
“Bik, minta nomer Nyonyamu, dong!” pinta Cyra.
“Nyonya? Maksudnya Bu Alya, ya?”
“Iya.”
“Tunggu sebentar saya ambil ponsel saya dulu di kamar.”
“Jangan lama-lama ya, Bik.”
“Siap, Mbak.” Bik Pay berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Cyra yang langsung menghempaskan tubuh duduk di sofa.
Tak lama Bik Pay muncul membawa ponsel tulalitnya alias ponsel model jaman dulu yang jenis game-nya adalah ular-ularan. Hp model begitu dibanting tujuh kali juga masih baik-baik saja, bahkan terendam air juga masih mau menyala.
“Paten hp punya Bibik,” celetuk Cyra menatap bik Pay yang sedang sibuk mencari nomer di ponselnya.
“Ini hape kesayangan Bibik, Mbak. Bibik mah nggak mau ganti. Kalau pakai yang model sekarang, yang disentuh-sentuh itu mah Bibik nggak ngerti cara pakainya.”
“ah, Bibik katrok, deh. Masak masih demen apakai yang model pubakala begitu. Kalo nggak tahu cara pakai hape model baru, sini biar Cyra ajarin.”
“Enggak mau, Mbak. Enakan pakai yang begini, gampang, nggak ribet lagi. Nah ini nomer Bu Alya ketemu.” Bik pay menunjukkan nomer di ponselnya kepada Cyra.
Segera Cyra menyalin nomer milik orang yang sering ia sebut calon mertua itu. Setelah menyalin, tangan Cyra gemetaran saat akan memencet nomer tersebut. Perasaannya berkecamuk, tapi ia nekat memencet nomer tersebut meski dengan degub jantung yang tak menentu.
Bagaimana Cyra tidak gugup saat akan berkomunikasi dengan calon mertuanya? Dan lagi, tujuannya menelepon adalah untuk menannyakan Zaki. Pucuk hidungnya memerah akibat malu sendiri.
“Telpon nggak ya?” Cyra ragu-ragu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tapi telepon sudah terhubung, ya sudah lanjutkan saja. Cyra menekan tombol loudspeaker dan mendengarkan bunyi tut tut tanda panggilan tersambung, matanya terpejam.
“Mbak mau ngapain?” bisik Bik Pay takut sambungan telepon telah terhubung sehingga ia mengecilkan suaranya.
“Mau nanyain Zaki,” jawab Cyra masih dnegan mata terpejam menikmati degupan jantungnya yang tidak karuan. Gini amat mau ngobrol sama camer?
“Ooh…” Bik Pay mengangguk.
“Sopan nggak ya kira-kira kalau aku telepon Mamanya Zaki buat nanyain Zaki? Malu-maluin nggak?” Cyra membuka mata dan menatap Bik Pay.
“Enggaklah, Cyra. Nggak malu-maluin. Tante malah seneng ditelepon sama kamu. Ada paa, Cyra?”
Hah? Cyra membelalak menatap sumber suara yang menjawab berasal dari speaker ponselnya, durasi telepon di layar sudah berjalan. Cyra nyengir sambil memukul-mukul sofa.
Sialan si Bibik, enak banget ngetawain orang lagi galau begini. Cyra menggigit bibir bawah. Mukanya pasti memerah sekarang. Untung saja tidak ada cermin di depannya yang bisa menunjukkan rona merah di wajahnya itu.
“E eh… Tan, udah tersambung, ya?” Cyra cengar-cengir.
“Ada apa, Nak Cyra?” sahut Alya di seberang dengan suara bersahabat.
“Mau nanyain Zaki, ya? Emangnya kamu nggak ketemu sama Zaki?”
“Enggak, tan. Zaki kemana ya? Apa bener Zaki ke Bandung?”
“Loh, apa Zaki nggak ngabarin kamu kalau dia ada rencana pergi liburan ke Bandung?”
“Enggak, Tan. Ponselnya juga nggak aktif sampe sekarang.”
“Masak, sih? Tante malah belum ada ngubungin Zaki.”
“Coba kamu cek di rumah, Zakinya ada nggak?”
“Sekarang aku lagi di rumah Tante dan Zaki nggak ada, mobilnya juga udah nggak ada.”
“Lho lhooo… Mungkin Zakinya udah berangkat. Tapi kok ya nggak ngabarin kamu, ya?”
Cyra mendengus, ia menggigit ujung jari telunjuk.
“Ya udah, nanti kalau hape-nya Zaki udah aktif, biar Tante omelin Zaki. Kok, pergi nggak ngabarin kamu. Anak muda sekarang gitu ya, baru aja ditinggal sebentar udah kalang kabut.”
Nah, kan kena ledek. Muka Cyra memanas jadinya.
“Ya udah, Tan. Makasih infonya.”
“Iya, sama-sama.”
Cyra mematikan sambungan telepon. Manik matanya kini tertuju ke luar jendela. Hujan tiba-tiba sudah turun begitu derasnya. Ia melangkah, membuka pintu dan berdiri di teras menatap hujan yang turun begitu deras.
TBC
KLIK LIKE BIAR SEMANGAT NGETIK YAA