PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
127. Kehilangan


“Lawan saya, Pak Zaki! Bukankah Anda seorang dosen yang memiliki banyak kuasa? Kenapa sekarang Anda tidak berdaya? Dimana Bapak Zaki yang tersohor itu?” Alfa berhenti melakukan aksinya. Ia memutari tubuh Zaki yang tergeletak, lalu kembali jongkok di hadapan Zaki dan menunjukkan pisau lagi.


“Anda merindukan ini?” Alfa mengoles-oleskan pisau itu ke wajah Zaki. “Anda harus merasakan seperti apa rasanya teraniaya, tapi mungkin ini tidak seberapa karena yang Anda rasakan adalah teraniaya fisik. Berbeda dengan saya yang teraniaya batin dan hati.” Alfa menghunuskan pisau ke punggung telapak tangan Zaki.


Sontak Zaki berteriak merasakan sakit yang luar biasa. Sekujur tubuhnya gemetar menahan rasa sakit. Rasa sakit kian membuat organ tubuhnya menjadi lemas, tenaganya seperti hilang entah kemana. Seluruh tubuhnya sudah lemah, lemas dan tenaganya seperti terkuras, ditambah rasa sakit yang baru saja Alfa ciptakan, membuat organ tubuhnya semakin lemas. Entah bagian tubuh mana yang harus ia keluhkan, semuanya sakit.


Dengan ringannya, Alfa mencabut pisau dari punggung tangan Zaki lalu mengangkat pisau itu ke atas. Darah segar menetes-netes mendarat di lengan Zaki yang bergetar.


“Ini baru permulaan. Lusa saya akan datang lagi ke sini untuk memberi hadiah yang jauh lebih menarik. Tunggulah di sini. Tidurlah dengan tenang, nikmatilah rasa sakit itu dengan lapang dada. Oke, sekarang beristirahatlah.” Alfa berjalan meninggalkan ruangan.


Zaki menatap pintu yang tertutup, terdengar suara kunci diputar. Alfa mengunci pintu dari luar.


Ya Tuhan, di manakah sekarang dirinya berada? Adakah orang yang dikirim Tuhan untuk menolongnya?


Tubuh Zaki meringkuk, membentuk busur panah. Ia ingin menggapai luka di punggung tangan kirinya. Namun untuk mengangkat tubuhnya sendiri saja, ia sudah sangat kesulitan. Setiap kali ia menggerakkan tubuh, rasa ngilu menyerang sekujur tubuhnya yang sakit.


Posisinya masih sama, menelungkup. Hanya kedipan mata dan helaan nafasnya yang menjadi saksi bahwa nyawanya masih ada.


***


Cyra melempar tasnya ke sofa. Sementara pandangan matanya fokus ke ponsel yang baru saja ia beli. Sesekali ia menggerutu saat beberapa kali menempelkan ponsel ke telinga dan mendapat jawaban berupa ocehan dari operator, mengatakan kalau nomer yang ia telepon sedang tidak aktif.


“Zaki kemana sih? Kok, tumben banget hapenya nggak aktif? Nyebelin. Masak sih Cuma demi supaya aku konsentrasi belajar, lantas dia sampe matiin ponsel segala. Kangen tauk!” Cyra menyerah dan tidak lagi menelepon Zaki. Ia berjalan ke dapur.


“Biiiik…!” panggil Cyra saat ia sudah berada di ruangan makan sambil menyomot nuggeat hangat yang tersedia di meja makan.


“Ya, Mbak Cyra!” Bik Mey tergopoh dari arah dapur menemui Cyra.


“Mama sama papa kemana?”


“Katanya ada urusan gitu, tapi nggak bilang mau kemana. Nginep gitu, sih. Katanya suruh nyampein ke Mbak Cyra.”


“Nggak ada. Memangnya kenapa?”


“Nomer Zaki nggak aktif mulu. Masak sih dia tega matiin hape Cuma karena demi supaya aku konsentrasi belajar. Seenggaknya kan aku juga butuh kabar dari dia.”


“Cieee… Orang yang lagi kasmaran memang begitu ya, bawaannya kangen terus. Pengen komunikasi mulu.”


“Ya iyalah, Bik. Zaki itu kan ngangenin. Perasaanku tuh nggak enak aja bawaannya. Kali aja Zaki kenapa-napa.”


“Ya udah, datengin aja rumahnya. Kan lima langkah aja nyampe.”


“Sip. Bibik cerdas.” Cyra mengangguk sembari meneguk air mineral. Lalu bergegas keluar rumah. Ia menyeberangi jalan lalu memasuki pintu pagar rumah Zaki.


Dengan sekali dorong, pintu terbuka dan Cyra memasuki rumah itu.


“Zaki!” panggil Cyra dengan pandangan mencari-cari.


“Eh, Mbak Cyra. Mas Zaki nggak ada di rumah, Mbak,” ujar Bik Pay yang baru saja muncul dari arah dapur. “mobilnya juga nggak ada di garasi. Dengar-dengar, Mas Zaki mau liburan ke Bandung. Itu yang saya dengar dari obrolan antara Mas Zaki sama kedua orang tuanya.”


“Hah? Ke Bandung? Buset, tega banget Zaki pergi nggak bilang-bilang.”


“He heee… Kata MAs Zaki, semasa Mbak Cyra ujian, dia mau menjauh dulu dari Mbak Cyra. Biar Mbak konsentrasi belajar dan nggak nyontek. Gitu katanya.”


“Iiiihhh… Zaki nyebelin. Bikin malu aku aja deh. Kata-kata nyontek di bawa-bawa.” Cyra mendengus. “Apa bener Zaki udah pergi ke Bandung, Bik?”


“Tadi pagi rundingan sama kedua orang tuanya sih gitu. Nggak tau kapan perginya.”


Cyra merasakan sesuatu mencelos dari hatinya. Seperti ada yang lolos, antara sedih dan sebel. Kenapa Zaki harus pergi tanpa mengabarinya?


TBC