
Zaki turun dari mobil kemudian memasuki rumah. Ia melihat pemandangan yang berbeda di ruangan tamu, dimana di sana ada kedua orang tuanya, juga kedua orang tua Zena yang menatap tangisan Zena.
Sejurus pandangan kini tertuju ke arah Zaki yang baru masuk.
Tiba-tiba suasana hening seketika. Tangisan Sifa pun terhenti.
Zaki mendekat pura-pura tanpa dosa.
“Zaki, ini kenapa? Kok, Zena nangis gini?” Tanya Raya, mamanya Zena.
Zaki mengangkat bahu. “Sepertinya Zena terkena sindrom nangis. Jadi bawaannya nangis terus. Sejak tadi di jalan dia nangis aja kerjanya,” jawab Zaki rileks. Dengan santainya, ia duduk di sofa. Kemudian menyomot kacang bawang di dalam toples dan mengunyahnya dengan nikmat.
“Zaki jangan sambarangan ngomong,” sahut Alya.
Zaki diam saja diprotes mamanya.
“Masak sih ada sindrom aneh begitu?” Raya bingung. Ia memegang lengan putrinya dan mengelus-elusnya pelan. “Ada apa sih, sayang? Kok, pulang-pulang malah nangis begini?”
“Aku nggak mau nikah sama Mas Zaki,” celetuk Zena sembari melepas telapak tangannya yang sejak tadi menutup wajahnya. Wajahnya sembab oleh air mata. “Mama gimana sih, kenapa ngejodohin aku sama cowok pelit, kikir, bakhil kayak Mas Zaki?” lanjut Zena tanpa piker panjang.
Zaki tersedak dan batuk. Ia meraih air minum di meja dan meneguknya. “Zena, kamu kok ngomongnya gitu? Jangan ngajak rebut dong.”
“Enggak. Pokoknya aku nggak mau nikah sama Mas Zaki. Jorok lagi.”
“Zena, kamu nggak boleh ngomong begitu. Nggak sopan. Kamu sadar kamu sedang ngomong sama siapa? Itu calon suami kamu,” ucap Raya merasa sungkan terhadap Zaki dan keluarganya.
Seisi ruangan bertukar pandang melihat kepergian Zena.
“Nak Zaki, maafin sikap Zena. Jangan dimasukin ke hati. Kamu nggak apa-apa, kan? Besok bisa kita bicarakan lagi masalah ini. semoga pernikahan kalian akan secepatnya dilangsungkan,” ujar Raya.
“Syukurlah kalau Tante masih mau ngelanjutin hubungan ini. Tapi Zena udah bener-bener membatalkan perjodohan ini, bahkan dia tadi di mobil juga bilang kalau dia nggak mau nikah sama aku, Tan. Aku nggak bisa apa-apa karena itu udah keputusan Zena.”
Raya tampak menyesali kejadian itu.
“Aku juga nggak bisa memaksakan Zena untuk tetap mau sama aku kan ya, Tan?” lanjut Zaki. “Aku pasrah Tan. Kalau memang Zena menolak aku, ya udah aku nggak apa-apa. Semoga Zena dapet jodoh yang jauh lebih baik dari aku.”
“Sebenernya ini masalahnya apa?”
“Intinya Zena nggak suka sama aku karena katanya aku pelit dan jorok. Ya udah itu aja. Padahal menurutku aku tuh nggak kayak gitu. Tan, aku sedih dan patah hati banget nggak jadi nikah sama Zena, tapi mau gimana lagi. kalau itu udah jadi keputusan Zena, aku nggak bisa paksain dia. aku nggak mau rumah tanggaku sama Zena nanti malah jadi berantakan gara-gara kami nggak cocok. Tante tentu nggak mau anak tante nggak bahagia dalam pernikahannya kan? Ya udah, kita terima aja keputusan Zena. Lagi pula Zena itu cantik, masih muda, aku yakin dia bakalan dapet jodoh yang lebih baik, yang masih bujangan tentunya.” Zaki cengar-cengir. Ah, apa yang baru saja dia katakan? Semuanya bertolak belakang dengan kenyataan. Boleh nggak Zaki ngakak sekarang?
Raya akhirnya mengangguk.
“Ya sudahlah, kalau memang Zaki dan Zena tidak berjodoh, kami juga tidak bisa memaksakan. Maafkan kami, maafkan sikap Zena. Permisi,” ucap Fahri yang diangguki oleh Surya dan Alya.
Fahri dan istrinya berpamitan dan pergi meninggalkan rumah itu. Alya mengantar sampai ke pintu.
TBC