PACARKU DOSEN

PACARKU DOSEN
46. Sepi


“Ra, dicariin, tuh!” Rere menyenggol lengan Cyra.


“Siapa?” Cyra masih pada posisi yang sama. Kepalanya menggeletak di meja. Kampus terasa membosankan setelah kepergian Zaki. Tak ada lagi penyemangatnya kuliah. Situasi benar-benar berubah bagi Cyra. Kenapa Zaki harus muncul sebagai dosen di kampus itu jika akhirnya harus pergi? Dulu, saat Zaki belum ada, kampus yang notabene identik dengan setumpuk tugas, terasa monoton namun cukup mengasikkan bagi Cyra. Dan setelah kehadiran Zaki, situasi jauh lebih berubah. Terutama kebahagiaan, Cyra merasakan hal itu. sekarang, setelah kepergian Zaki, sitausi kampus yang Cyra rasakan tidaklah seperti sedia kala, melainkan lebih suram, serem, melebihi kuburan.


Bahkan disaat sedang dalam keadaan seramai ini, kok rasanya tetap sepi? Sama seperti lagu ‘Kosong’ yang diciptakan oleh Ahmad Dhani atau Dhani Ahmad,


Di dalam keramaian aku masih merasa sepi, sendiri memikirkan kamu, kau genggam hatiku dank au tuliskan namamu, kau tulis namamu


Tubuhku ada di sini, tetapi tidak jiwaku, kosong yang hanya kuraskaan, kau telah tinggal di hatiku.


Kamu seperti hantu, terus menghantuiku, ke mana pun tubuhku pergi, ka uterus membayangi aku


Salahku biarkan kamu, bermain dnegan hatiku, aku tak bisa memusnahkan kau dari pikiranku ini…


Ah, lagu itu berani-beraninya muncul sayup-sayup di kepala Cyra. Mirip kayak di sinetron-sinetron, pas lagi galau-galaunya, terdengar lagu mengiringi. Begitulah yang Cyra rasakan.


“Ra, ada yang nyariin!” Lagi-lagi Rere menyenggol lengan Cyra.


Cyra malas mengangkat kepala. “Siapa, sih?”


“Pak Zaki.”


Sontak kepala Cyra langsung terangkat, mencari-cari keberadaan Zaki. “Mana? Mana?”


“Hua huaa ha haaaa…” Rere tergelak.


Cyra menoyong kepala Rere, seneng banget ngeliat temen galau.


“Biasanya kan lo yang hobi ngerjain orang. Sekarang gentian. Emang enak?” Rere menjulurkan lidah.


Cyra membuka aplikasi WhatsApp, membaca-baca ulang pesan yang Zaki kirim padanya. Zaki tidak berbohong, pria itu benar-benar terus mengiriminya pesan, baik ketika Cyra baru saja sampai di kampus, ketika Cyra selesai kelas, dan di waktu-waktu Cyra sedang senggang. Zaki benar-benar hafal waktu luang Cyra, kapan Cyra sampai di kampus, dan kapan Cyra selesai kelas.


“Kangen gue sama Zaki,” lirih Cyra.


“Preeeet… Bukannya kalian bisa ketemuan setiap hari, ya? Rumah aja deketan. Tinggal ngelongok depan rumah aja langsung keliatan. Kayak nggak bisa ketemu aja.”


“Bedalah, Re. ketemu di kampus itu rasanya kayak gimanaaaaa gitu. Tenteram hati gue.”


“Lebay lu ah.”


“Ini beneran.” Cyra menunjukkan muka serius. “Apa lagi pas dia ngisi materi, duuuh… semangat banget gue.”


“Apaan sih lo? Ranjang mulu yang dipikirin.” Lagi-lagi Cyra menoyong kepala Rere dan dibalas dengan gelak tawa oleh si pesek.


Cyra terbelalak melihat ponselnya bordering, video call dari Zaki. Muka ganteng Zaki terpampang di layar ponsel.


Cepat-cepat Cyra menggeser tombol hijau. Panggilan terhubung. Cyra melihat Zaki sedang duduk di dalam mobil, mengenakan kemeja putih, rambut diminyaki, dan rapi sekali.


“Kamu mau kemana?” Tanya Cyra tanpa berbasa-basi. “Kok, naik mobil? Rapi banget lagi?”


“Mau ke Universitas Sejahtera. Ada panggilan di sana.”


“Serius? Kamu mau jadi dosen di sana?”


Sebelum menjawab, Zaki menatap wajah di samping Cyra yang matanya kayak kelilipan, siapa lagi kalau bukan Rere, pengagum Zaki. “Belum tahu. Doain aku berhasil dan sukses, ya! Semoga jebol bisa jadi dosen di sana.”


“Enggak. Aku nggak mau doain kamu ketrima di universitas itu. Aku pengennya kamu tetep jadi dosen di kampus ini.” Cyra manyun, memperlihatkan ekspresi galau tingkat akut.


Zaki malah tersenyum. Muka galak Zaki kini lebih banyak senyum.


“Meski pindah kampus, aku kan tetap berstatus dosen. Apa bedanya?” Zaki tampak gemas menatap wajah Cyra yang jadi cembung saat di layar ponsel.


“Kamu kan dosenku, kalau kamu pindah kampus, kamu bukan lagi dosenku.”


Zaki geleng-geleng kepala.


“Emangnya kamu udah sembuh?” tanya Cyra.


“Udah. Ya udah kututup dulu. Entar sambung lagi.”


Cyra mengangguk. Komunikasi diputus.


“Uwuwuuuuw… So sweeeet. Nggak pake muah muah-an segala?” Rere trsenyum lebar.


Cyra hanya mnegusap muka Rere dengan telapak tangannya.


TBC


Mohon klik like di setiap episodenya.


Bentuk dukungan pada penulis