontak melepasnya.
Naas, tangan Cyra malah menyenggol kue hingga kue itu cuil dan hiasannya tergores.
“Cyraaaa…! Tuh, kan. Jadi rusak kuenya!” bentak Andini kesal bukan main. “Kamu ini bisanya bikin rusuh terus. Udah dibilangin dari tadi jangan gangguin mama, masih aja gangguin. Kue mama itu mahal, tau! Sekarang jadi rusak gara-gara kamu. Sini kamu!” Andini menarik pergelangan tangan Cyra dan membawanya ke kamar WC.
Cyra terkejut melihat pintu yang ditutup dan terdengar bunyi kletek-kltetek saat mamanya mnegunci pintu dari luar.
“Maaa…. Aku kok dikunciin di kamar mandi? Bauk nih Ma.”
“Itu tuh hukuman untuk anak ceroboh kayak kamu.” Andini emosi. Kue ulang tahun sudah dipesan jauh-jau hari, harganya mahal, sekarang jadi rusak. Andini kembali ke ruang makan dan kembali melihat kue. Ya ampun, kue yang seharusnya cantik, kini malah jadi jelek gara-gara ulah Cyra. “Uuuh… Cyra memang bener-bener. Ini gimana jadinya kalau kuenya bolong segede ini?” Andini menatap frustasi pada kue besar itu.
Sementara Cyra menjepit hidungnya dengan jari menghirup aroma yang menyesakkan pernafasan. Ya ampun, ini tempat pembuangan Bik Mey kok bisa semengerikan ini?
Mau sampai kapan Cyra dikurung di sana? Tega sekali mamanya member hukuman seperti itu? Bukankah Cyra yang ulang tahun? Lalu bagimana ceritanya ulang tahun akan berlangsung jiak tanpa dirinya?
“Ma.. Bukain dong. Aku minta ampun, bauk banget nih. Mama tega banget deh sama anak semata wayang.” Cyra menggedor pintu.
Setelah mulutnya berbuih dan tak ada hasil, Cyra pun hanya bisa pasrah.
Jengah, Cyra mengambil deterjen dan mencampurnay dengan air. Ia mengaduknya hingga menghasilkan buih. Lalu menyiramkannya ke lubang WC. Ia juga menyiramkan sebagian ke lantai. Pewangi WC sudah habis, hanya deterjen yang ada di kamar mandi itu. Ya sudah, Cyra memanfaatkan barang yang ada.
TBC