PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
SN 66


Arkhan bahkan sudah sering adzan, juga ditunjuk menjadi imam karena suaranya yang bagus dan bacaannya yang fasih. sayangnya Arkhan masih berpendirian teguh pada keyakinannya dan tidak mau pindah agama meski sudah melakukan banyak hal dalam kegiatan umat Islam. Hatinya belum tergerak. Dia belajar Islam, serta menjalankan tugasnya di pondok hanyalah sebatas untuk supaya bisa dekat dengan sahabatnya. Sosok sahabat yang dia anggap sehati, seiring sejalan, dan memiliki nurani rela berkorban.


Menjelang kelulusan dari pondok, Arkhan mengaku pada ustad Bukhori kalau sebenarnya dia bukanlah seorang muslim. Ia tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak pindah agama meski selama ini ia menekuni dan mempelajari agama Islam yang semata-mata dia gunakan sebagai batu loncatan saja.


Setelah lulus dari pondok, Aran kuliah ke luar kota. Entah kemana perginya sahabatnya itu. Semenjak itu, Arkhan putus komunikasi dengan Aran. Arkhan seperti kehilangan teman bermain, kehilangan harta berharganya, juga kehilangan tempat nyender. Selama ini, Aran sudah seperti kakak, ayah, juga guru baginya. Aran, menjadi orang pertama yang membawanya memahami Islam lebih dalam.


Sampai saat ini, Arkhan merasa sangat rindu pada Aran, sahabat yang pertama mengenalkannya dengan siapa itu Allah, meski sampai saat ini pintu hati Arkhan belum terketuk untuk mendekat pada Allah. Namun ia selalu berharap semoga bisa bertemu dengan Aran.


Zalfa terharu mendengar cerita Arkhan. Meski awalnya niat Arkhan mengenal Islam hanya karena ingin selalu dekat dengan sahabatnya yang bernama Aran, namun jelas terlihat begitu besar keinginan Arkhan untuk mendalami ilmu agama islam. Terbukti dari Arkhan yang begitu fasih dengan lafaz adzan, fasih dengan ayat-ayat suci Al Qur’an, dan memahami hukum-hukum agama Islam. Sampai dengan kesadarannya sendiri, Arkhan berjuang meraih ilmu dengan memasuki pondok pesantren yang di dalamnya sangat ketat dengan peraturan dan dipadati dengan rutinitas keagamaan. Manusia yang dilahirkan muslim saja belum tentu berkeinginan sekuat itu. Tapi Arkhan, dia terlahir dari keluarga non muslim. Tapi kegigihannya dalam menimba ilmu agama sangat tinggi. Inilah jawabannya kenapa ia terlihat sangat mengenal ustad Bukhori, ternyata ia adalah salah satu santri di pondok pesantren milik Ustad Bukhori. Inilah jawabannya kenapa Arkhan mengganti nama Jonathan Yoseph menjadi Ibadullah Al Arkhan.


“Arkhan, lafazkanlah ayat yang menjadi mahar itu untukku sebelum kamu melafazkannya di depan para saksi.”


Kulit tubuh Zalfa kembali meremang. Ia tidak menyangka Arkhan telah menghafalnya. Pelan permata bening di kedua sudut pelupuk matanya menggenang dan menetes. Jemari lentik Zalfa menghapus tetes-tetes air mata di pipi setelah Arkhan selesai membacakan ayat tersebut. Kini, pelajaran agama yang Arkhan dapatkan di pondok akan menjadi pegangannya, pelajaran itu akan dia praktikkan dalam kesehariannya. Begitulah yang ada di pikiran Zalfa.


“Sekarang, pakailah cincin ini!” Arkhan menyodorkan kotak cincin yang tempo hari ia tawarkan pada Zalfa. Nada otoriter terdengar jelas dalam kalimatnya. Sorot matanya menambah kesan otoriter.,


Zalfa tertegun dan terdiam. Namun detik berikutnya tangannya menjulur maju, lalu menyentuh cincin itu. Agak ragu, Zalfa menyematkannya di jari manis sebelah kiri.


***


TBC